Liputan6.com, Jakarta - Suku bunga di Inggris naik dalam pertama kali selama lebih dari tiga tahun. Selain itu, bank sentral Inggris memberi sinyal kenaikan lanjutan jika konflik Amerika Serikat (AS)-Iran tak kunjung selesai. Lantaran, suku bunga naik dari 3,75% ke 4% untuk menekan inflasi yang didorong harga minyak global.
Melansir BBC, Jumat (6/11/2026), Gubernur Bank Sentral Inggris, Andrew Bailey mengatakan, keputusan ini adalah lanjutan dari kenaikan yang sudah berlangsung lama. Namun, dia memperingatkan jika konflik di Timur Tengah tak juga diselesaikan, ini kemungkinan bukan menjadi kenaikan suku bunga yang terakhir.
Advertisement
Kenaikan ini juga akan meningkatkan biaya kredit perumahan, pinjaman, dan kartu kredit, tetapi juga akan menghasilkan imbal hasil yang lebih tinggi dari tabungan.
Selain itu, komite penetapan suku bunga bank sentral Inggris juga kompak dalam menentukan kenaikan ini, dengan delapan dari sembilan menyetujui untuk menaikkan suku bunga ke 4%. Bahkan, satu anggota menginginkan kenaikan lebih besar, yakni 4,25%.
Ada Kemungkinan untuk Kembali Naik
Bailey mengatakan, kenaikan suku bunga sudah terlihat jauh-jauh hari, mengingat harga bahan bakar dan konflik Timur Tengah menjadi sorotan pemicu keputusan ini.
"Sederhananya, dibutuhkan proses nyata untuk meredakan konflik di Timur Tengah," ujar Bailey.
Bailey mengatakan, dapat “memahami alasan” di balik kenaikan suku bunga lebih lanjut, sebelum mengambil “pendekatan yang lebih bersyarat” yang bergantung pada pergerakan harga energi dan inflasi dalam beberapa bulan mendatang.
Namun, pandangan anggota komite penetapan suku bunga berbeda dalam langkah ke depan.
Clare Lombardelli setuju, ada kemungkinan untuk kenaikan lanjutan dalam jangka pendek. Sementara Megan Greene mengusulkan kenaikan lanjutan memiliki potensi tergantung dengan bagaimana inflasi memengaruhi gaji, harga, dan lapangan pekerjaan.
Alan Taylor mengatakan, kenaikan suku bunga ini adalah kenaikan premi asuransi sebagai langkah manajemen risiko sementara.
Suku Bunga Naik Meski Inflasi Belum Meluas
Inflasi di Inggris, yang mengukur kenaikan harga berjangka waktu, masih di bawah puncak beberapa tahun lalu, tapi tetap berada di atas target 2% bank sentral Inggris. Angka ini diprediksi kembali naik tahun depan.
Harga-harga naik 3,5% dalam periode satu tahun hingga September 2026, terutama disebabkan oleh kenaikan harga bahan bakar. Jutaan rumah tangga juga diperkirakan akan terdampak oleh kenaikan tagihan energi pada bulan Januari.
Harga bahan bakar yang naik dapat menyebabkan harga beberapa komoditas naik seiring bisnis menyalurkan kenaikan harga ke pelanggan.
Namun, bank sentral mengatakan ada bukti kecil, hal ini terjadi untuk komoditas, termasuk makanan, lantaran beberapa perusahaan menyerap kenaikan biaya dan mendapat margin lebih kecil.
Dalam sebuah wawancara dengan BBC, Bailey menjustifikasi keputusan untuk menaikkan suku bunga meskipun bank sentral menilai inflasi belum menyebar ke sektor ekonomi lainnya.
Ia mengatakan, kenaikan biaya energi memberi tekanan tambahan terhadap inflasi. "Itulah yang harus kita hindari," ujar dia.
Dampak Terhadap Ekonomi Rumah Tangga
Partick Bryson (51) dari Brighton, akan mengucapkan selamat tinggal pada masa kredit rumah lima tahunnya dengan suku bunga 3,51%.
Pilihan terbaik selanjutnya adalah pinjaman 5,17% dari HSBC, yang artinya pembayaran cicilannya akan melonjak dari 1.420 pound sterling, atau Rp 34,3 juta (asumsi kurs pound sterling terhadap rupiah di kisaran 24.212) menjadi 1.680 pound sterling (Rp 40,6 juta) per bulan mulai Februari.
"Yang menjengkelkan adalah setelah lima tahun melunaskannya, kita sekarang membayar lebih dari yang sebelumnya. Itu menjadi pukulan keras,” ujar ayah dari tiga anak tersebut.
Guru kursus gitar tersebut memiliki penghasilan gabungan dengan sang istri yang mengurus panti jompo sebesar 68.000 pound sterling atau Rp 1,6 miliar per tahun. Dia mengatakan, merasakan tekanan keuangan. Sehingga, mereka telah mengubah pola pengeluaran dan mencoba untuk mengurangi pengeluaran langganan mereka.
"Dalam satu tahun ini saya berhenti membeli anggur, kita tak lagi sering makan di luar, kami berhenti makan makanan siap saji. Harganya sangat tidak masuk akal," ujarnya.