Liputan6.com, Jakarta: Keluarga Munir kecewa, ternyata pemerintah ingkar janji. Tim investigasi independen untuk membantu mengungkap kasus kematian Munir batal dibentuk. Kekecewaan mengarah ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Suciwati, istri Munir dan Rachland Nashidik dari Imparsial telanjur menggenggam ucapan SBY yang mendukung pembentukan tim independen. Pupuslah harapan terakhir. Kasus Munir dikhawatirkan akan terkatung-katung seperti juga perkara teror selama ini yang mengarah kepada Komisi Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras).
Keberadaan tim independen sesungguhnya untuk mem-back up tugas kepolisian, bukan sekadar ewuh pakewuh. Orang-orang yang rencananya duduk di dalam tim antara lain mantan Ketua MPR Amien Rais, Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Achmad Syafii Maarif, dan Todung Mulya Lubis, serta wakil dari Kejaksaan Agung dan Polri. "Kami kecewa, karena tidak sesuai dengan isyarat Presiden yang ingin keadilan ditegakkan," kata Rachland dalam Topik Minggu Ini yang disiarkan SCTV, Rabu (8/12) malam.
Rachland menilai pemerintah tidak konsisten. Sementara penyelidikan oleh Polri terkesan lamban. Padahal Rachland melihat, pada kasus Munir-lah kredibilitas pemerintahan SBY dipertaruhkan. Menteri Komunikasi dan Informasi Sofyan A. Djalil yang turut berdialog membantah anggapan itu. Menurut Sofyan, Presiden hanya menunda waktu pembentukan tim agar pengusutan yang sudah separuh jalan tuntas. "Tidak ada kepentingan apa pun. Ini hanya masalah teknis," kata Sofyan.
Mengusut kematian Munir memang bukan pekerjaan ringan. Pasalnya, Munir meninggal dunia saat perjalanan menuju Amsterdam, Belanda. Banyak teori untuk membongkar kunci misteri itu. Belasan saksi dimintai keterangan termasuk Pollycarpus Budihari Priyanto, pilot Garuda yang bertemu Munir di dalam pesawat Boeing 747 bernomor penerbangan GA 974 menuju Amsterdam.
Hati Pollycarpus boleh jadi masih dag-dig-dug. Polri menduga kuat Polly terlibat, karena sebelum berangkat ke Belanda ia diakui Suciwati sering mengontak Munir. Ketika bertemu di dalam pesawat, Polly juga menawari Munir pindah dari kelas ekonomi nomor kursi 40 G ke kelas bisnis nomor kursi 03 K [baca: Pollycarpus Merasa Sedang Dikorbankan].
Polly mengaku pernah bertemu Munir pada Maret 2004. Kala itu, seorang tetangga Polly dan beberapa kawannya minta untuk diantar ke rumah Munir. "Pak Joni [nama tetangga] sampai di rumah Pak Munir jam tiga sore [15.00 WIB]," kata lelaki berkacamata minus itu. Namun, Polly mengaku hanya mengantar sampai teras. Polly juga mengelak telah menelepon ke rumah Munir karena banyak orang tinggal di rumahnya.
Biang keladi kematian Munir bisa siapa pun. Dua lelaki yang terakhir berbincang-bincang dengan aktivis hak asasi manusia itu, sebelum pesawat berangkat, juga bisa jadi tersangka. Dalam kesempatan terpisah, SCTV mewawancarai Nyonya Drupadi, penumpang satu pesawat dengan Munir. Drupadi-lah yang mengaku melihat ada dua pria bersama Munir di ruang tunggu Bandar Udara Changi, Singapura. "Sepuluh menit sebelum pesawat berangkat," kata Drupadi.
Seorang pria berperawakan tinggi besar dilihat lebih banyak berbicara dengan Munir "Seorang lagi kurus hampir setinggi Munir, hanya mendengarkan," lanjut dia. Ketika di pesawat, Drupadi memandang kondisi normal-normal saja. Ia juga tidak mendengar permintaan dari kru pesawat untuk meminta pertolongan dokter, seperti lumrahnya jika ada penumpang sakit. Saat mendarat di Bandara Schiphol, para penumpang hanya diminta menunggu karena petugas karantina hendak melakukan pemeriksaan. "Semua penumpang tenang-tenang saja," jelas Drupadi.
Untuk mencari keterangan di luar wilayah penelitian polisi seperti pengakuan Drupadi itulah, kegunaan tugas tim independen. Sebab, secuil apa pun informasi, tentunya bisa berguna. "Tim bisa membantu kerja polisi lebih cepat," kata Rachland. Apalagi penyebab kematian Munir sudah jelas akibat keracunan arsenik akut (acute arsenic poisoning). "Apa ruginya jika ada tim independen," ujar Rachland, mempertanyakan.
Saat ini, hasil lengkap visum Munir dari Kepolisian Belanda sudah dipegang Suciwati. Laporan tersebut memaparkan jantung, hati, dan otak dalam kondisi baik. Artinya Munir tidak mengalami kekerasan secara fisik. Racun arsenik yang dipastikan sebagai penyebab Munir meninggal ditemukan dalam darah, air seni, dan lambung. Kadar arsenik dalam tubuh Munir sebanyak 460 miligram. Menurut standar, arsenik mencapai taraf mematikan mulai kadar 200-300 mg. Sementara itu, cara kematian adalah bagaimana racun tersebut masuk ke tubuh. Itu yang belum jelas [baca: Arsen Menutup Rapat Mulut Munir Selamanya]
Disebut-sebut saat menunggu di Bandara Changi, ia sempat makan mi goreng dan minum jus jeruk. Nah, sekitar dua setengah jam setelah lepas landas, Munir mulai muntah-muntah. Ahli Kedokteran Kehakiman Fakultas Hukum Universitas Indonesia, dokter Handoko membenarkan muntah, diare, dan rasa mual yang dashyat adalah gejala awal keracunan. Racun, menurut dia, lebih mudah larut dalam darah lewat minuman apalagi jika perhitungan mengaduknya pas. "Satu jam setelah minum, seseorang pasti langsung muntah-muntah," lanjut Handoko.
Handoko memastikan Munir benar mengalami keracunan arsenik akut bukan kronis seperti digembar-gemborkan selama ini. "Ini jelas-jelas akut karena ada sisa [racun] di dalam lambung," tegas Handoko. Namun, dia berpendapat keinginan untuk mengotopsi ulang jenazah Munir adalah pekerjaan sia-sia. Alasannya seseorang yang meninggal dunia di luar negeri dalam kondisi wajar hanya dibalsem sebelum dibawa pulang. Sementara jika kematian tidak wajar pasti diotopsi. Jasad akan dibedah dan organ-organ vital dikeluarkan untuk melihat warna dan beratnya. "Sekarang kalau diotopsi lagi, isi perutnya sudah kosong," ujar Handoko.(KEN)
Keberadaan tim independen sesungguhnya untuk mem-back up tugas kepolisian, bukan sekadar ewuh pakewuh. Orang-orang yang rencananya duduk di dalam tim antara lain mantan Ketua MPR Amien Rais, Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Achmad Syafii Maarif, dan Todung Mulya Lubis, serta wakil dari Kejaksaan Agung dan Polri. "Kami kecewa, karena tidak sesuai dengan isyarat Presiden yang ingin keadilan ditegakkan," kata Rachland dalam Topik Minggu Ini yang disiarkan SCTV, Rabu (8/12) malam.
Rachland menilai pemerintah tidak konsisten. Sementara penyelidikan oleh Polri terkesan lamban. Padahal Rachland melihat, pada kasus Munir-lah kredibilitas pemerintahan SBY dipertaruhkan. Menteri Komunikasi dan Informasi Sofyan A. Djalil yang turut berdialog membantah anggapan itu. Menurut Sofyan, Presiden hanya menunda waktu pembentukan tim agar pengusutan yang sudah separuh jalan tuntas. "Tidak ada kepentingan apa pun. Ini hanya masalah teknis," kata Sofyan.
Mengusut kematian Munir memang bukan pekerjaan ringan. Pasalnya, Munir meninggal dunia saat perjalanan menuju Amsterdam, Belanda. Banyak teori untuk membongkar kunci misteri itu. Belasan saksi dimintai keterangan termasuk Pollycarpus Budihari Priyanto, pilot Garuda yang bertemu Munir di dalam pesawat Boeing 747 bernomor penerbangan GA 974 menuju Amsterdam.
Hati Pollycarpus boleh jadi masih dag-dig-dug. Polri menduga kuat Polly terlibat, karena sebelum berangkat ke Belanda ia diakui Suciwati sering mengontak Munir. Ketika bertemu di dalam pesawat, Polly juga menawari Munir pindah dari kelas ekonomi nomor kursi 40 G ke kelas bisnis nomor kursi 03 K [baca: Pollycarpus Merasa Sedang Dikorbankan].
Polly mengaku pernah bertemu Munir pada Maret 2004. Kala itu, seorang tetangga Polly dan beberapa kawannya minta untuk diantar ke rumah Munir. "Pak Joni [nama tetangga] sampai di rumah Pak Munir jam tiga sore [15.00 WIB]," kata lelaki berkacamata minus itu. Namun, Polly mengaku hanya mengantar sampai teras. Polly juga mengelak telah menelepon ke rumah Munir karena banyak orang tinggal di rumahnya.
Biang keladi kematian Munir bisa siapa pun. Dua lelaki yang terakhir berbincang-bincang dengan aktivis hak asasi manusia itu, sebelum pesawat berangkat, juga bisa jadi tersangka. Dalam kesempatan terpisah, SCTV mewawancarai Nyonya Drupadi, penumpang satu pesawat dengan Munir. Drupadi-lah yang mengaku melihat ada dua pria bersama Munir di ruang tunggu Bandar Udara Changi, Singapura. "Sepuluh menit sebelum pesawat berangkat," kata Drupadi.
Seorang pria berperawakan tinggi besar dilihat lebih banyak berbicara dengan Munir "Seorang lagi kurus hampir setinggi Munir, hanya mendengarkan," lanjut dia. Ketika di pesawat, Drupadi memandang kondisi normal-normal saja. Ia juga tidak mendengar permintaan dari kru pesawat untuk meminta pertolongan dokter, seperti lumrahnya jika ada penumpang sakit. Saat mendarat di Bandara Schiphol, para penumpang hanya diminta menunggu karena petugas karantina hendak melakukan pemeriksaan. "Semua penumpang tenang-tenang saja," jelas Drupadi.
Untuk mencari keterangan di luar wilayah penelitian polisi seperti pengakuan Drupadi itulah, kegunaan tugas tim independen. Sebab, secuil apa pun informasi, tentunya bisa berguna. "Tim bisa membantu kerja polisi lebih cepat," kata Rachland. Apalagi penyebab kematian Munir sudah jelas akibat keracunan arsenik akut (acute arsenic poisoning). "Apa ruginya jika ada tim independen," ujar Rachland, mempertanyakan.
Saat ini, hasil lengkap visum Munir dari Kepolisian Belanda sudah dipegang Suciwati. Laporan tersebut memaparkan jantung, hati, dan otak dalam kondisi baik. Artinya Munir tidak mengalami kekerasan secara fisik. Racun arsenik yang dipastikan sebagai penyebab Munir meninggal ditemukan dalam darah, air seni, dan lambung. Kadar arsenik dalam tubuh Munir sebanyak 460 miligram. Menurut standar, arsenik mencapai taraf mematikan mulai kadar 200-300 mg. Sementara itu, cara kematian adalah bagaimana racun tersebut masuk ke tubuh. Itu yang belum jelas [baca: Arsen Menutup Rapat Mulut Munir Selamanya]
Disebut-sebut saat menunggu di Bandara Changi, ia sempat makan mi goreng dan minum jus jeruk. Nah, sekitar dua setengah jam setelah lepas landas, Munir mulai muntah-muntah. Ahli Kedokteran Kehakiman Fakultas Hukum Universitas Indonesia, dokter Handoko membenarkan muntah, diare, dan rasa mual yang dashyat adalah gejala awal keracunan. Racun, menurut dia, lebih mudah larut dalam darah lewat minuman apalagi jika perhitungan mengaduknya pas. "Satu jam setelah minum, seseorang pasti langsung muntah-muntah," lanjut Handoko.
Handoko memastikan Munir benar mengalami keracunan arsenik akut bukan kronis seperti digembar-gemborkan selama ini. "Ini jelas-jelas akut karena ada sisa [racun] di dalam lambung," tegas Handoko. Namun, dia berpendapat keinginan untuk mengotopsi ulang jenazah Munir adalah pekerjaan sia-sia. Alasannya seseorang yang meninggal dunia di luar negeri dalam kondisi wajar hanya dibalsem sebelum dibawa pulang. Sementara jika kematian tidak wajar pasti diotopsi. Jasad akan dibedah dan organ-organ vital dikeluarkan untuk melihat warna dan beratnya. "Sekarang kalau diotopsi lagi, isi perutnya sudah kosong," ujar Handoko.(KEN)