Menaklukkan Tebing Beku Pegunungan Alpen

Air terjun beku dan tebing es setinggi 150 meter di Pegunungan Alpen adalah surga bagi pemanjat tebing Francois Damilano dan Stephane Husson. Padahal, air beku murni itu sewaktu-waktu bisa meleleh.

oleh Liputan6Diterbitkan 24 Maret 2005, 08:44 WIB
Liputan6.com, Prancis: Air terjun beku dan tebing es yang membentuk menara di wilayah Pegunungan Alpen adalah surga bagi Francois Damilano dan Stephane Husson. Wilayah curam di Pegunungan Alpen menjadi tempat eksplorasi potensi, keterampilan, dan nyali dua warga Prancis ini sebagai pemanjat tebing.

Sudah sepuluh tahun Damilano dan Husson menggeluti olahraga berbahaya ini. Air terjun beku setinggi 150 meter di Pegunungan Alpen di ketinggian 2.000 meter ini menjadi lokasi favorit mereka.

Memanjat air terjun beku tidak pernah membosankan. Sebab, warna dan tekstur tebing beku yang sudah dianggap wahana rekreasi ini berubah setiap hari. Padahal, memanjat air terjun beku sangat berbahaya. Sewaktu-waktu air terjun beku dapat meleleh dan menimpa mereka.

Memanjat tebing es bukan sekadar olahraga. Olahraga tantangan ini menjadi kombinasi antara teknik memanjat dan penguasaan teknologi. Tidak hanya kondisi fisik yang prima, otak encer pun diperlukan dalam petualangan ini.

Teknik memanjat diperlukan untuk mengetahui langkah-langkah yang tepat dalam menghadapi permukaan sisi tebing yang bervariasi dan memiliki tingkat kesulitan yang berbeda. Teknik juga dibutuhkan untuk dapat memanjat dengan gerakan seminim mungkin sehingga menghemat tenaga dan dapat berhasil mencapai puncak.

Sedangkan teknologi perlu dikuasai pemanjat khususnya mengenai hukum gravitasi. Para pemanjat tebing beku harus memahami seluk beluk teknologi jenis baru dan pakaian khusus panjat tebing yang lahir dari inovasi teknologi.(TNA/Idr)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya