Sebaran Titik Api Karhutla di Kalimantan dan Sumsel Dalam 24 Jam Terakhir

Titik api atau hotspot di Kalteng dan Sumsel nyaris berkejaran.

Diterbitkan 15 Oktober 2026, 09:20 WIB
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • 619 titik panas terdeteksi di 17 provinsi, terbanyak di Kalteng dan Sumsel.
  • Satelit NASA-MODIS mendeteksi hotspot dengan kepercayaan tinggi, fokus di Sumatera dan Kalimantan.
  • Deteksi titik panas ini memerlukan verifikasi lapangan untuk memastikan kebakaran.

Liputan6.com, Jakarta - Sebanyak 619 titik panas atau hotspot terdeteksi di 17 provinsi di Indonesia dalam pemantauan 24 jam terakhir hingga Kamis (15/10/2026) pagi. Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan sebaran titik panas terbanyak.

Berdasarkan data Sistem Pemantauan Karhutla (SiPongi) Kementerian Kehutanan yang diakses pukul 08.30 WIB, seluruh titik panas tersebut terdeteksi satelit NASA-MODIS dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence).

Kalimantan Tengah mencatat 235 titik panas, sedangkan Sumatera Selatan mencapai 205 titik. Gabungan keduanya menyumbang sekitar 71 persen dari total hotspot yang terdeteksi dalam periode pemantauan tersebut.

Di Sumatera Selatan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 118 titik. Jumlah tersebut disusul Kabupaten Banyuasin dengan 34 titik dan Musi Banyuasin sebanyak 28 titik.

Sementara itu, di Kalimantan Tengah, titik panas paling banyak terdeteksi di Kabupaten Kapuas, yakni 53 titik. Kabupaten Pulang Pisau dan Kotawaringin Timur masing-masing mencatat 45 titik, disusul Katingan dengan 38 titik.

 

Sebaran Titik Api Daerah Lainnya

Selain kedua provinsi tersebut, titik panas juga terdeteksi di sejumlah wilayah lain. Jambi mencatat 46 titik, Kalimantan Barat 42 titik, dan Kalimantan Timur 18 titik. Adapun Kalimantan Selatan mencatat 16 titik.

Sebaran titik panas lainnya terpantau di Sulawesi Tengah sebanyak 12 titik, Jawa Timur sembilan titik, serta Kepulauan Bangka Belitung delapan titik. Sulawesi Selatan mencatat tujuh titik, sedangkan Lampung dan Papua Selatan masing-masing lima titik. Selanjutnya, di Nusa Tenggara Timur, Gorontalo, Maluku, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, masing-masing mencatat di bawah lima titik panas.

Data tersebut menunjukkan konsentrasi hotspot dalam periode pemantauan masih berada di Sumatera bagian selatan dan Kalimantan. Meski demikian, deteksi satelit merupakan indikasi titik panas yang perlu ditindaklanjuti dengan verifikasi lapangan untuk memastikan ada tidaknya kebakaran hutan dan lahan.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6