Harga Minyak Anjlok 16% Sepekan, Perang AS-Iran Bisa Bikin Balik Arah

Harga minyak Brent anjlok lebih dari 16 persen sepekan di tengah kekhawatiran konflik militer AS dan Iran kembali memanas.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 07 November 2026, 08:00 WIB
Seorang pekerja menarik selang saat bekerja di stasiun degasifikasi di ladang minyak Zubair, yang operasinya telah dikurangi karena perang Timur Tengah yang dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran, dekat Basra, Irak. (AP Photo/Leo Correa)

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia mencatat penurunan tajam sepanjang pekan ini. Investor masih mencermati risiko kembali memanasnya konflik militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran setelah pemilihan umum paruh waktu (midterm elections) di AS.

Mengutip CNBC, Sabtu (7/11/2026), harga minyak mentah Brent naik tipis 3 sen menjadi US$ 98,32 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 31 sen menjadi US$ 90,83 per barel.

Meski menguat pada perdagangan harian, harga Brent tercatat anjlok lebih dari 16 persen sepanjang pekan. Adapun WTI merosot hampir 13 persen.

Pelaku pasar kini menilai apakah berakhirnya pemilu paruh waktu AS akan membuka jalan bagi Washington untuk kembali mengambil tindakan terhadap Iran. Langkah tersebut berpotensi mengancam pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.

Selat Hormuz Masih Panas

Kapal-kapal komersial tampak berlabuh di Selat Hormuz di lepas pantai Bandar Abbas, Iran, Senin, Selasa, 6 Oktober 2026. (Amirhosein Khorgooi/ISNA via AP)

Pendiri sekaligus Presiden Rapidan Energy Group, Bob McNally, memperkirakan peluang kembali pecahnya konflik militer mencapai 80 persen. Jika hal itu terjadi, harga kedua acuan minyak dunia berpotensi kembali menembus US$ 100 per barel.

Namun, harapan penyelesaian melalui jalur diplomasi juga muncul. Iran dikabarkan telah mengirimkan proposal terkait nuklir kepada Washington melalui Qatar.

Di sisi lain, Iran melaporkan tiga serangan tambahan terhadap kapal tanker minyak di Selat Hormuz pada Kamis. Data UK Maritime Trade Operations (UKMTO) juga menunjukkan serangan terhadap kapal masih berlangsung dengan frekuensi mendekati rekor tertinggi.

"Presiden Donald Trump bertekad, sebagai bagian dari warisannya, hampir dengan segala cara, untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir dan membuat negara itu melepaskan kemampuan nuklirnya," kata McNally.

"Di sisi lain, rezim Iran tidak bersedia melakukannya. Selama perbedaan mendasar dalam kesepakatan tersebut belum terselesaikan, risiko eskalasi konflik akan tetap ada," tambahnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya