Liputan6.com, Jakarta - Wisatawan yang berkunjung ke kawasan Myeong-dong, Seoul, Korea Selatan, kini memiliki cara lebih mudah untuk membuang sampah saat menikmati jajanan kaki lima. Mereka tidak perlu lagi sibuk mencari tempat sampah di tengah keramaian.
Pengunjung cukup menyerahkan cangkir kopi bekas atau bungkus makanan pada pedagang kaki lima yang berpartisipasi dalam program kebersihan lingkungan. Inisiatif ini membuat pengalaman wisata kuliner terasa lebih nyaman dan menyenangkan.
Advertisement
Menariknya, layanan ini tersedia secara gratis. Pedagang tetap bersedia menerima sampah meski pengunjung tidak membeli makanan atau minuman dari kios mereka.
Melansir The Korea Herald, Jumat, 6 November 2026, sebanyak 364 pedagang telah bergabung dalam kampanye bertajuk "Clean Myeong-dong." Program ini digagas untuk menjaga kebersihan kawasan sekaligus meningkatkan kenyamanan wisatawan yang berbelanja dan berburu kuliner di salah satu destinasi populer Seoul tersebut.
Untuk memudahkan wisatawan mancanegara, Pemerintah Metropolitan Seoul bersama Organisasi Pariwisata Seoul memasang papan petunjuk berbahasa Inggris, Jepang, dan Mandarin pada kios peserta. Keikutsertaan pedagang dalam kampanye ini bersifat sukarela.
Mereka juga menanggung sendiri biaya kantong sampah dan kebutuhan operasional lainnya. Meski diluncurkan sejak Maret, kampanye "Clean Myeong-dong" mulai mendapat perhatian lebih luas setelah pemerintah setempat mengintensifkan promosi pada bulan lalu.
Seorang pejabat Organisasi Pariwisata Seoul menyebut program ini sebagai bentuk kolaborasi pedagang dan Kantor Polisi Namdaemun dalam menangani persoalan sampah di kawasan tersebut.
Inisiatif Awal
Mengutip The Korea Times, kampanye "Clean Myeong-dong" berawal dari keluhan wisatawan yang kesulitan menemukan tempat sampah setelah menikmati kuliner di kawasan tersebut.
Menanggapi persoalan ini, Kantor Polisi Namdaemun Seoul menggagas gerakan kebersihan yang kemudian mendapat sambutan sukarela dari para pedagang lokal. Untuk membantu wisatawan mancanegara mengenali kios peserta, informasi kampanye disebarkan melalui enam pusat informasi wisata dan 15 gerai informasi resmi Organisasi Pariwisata Seoul.
Promosi juga merambah media sosial. Pemerintah Kota Seoul menggandeng HelpYun, influencer yang dikenal melalui konten edukasi bagi wisatawan asing, serta merilis video kampanye di kanal resmi Visit Seoul.
Video tersebut memperlihatkan kemudahan membuang gelas plastik bekas di kios peserta tanpa harus membeli produk mereka. Respons publik terbilang besar. Dalam 24 jam sejak diunggah pada awal November, video tersebut telah meraih lebih dari 2,85 juta penayangan di media sosial.
Dilema Tempat Sampah Publik
Di balik kampanye "Clean Myeong-dong," persoalan ketersediaan tempat sampah umum masih menjadi tantangan bagi pariwisata Seoul. Selama bertahun-tahun, wisatawan mengeluhkan sulitnya menemukan fasilitas pembuangan sampah di ruang publik.
Upaya pemerintah kota menambah jumlah tempat sampah sejak 2023 pun kerap menghadapi penolakan warga dan pemilik usaha. Seorang pejabat Kota Seoul menjelaskan, penambahan fasilitas membutuhkan konsultasi dengan pemerintah distrik.
Keluhan masyarakat sekitar juga menjadi pertimbangan dalam menentukan lokasi penempatannya. Persoalan ini berakar dari kebijakan pengelolaan sampah pada 1995. Saat Korea Selatan menerapkan sistem tarif berdasarkan volume sampah, Seoul memiliki 7.607 tempat sampah umum di jalanan.
Jumlahnya kemudian menyusut lebih dari separuh. Kebijakan tersebut bertujuan mencegah warga membuang limbah rumah tangga ke fasilitas publik demi menghindari biaya pengelolaan sampah.
Dongkrak Kunjungan Wisatawan
Inisiatif "Clean Myeong-dong" turut mendukung ambisi Seoul memperkuat sektor pariwisatanya. Sepanjang Januari hingga September, lebih dari 13 juta wisatawan mancanegara telah mengunjungi ibu kota Korea Selatan tersebut. Pemerintah menargetkan angka kunjungan mencapai 30 juta wisatawan per tahun pada 2030.
Jeong Chul, profesor pariwisata Universitas Hanyang, menilai penyediaan fasilitas pendukung pengunjung perlu mengikuti pertumbuhan jumlah wisatawan. Ia menyoroti pentingnya tempat sampah umum yang selama ini masih terbatas di sejumlah kawasan.
Pemerintah Seoul berencana memperluas kampanye Myeong-dong ke destinasi wisata dan pasar tradisional lainnya. Menariknya, keterbatasan fasilitas tersebut juga menjadi perhatian wisatawan asing. Di Alun-alun Gwanghwamun seluas 40.300 meter persegi, tempat sampah hampir tidak ditemukan di area terbuka.
"Menurut saya, sungguh mengesankan bahwa tidak ada tempat untuk membuang sampah di area seluas ini, tetapi jalanannya tetap bersih," ujar Letitia, wisatawan asal Spanyol.