Sempat Dicibir Gila, Eks Pengungsi Malah Cetak Kekayaan Rp 235 Triliun

Sempat dicibir nekat saat mendobrak birokrasi bank, eks pengungsi ini justru menjelma jadi miliarder berharta Rp 235 triliun.

oleh Idris Rusadi PutraDiterbitkan 07 November 2026, 07:00 WIB
Pendiri dan CEO Nubank David Velez. (Dok Nubank)

Liputan6.com, Jakarta - Suara sirene dan mencekamnya bentrokan kartel narkoba di Medellín, Kolombia, pernah menjadi 'lagu pengantar tidur' masa kecil David Velez. Saat anak-anak seusianya bermain tanpa beban, Velez kecil justru harus memeluk ketakutan di tengah runtuhnya stabilitas ekonomi negaranya.

Tak ada pilihan lain, pada usia sembilan tahun, ia diboyong keluarganya angkat kaki mengungsi ke Costa Rica demi menyambung hidup dan merajut harapan baru di tanah perantauan.

Dikutip dari laporan BBC, Sabtu (7/11/2026), hidup jauh dari tanah kelahiran menempa Velez menjadi pribadi yang tangguh. Sejak usia remaja, ia tak gengsi melakoni beragam pekerjaan serabutan demi membiayai studi dan mandiri secara finansial. Gemblengan keras itu berbuah manis ketika ia berhasil menembus jurusan Teknik Mesin di Stanford University.

Kecerdasannya membawa Velez meniti karier cemerlang sebagai investor modal ventura di Sequoia Capital, mengawasi portofolio investasi di wilayah Amerika Latin.

Namun, titik balik dalam hidupnya justru lahir dari sebuah rasa frustrasi. Pada 2012, ketika baru pindah ke Sao Paulo, Brasil, Velez berniat membuka rekening bank lokal. Pengalaman sederhana itu berubah jadi 'mimpi buruk', ia harus melewati pintu berputar berjeruji baja dengan penjaga bersenjata, mengantre hingga berjam-jam, lalu dihadapkan pada birokrasi rumit serta gempuran biaya tersembunyi yang mencekik.

Nekat Mendobrak Oligarki Perbankan

Pendiri dan CEO Nubank David Velez. (Dok Nubank)

Melansir artikel Forbes, alih-alih pasrah pada sistem yang kaku, Velez justru menangkap peluang raksasa. Ia melihat betapa monopolistiknya industri perbankan Amerika Latin yang saat itu dikuasai oleh lima raksasa perbankan. Dengan berani, ia melepaskan posisi nyamannya di dunia modal ventura dan mendirikan perusahaannya sendiri pada 2013 untuk membongkar tarif tersembunyi dan memanjakan nasabah. 

Dikutip dari wawancaranya di platform Medium bersama Miguel Armaza, langkah awal Velez sempat dicibir. Banyak pakar finansial lokal menilai aksinya sebagai tindakan nekat yang setara dengan 'bunuh diri bisnis'.

Namun, Velez teguh pada prinsipnya, yaitu membangun layanan finansial yang serba digital, gratis, dan transparan dari sebuah rumah sewaan kecil di Sao Paulo.

Kejayaan dan Komitmen Filantropi

Ketajaman strategi dan keteguhan hatinya berbuah manis. Bisnis yang dirintis dari rumah sewaan itu berkembang masif hingga menjelma menjadi bank digital terbesar di dunia di luar China. Kesuksesan fenomenal ini melontarkan nama David Velez ke jajaran tokoh finansial paling berpengaruh sejagat, dengan estimasi kekayaan bersih menembus US$ 13 miliar atau sekitar Rp 235,85 triliun (kurs Rp 18.112 per US$).

Meski kini menyandang status miliarder, mengutip Rest of World, Velez tetap tampil membumi. Ia percaya bahwa keberhasilan sejati seorang wirausahawan tidak diukur dari seberapa menumpuk aset pribadinya, melainkan seberapa besar manfaat yang ia bagikan.

Bersama sang istri, Velez telah menandatangani The Giving Pledge, berkomitmen mendonasikan sebagian besar kekayaannya untuk aksi sosial dan pendidikan di Amerika Latin.

Perjalanan David Velez menjadi bukti nyata bahwa traumatisnya masa kecil dan kerumitan birokrasi dapat ditransformasikan menjadi bahan bakar inovasi yang mendobrak zaman.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya