Liputan6.com, Singkawang: Seperti juga daerah lainnya, perayaan Imlek juga dilaksanakan sejumlah warga etnis Tionghoa di Kampung Kali Asin atau Kampung Jam Tang di Singkawang, Kalimantan Barat, Rabu (9/2). Perkampungan Kali Asin dikenal sebagai kampung Cina tertua. Kampung Kali Asin kemudian berkembang menjadi Kota Singkawang atau Kota Amoy.
Sekitar 165 ribu warga Singkawang, 60 persen di antaranya etnis Cina. Mereka kebanyakan berasal dari suku Hakka. Kampung Kali Asin adalah bukti sejarah masuknya Cina dari wilayah Hong Ciu, Tiongkok pada awal abad XVII. Saat itu, sejumlah orang dari suku Hakka sengaja didatangkan Raja Sambas untuk bekerja sebagai buruh tambang emas di Monterado, Kalbar.
Kedatangan mereka di Pulau Borneo ini tidak hanya untuk bekerja. Mereka juga membuat suatu permukiman yang diberi nama Jam Tang atau Kali Asin. Setelah tak bekerja di tambang, mereka memilih membuat garam untuk dijual. Nama Kali Asin, akhirnya diabadikan sebagai nama kampung. Apalagi daerah tersebut terletak di tengah sebuah kali.
Sebagian warga etnis Tionghoa di kampung ini tak seperti kebanyakan orang Cina lainnya dengan taraf ekonomi yang baik. Mereka rata-rata miskin dan bekerja sebagai buruh tani di kawasan pegunungan di Singkawang. Pendapatan sehari-hari mereka pun jauh di atas normal. Tak mengherankan, bila kehidupan mereka begitu memprihatinkan. Hal ini juga tampak dari rumah mereka yang sudah termakan usia.
Meski demikian, para warga Singkawang tetap memelihara adat istiadat leluhur, termasuk perayaan Tahun Baru Imlek. Tradisi bermain petasan juga tak dilewatkan. Mereka juga saling mengunjungi teman dan sanak saudara mereka. Suasana perayaan Imlek ini akan berlangsung dua pekan, hingga perayaan Cap Go Meh mendatang.(JUM/Amin Alkadrie)
Sekitar 165 ribu warga Singkawang, 60 persen di antaranya etnis Cina. Mereka kebanyakan berasal dari suku Hakka. Kampung Kali Asin adalah bukti sejarah masuknya Cina dari wilayah Hong Ciu, Tiongkok pada awal abad XVII. Saat itu, sejumlah orang dari suku Hakka sengaja didatangkan Raja Sambas untuk bekerja sebagai buruh tambang emas di Monterado, Kalbar.
Kedatangan mereka di Pulau Borneo ini tidak hanya untuk bekerja. Mereka juga membuat suatu permukiman yang diberi nama Jam Tang atau Kali Asin. Setelah tak bekerja di tambang, mereka memilih membuat garam untuk dijual. Nama Kali Asin, akhirnya diabadikan sebagai nama kampung. Apalagi daerah tersebut terletak di tengah sebuah kali.
Sebagian warga etnis Tionghoa di kampung ini tak seperti kebanyakan orang Cina lainnya dengan taraf ekonomi yang baik. Mereka rata-rata miskin dan bekerja sebagai buruh tani di kawasan pegunungan di Singkawang. Pendapatan sehari-hari mereka pun jauh di atas normal. Tak mengherankan, bila kehidupan mereka begitu memprihatinkan. Hal ini juga tampak dari rumah mereka yang sudah termakan usia.
Meski demikian, para warga Singkawang tetap memelihara adat istiadat leluhur, termasuk perayaan Tahun Baru Imlek. Tradisi bermain petasan juga tak dilewatkan. Mereka juga saling mengunjungi teman dan sanak saudara mereka. Suasana perayaan Imlek ini akan berlangsung dua pekan, hingga perayaan Cap Go Meh mendatang.(JUM/Amin Alkadrie)