Petani Tradisional Cina Beralih ke Teh Organik

Para petani teh tradisional Cina terpaksa mengembangbiakkan produknya dengan pola tanam organik. Ekspor teh Cina ke Eropa menyusut 32,18 persen sejak Uni Eropa memberlakukan standar ketat teh nonpestisida.

oleh Liputan6Diterbitkan 15 April 2005, 07:59 WIB
Liputan6.com, Sichuan: Selama berabad-abad Cina dikenal sebagai salah satu negara penghasil teh terkemuka dunia. Lebih dari 38 ribu penduduk Gunung Emei, Provinsi Sichuan, Cina, menggantungkan hidup dari industri pengolahan daun teh hijau. Namun, akhir-akhir ini, bisnis tradisional para petani teh ini terancam kehadiran teh organik atau teh yang tumbuh tanpa pupuk buatan, pestisida, dan bahan kimia lain.

Agar tetap bertahan, para petani Sichuan mulai mengubah pola penanaman dari teh biasa ke teh organik. Perbedaan pengembangbiakan teh organik dengan teh biasa terletak pada lokasi penanaman yang lebih tinggi. Teh organik harus tumbuh minimal di ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut. Di ketinggian itulah, tumbuhan tidak dapat terkena bahan kimia maupun radiasi.

Ekspor teh cina ke Eropa menurun 32,18 persen sejak Uni Eropa memberlakukan pelarangan penggunaan pembasmi hama pestisida dalam industri teh, tiga tahun silam. Uni Eropa juga mengeluarkan peraturan standar ketat yang harus diterapkan pada pemrosesan, pengemasan, dan pendistribusian, untuk memastikan bahwa teh jenis ini bebas polusi. Kondisi ini memukul bisnis para petani teh di Gunung Eme. Mereka mengharapkan perhatian pemerintah Beijing agar bisa bersaing dengan industri-industri besar sejenis.(ZIZ/Idr)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya