Liputan6.com, Jakarta: Penduduk Jakarta sebaiknya berhati-hati dalam mengkonsumsi air. Sebab, dari seluruh sumber air yang dikonsumsi masyarakat Ibu Kota, hanya 58 persen yang layak dari sisi kesehatan. Sedangkan sisanya tak layak untuk diminum. Sehingga bisa menimbulkan berbagai penyakit. Demikian penegasan Direktur Jenderal Penyehatan Air dan Pengamatan Limbah Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Abdullah Muthalib, baru-baru ini, di Jakarta.
Menurut Muthalib, tingkat pencemaran air di Jakarta memang cukup tinggi. Sekitar 42 persen sumber air di Ibu Kota telah tercemar bakteri. Bila masyarakat meminum air dari sumber mata air ini, mereka terancam menderita diaere dan 37 macam penyakit lain. Bahkan, menurut hasil penelitian pemerintah, setiap 1.000 orang di Jakarta, 300 orang di antaranya pasti mengidap penyakit diare. Penyebabnya, mereka mengkonsumi air tersebut.
Nah, untuk mengatasi krisis air bersih, pemerintah menerapkan sejumlah program. Tindakan yang dilakukan antara lain menyediakan air bersih dengan bantuan Bank Dunia dan penyediaan laboratorium bagi di kota dan kabupaten. Ini sengaja dilakukan untuk memeriksa kelayakan air yang dikonsumsi masyarakat. Selain itu, kata Muthalib, pemerintah juga akan melatih tenaga kerja untuk melakukan pembersihan air. Namun yang paling penting adalah mendidik masyarakat agar lebih menjaga kesehatan air di lingkungan masing-masing.(ULF/Eva Yunizar dan Eko Purwanto)
Menurut Muthalib, tingkat pencemaran air di Jakarta memang cukup tinggi. Sekitar 42 persen sumber air di Ibu Kota telah tercemar bakteri. Bila masyarakat meminum air dari sumber mata air ini, mereka terancam menderita diaere dan 37 macam penyakit lain. Bahkan, menurut hasil penelitian pemerintah, setiap 1.000 orang di Jakarta, 300 orang di antaranya pasti mengidap penyakit diare. Penyebabnya, mereka mengkonsumi air tersebut.
Nah, untuk mengatasi krisis air bersih, pemerintah menerapkan sejumlah program. Tindakan yang dilakukan antara lain menyediakan air bersih dengan bantuan Bank Dunia dan penyediaan laboratorium bagi di kota dan kabupaten. Ini sengaja dilakukan untuk memeriksa kelayakan air yang dikonsumsi masyarakat. Selain itu, kata Muthalib, pemerintah juga akan melatih tenaga kerja untuk melakukan pembersihan air. Namun yang paling penting adalah mendidik masyarakat agar lebih menjaga kesehatan air di lingkungan masing-masing.(ULF/Eva Yunizar dan Eko Purwanto)