Seorang Korban Selamat Menghubungi <i>Handphone</i> Pamannya

Seorang korban menghubungi pamannya lewat telepon genggam setelah sekitar 60 jam terkurung dalam reruntuhan rumahnya. Dia terperangkap bersama ayahnya yang sudah meninggal serta ibu, adik, dan pembantunya.

oleh Liputan6Diterbitkan 31 Maret 2005, 21:00 WIB
Liputan6.com, Gunung Sitoli: Seorang korban gempa bumi di Kota Gunung Sitoli, Kabupaten Nias, Sumatra Utara, menghubungi pamannya lewat telepon seluler. Pria ini sudah 60 jam lebih tertimbun reruntuhan rumahnya. "Dia minta tolong, dia bilang ayahnya sudah meninggal," kata sang paman yang berada di sekitar rumah keponakan kandungnya ini di Gunung Sitoli, Kamis (31/3).

Si paman mengaku mendapat telepon dari korban sekitar pukul 11.00 WIB. Dia segera menghubungi tim dari Prancis untuk meminta bantuan. Hingga berita ini ditulis, tim evakuasi belum bisa mengeluarkan korban. Sebab, belum ada peralatan yang memadai untuk mengeluarkan para korban.

Sementara para keluarga yang selamat berteriak memanggil nama-nama mereka yang masih terkubur reruntuhan. Korban tertimbun bersama bersama ayah, ibu, seorang adik perempuannya, dan seorang pembantu rumah tangga. Hingga kini, warga Nias lainnya yang selamat juga masih mencari kerabat masing-masing di tengah reruntuhan bangunan.

Anggota TNI juga terus berupaya mengeluarkan para korban yang yang terkurung di antara reruntuhan rumah dengan peralatan seadanya. Pekerjaan ini cukup sulit. Di sisi lain, peralatan modern belum sampai di lokasi bencana. Kondisi ini dikhawatirkan membuat pencarian korban berlangsung lebih lama dari perkiraan pemerintah. Sebelumnya, pemerintah mengatakan, evakuasi dapat diselesaikan dalam hitungan hari.

Tim relawan dari Singapura juga mulai membantu mengevakuasi korban yang selamat dengan helikopter Chinook. Korban yang membutuhkan pertolongan medis itu diangkut ke Medan, Sumut. Laporan resmi pemerintah menyebutkan, sampai Kamis ini, 279 jenazah telah dimakamkan.

Di sisi lain, kondisi para korban yang selamat sangat memprihatinkan. Gempa berkekuatan 8,7 skala Richter pada Senin silam itu menghancurkan saluran air, jaringan arus listrik dan telekomunikasi. Hingga kini, warga kekurangan makanan dan air minum.

Warga ramai-ramai mencari sumber air. Karena sumber air bersih sangat minim, warga terpaksa menggunakan air untuk mandi, cuci, dan kakus sebagai air minum [baca: Warga Nias Membutuhkan Bantuan Makanan].

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengunjungi salah satu wilayah yang paling parah diguncang gempa di Kota Gunung Sitoli, tadi siang. Presiden yang didampingi istrinya Kristiani Herawati dan sejumlah anggota kabinet berkeliling di lokasi bencana [baca: Presiden Tiba di Nias].

Sebelum meninggalkan salah satu lokasi, seorang gadis kecil mendekati mobil yang membawa Presiden dan Ibu Ani. Bocah ini menangis sambil meminta pertolongan. "Bantu kami Ibu," kata dia terisak. Ibu Ani mengusap-usap pundak gadis ini sebelum mobil meninggalkannya.

Dalam perjalanan, rombongan Presiden berhenti di sebuah masjid dan berdoa untuk keselamatan para korban. Presiden juga menyempatkan diri berdoa bersama seorang pemuka agama Katolik di sebuah gereja yang digunakan sebagai tempat persemayaman jenazah korban yang beragama Kristen.

Jumlah pasien yang dirawat di sejumlah rumah sakit juga terus bertambah. Para pasien kebanyakan menderita patah tulang dan luka-luka tertimpa rontokan bangunan. Para korban dievakuasi ke tiga rumah sakit di Medan, yakni RS Santa Elisabeth, RS Gleneagles, dan RS Advent.

RS Santa Elisabeth merawat 27 korban. Masing-masing adalah Ucok Jamasih, Eliadi Jamasih, Saridina Jamasio, Nuru Hasa, Masriani Alwono, dan Arjun Amasih. Ada juga Hasaili Zebua, Aro Jedufu Zebua, Kasiati Zebua, dan Pona Aro Zebua. Selanjutnya, Masria Batee, Nursia Batee, dan Seven Kurniawan Batee. Korban lain, Lutina Endraha, Abadi Endraha, dan Salomas Endraha. Sundarni Waroho, Eliasa Laole, Asnawati Laole, Nia Asia Naroha, Nidarwati Fura, Pastor Barabas, Suster Irene Daela, Imam Riski, Masidaha Pasaribu, Masidahanyah Pasaribu, serta Samsinar Koto.

Sedangkan RS Gleneagles Medan merawat 18 korban gempa. Masing-masing Lukas (Amir Mahmud), Brigita Zakoto, Kristina Zakoto, Verlice, Rodentus Halin, Trisnawati, Kristian Halim, Fatilia, Nurjana, Richard, dan Sofyan. Kemudian Calvin, Ilham Dachi, Vonny Harafa, Albert M. Sinaga, Hasan, Eddy Wongso, dan Ely Susilo. Sedangkan Keluarga Almasri Lasih bersama istri dan dua anaknya dirawat di RS Advent.(TNA/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya