Liputan6.com, Jakarta: Suciwati, istri almarhum aktivis hak asasi manusia Munir, mendapat teror dan ancaman akan dibunuh. Teror itu berupa paket berisi sepotong bangkai ayam dan secarik kertas bernada ancaman. Paket yang dikirim oleh kurir pos itu diterima Suciwati di rumahnya di Jalan Cendana, Perumahan Jaka Permai, Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (20/11) sekitar pukul 10.30 WIB.
Menurut Direktur Operasional Imparsial Rusdi Marpaungsat, paket itu berisi potongan kepala, kaki, dan isi ayam yang sudah membusuk dibungkus dengan styrofoam. Di dalam paket itu ada selembar kertas print-out yang memuat tulisan agar Suciwati tidak mengaitkan TNI dalam kasus kematian suaminya.
Rusdi mengatakan, teror ini adalah yang pertama kalinya sejak kedatangan Suciwati ke Markas Besar Polri dalam mengungkap kasus kematian Munir [baca: Keluarga Almarhum Munir Meminta Hasil Otopsi]. Rusdi menambahkan, barang bukti sudah diserahkan ke Kepolisian Daerah Metro Jaya untuk pengusutan lebih lanjut. Saat hendak dikonfirmasi SCTV, Suciwati sedang beristirahat dan tidak bersedia memberikan komentar.
Di bagian lain, Serikat Pengacara Rakyat, Perhimpunan Pembela Publik Indonesia, dan Pergerakan Demokratik Rakyat Miskin (PDRM) Aceh mengultimatum pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono yang dinilai tidak serius menangani kasus kematian Munir. Tiga lembaga swadaya masyarakat ini juga menyayangkan munculnya tradisi pembunuhan politik di Indonesia.
Menurut ketiga LSM itu, sebaiknya polisi dapat langsung memeriksa kasus kematian mantan Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) dengan menanyakan kronologis peristiwa kepada pihak Garuda Indonesia. Sebab, maskapai penerbangan pelat merah itu tidak mengikuti prosedur penerbangan sipil pada saat seorang penumpang memerlukan pengobatan serius [baca: Presiden Diminta Membentuk Tim Investigasi Kasus Munir].
Ketiga LSM ini juga mengkhawatirkan terhadap upaya memberikan tekanan kepada pihak-pihak yang kritis terhadap pemerintah dan memunculkan tradisi pembunuhan politik di Indonesia. Kekhawatiran ini didasari dengan adanya penculikan aktivis di era 90 an, hilangnya penyair Wiji Thukul, dan terakhir kematian Munir.(DEN/Tim Liputan 6 SCTV)
Menurut Direktur Operasional Imparsial Rusdi Marpaungsat, paket itu berisi potongan kepala, kaki, dan isi ayam yang sudah membusuk dibungkus dengan styrofoam. Di dalam paket itu ada selembar kertas print-out yang memuat tulisan agar Suciwati tidak mengaitkan TNI dalam kasus kematian suaminya.
Rusdi mengatakan, teror ini adalah yang pertama kalinya sejak kedatangan Suciwati ke Markas Besar Polri dalam mengungkap kasus kematian Munir [baca: Keluarga Almarhum Munir Meminta Hasil Otopsi]. Rusdi menambahkan, barang bukti sudah diserahkan ke Kepolisian Daerah Metro Jaya untuk pengusutan lebih lanjut. Saat hendak dikonfirmasi SCTV, Suciwati sedang beristirahat dan tidak bersedia memberikan komentar.
Di bagian lain, Serikat Pengacara Rakyat, Perhimpunan Pembela Publik Indonesia, dan Pergerakan Demokratik Rakyat Miskin (PDRM) Aceh mengultimatum pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono yang dinilai tidak serius menangani kasus kematian Munir. Tiga lembaga swadaya masyarakat ini juga menyayangkan munculnya tradisi pembunuhan politik di Indonesia.
Menurut ketiga LSM itu, sebaiknya polisi dapat langsung memeriksa kasus kematian mantan Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) dengan menanyakan kronologis peristiwa kepada pihak Garuda Indonesia. Sebab, maskapai penerbangan pelat merah itu tidak mengikuti prosedur penerbangan sipil pada saat seorang penumpang memerlukan pengobatan serius [baca: Presiden Diminta Membentuk Tim Investigasi Kasus Munir].
Ketiga LSM ini juga mengkhawatirkan terhadap upaya memberikan tekanan kepada pihak-pihak yang kritis terhadap pemerintah dan memunculkan tradisi pembunuhan politik di Indonesia. Kekhawatiran ini didasari dengan adanya penculikan aktivis di era 90 an, hilangnya penyair Wiji Thukul, dan terakhir kematian Munir.(DEN/Tim Liputan 6 SCTV)