Liputan6.com, Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memerintahkan Kapolri Jenderal Da`i Bachtiar dan Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto untuk menggelar operasi intelijen di Ambon, Maluku. Operasi itu untuk menghindari melebarnya aksi kekerasan menjadi konflik suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) menyusul insiden pelemparan granat di angkutan kota.
Menurut Wakil Presiden Jusuf Kalla kepada sejumlah wartawan di Istana Merdeka, Selasa (22/3), Presiden, Wapres, Panglima TNI dan Kapolri langsung rapat setengah jam setelah kejadian. Dalam kesempatan itu juga menurut Kalla, Kapolri Da`i langsung menelepon Kapolda Maluku dan Panglima TNI mengontak Panglima Komando Daerah Militer Pattimura untuk melaksanakan operasi intelijen.
Kapolres Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease Ajun Komisaris Besar Polisi Leonidas Braksan menuding, pelemparan granat itu didalangi anggota separatis Republik Maluku Selatan (RMS). Kelompok ini sengaja untuk memprovokasi warga menjelang peringatan ulang tahun RMS pada 25 April mendatang.
Dalam operasi yang digelar beberapa waktu silam, polisi menyita sejumlah bendera RMS dan berbagai atributnya. Sejumlah senjata api dari rumah-rumah warga yang diduga sebagai anggota atau simpatisan RMS, juga disita. Namun, seperti tahun-tahun sebelumnya, anggota RMS tetap melakukan serangkaian kegiatan untuk menyambut hari jadinya [baca: Empat Anggota RMS Ditangkap Polisi].
Aktivitas warga Kota Ambon hingga sore ini sudah berjalan normal. Namun, sebagian besar warga yang ditemui SCTV mengaku masih khawatir akan terus berlanjut menjadi aksi kekerasan. Mereka meminta polisi segera menangkap para pelaku.
Sejauh ini Polda Maluku telah memeriksa 12 saksi. Satu di antara mereka identitasnya masih dirahasiakan. Kemungkinan, satu saksi ini akan menjadi tersangka [baca: Belasan Saksi Ledakan Granat Ambon Diperiksa].(YYT/Tim Liputan 6 SCTV)
Menurut Wakil Presiden Jusuf Kalla kepada sejumlah wartawan di Istana Merdeka, Selasa (22/3), Presiden, Wapres, Panglima TNI dan Kapolri langsung rapat setengah jam setelah kejadian. Dalam kesempatan itu juga menurut Kalla, Kapolri Da`i langsung menelepon Kapolda Maluku dan Panglima TNI mengontak Panglima Komando Daerah Militer Pattimura untuk melaksanakan operasi intelijen.
Kapolres Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease Ajun Komisaris Besar Polisi Leonidas Braksan menuding, pelemparan granat itu didalangi anggota separatis Republik Maluku Selatan (RMS). Kelompok ini sengaja untuk memprovokasi warga menjelang peringatan ulang tahun RMS pada 25 April mendatang.
Dalam operasi yang digelar beberapa waktu silam, polisi menyita sejumlah bendera RMS dan berbagai atributnya. Sejumlah senjata api dari rumah-rumah warga yang diduga sebagai anggota atau simpatisan RMS, juga disita. Namun, seperti tahun-tahun sebelumnya, anggota RMS tetap melakukan serangkaian kegiatan untuk menyambut hari jadinya [baca: Empat Anggota RMS Ditangkap Polisi].
Aktivitas warga Kota Ambon hingga sore ini sudah berjalan normal. Namun, sebagian besar warga yang ditemui SCTV mengaku masih khawatir akan terus berlanjut menjadi aksi kekerasan. Mereka meminta polisi segera menangkap para pelaku.
Sejauh ini Polda Maluku telah memeriksa 12 saksi. Satu di antara mereka identitasnya masih dirahasiakan. Kemungkinan, satu saksi ini akan menjadi tersangka [baca: Belasan Saksi Ledakan Granat Ambon Diperiksa].(YYT/Tim Liputan 6 SCTV)