Jepang Kembangkan Tongkat Tunanetra Berteknologi Sensor Suara

Sistem bernama blok braille berkode sedang diperkenalkan di 21 lokasi di seluruh Jepang, termasuk Balai Kota Setagaya di Tokyo.

oleh Nasywa FakhirahDiterbitkan 06 November 2026, 21:30 WIB
Ilustrasi tunanetra. Photo by CDC on Unsplash

Liputan6.com, Tokyo - Di Jepang, masyarakat akan melihat lebih dekat inisiatif dari W&M Systems LLC, perusahaan yang bertujuan menciptakan masyarakat di mana setiap orang, termasuk orang yang memiliki keterbatasan penglihatan, dapat menikmati kebebasan bergerak dan menjelajah.

Dikutip dari Japan Times, Jumat (6/11/2026), blok braille adalah salah satu bentuk infrastruktur ramah disabilitas yang pertama kali diperkenalkan di Prefektur Okayama, yang berada di bagian barat Jepang pada 1967. Sistem ini menggabungkan blok braille pemandu, yang memiliki empat garis timbul, dengan blok braille peringatan, yang memiliki titik timbul, untuk membantu penyandang disabilitas penglihatan bergerak dengan aman saat berjalan kaki.

CEO W&M System Hiroyasu Takayama yang melihat potensi baru dalam infrastruktur yang sudah tidak asing lagi ini.

Inspirasinya datang dari sensor berbentuk pena yang dikembangkan oleh insinyur utama Kazuya Chiba saat ia sedang mencari cara untuk berkomunikasi dengan ibunya yang memiliki penyakit langka. Ketika pena tersebut disentuhkan ke kertas yang dicetak dengan kode khusus, sensor tersebut akan memutar pesan yang sudah direkam seperti "Aku kepanasan" atau "Aku ingin minum air." Mekanisme ini terbukti menjadi sumber inspirasi utama.

Ketika mengenang kembali, Takayama berkata, "Saya berpikir mungkin kita bisa menerapkan mekanisme yang sama, memutar suara saat sensor menyentuh sesuatu, untuk membantu para penyandang disabilitas tunanetra bergerak dengan berjalan kaki. Dari situ, kami memulai proses panjang penuh percobaan."

Ide awalnya telah mengubah tongkat putih yang digunakan para tunanetra menjadi pena sentuh. Sebuah sensor dipasang di ujung tongkat dan petunjuk suara akan diputar saat pengguna menyentuh blok braille dengan ujung tongkat tersebut.

 

Proses Pembuatan Blok Braille

Potret tactile paving, atau braille blocks, yang membantu tuna netra untuk berjalan di trotoar. (dok. Unsplash/Asep Rendi)

Walaupun mereka berhasil menggunakan sensor tersebut untuk membaca informasi, debu dan kotoran yang menumpuk pada blok braille di luar ruangan membuat sensor itu tidak dapat digunakan lagi dalam waktu satu hari. Sensor yang terpasang pada ujung tongkat juga rentan patah atau terlepas sehingga sistem tersebut tidak praktis untuk digunakan sehari-hari.

"Bagi para tunanetra, tongkat putih adalah perpanjangan dari tubuh. Bahkan suatu sistem sepraktis atau seinovatif apapun, sistem tersebut tidak akan berfungsi jika tidak mudah digunakan."

Selanjutnya, mereka mengalihkan perhatian ke tonjolan-tonjolan pada blok braille itu sendiri. Dengan menambahkan tanda pada 25 tonjolan (yang disusun dalam kisi 5x5) pada blok braille peringatan, mereka menciptakan kode yang bisa dibaca dengan cara yang sama seperti kode QR. dengan memvariasikan tonjolan mana yang ditandai dengan warna hitam, sistem ini dapat menghasilkan lebih dari 30 juta kode unik.

Prototipe yang dikembangkan untuk mewujudkan konsep tersebut adalah perangkat yang rumit, yang mengharuskan pengguna memasang kamera mikro pada tongkat putih mereka, yang mengharuskan pengguna memasang kamera mikro pada tongkat mereka, menghubungkannya melalui kabel ke komputer dan baterai yang dikenakan di tubuh, serta memakai earphone.

Walaupun ide dan teknologi inovatif, para peserta uji coba mencatat bahwa banyak kabel membuat proses pemakaiannya merepotkan, dan hal itu akan menghalangi mereka untuk keluar rumah secara spontan.

Sebuah terobosan besar terjadi ketika Takayama berkonsultasi dengan temannya, Profesor Kunio Matsui dari Institut Teknologi Kanazawa di Prefektur Ishikawa di pesisir barat Jepang.

Berdasarkan saran Matsui bahwa masalah tersebut bisa diatasi dengan menggunakan smartphone, yang sudah menggabungkan kamera, komputer, dan kemampuan telekomunikasi, merekapun memulai pengembangan bersama. Lalu di tahun 2019, sistem pengenalan blok braille berkode mereka diluncurkan sebagai aplikasi ponsel bernama Walk and Mobile.

 

Petunjuk Lewat Audio

Ilustrasi Audio (Unsplash/C D-X)

Ciri khas dari sistem blok braille berkode ini adalah kemampuannya memberikan petunjuk suara yang berbeda-beda, tergantung pada arah mana dari empat arah yang sedang pengguna lalui. Aplikasi peta yang mengandalkan GPS sering tidak berfungsi di dalam ruangan atau di bawah tanah, dan bahkan di luar ruangan juga bisa mengalami penyimpangan hingga beberapa meter, membuat pengguna mudah kehilangan orientasi saat menavigasi.

Dengan menggunakan blok braille sebagai titik acuan fisik yang tetap, pengguna dapat memastikan lokasi mereka dengan akurasi tingkat sentimeter tanpa kehilangan orientasi.

"Tantangan terbesar bagi para tunanetra adalah ketika mereka kehilangan orientasi," jelas Takayama. "Coba tutup mata dan berputar-putar sebentar, lalu Anda akan kehilangan arah ke mana Anda menghadap. Ini yang dialami para tunanetra setiap hari."

Blok braille berkode ini juga secara mendasar berbeda dari sistem panduan rute dalam hal filosofi desainnya. Sementara banyak sistem ramah disabilitas dirancang untuk memandu pengguna ke tujuan tertentu, sistem W&M memiliki pandangan "masyarakat di mana semua orang yang dapat menikmati kebebasan untuk berkeliling sesuka hati."

Sistem panduan audio seperti "ada bangku di sana," "ada mesin penjual otomatis," ini mencakup jenis informasi yang secara alami dapat ditangkap oleh orang yang bisa melihat saat berjalan, dan hal-hal yang mungkin canggung untuk ditanyakan kepada orang lain seperti lokasi toilet terdekat.

Perusahaan ini telah menerima banyak tanggapan antusias dari pengguna, termasuk komentar seperti, "Rasanya seperti ada peta yang muncul di kepala saya," dan "Ini membuat saya merasa nyaman berjalan-jalan sendiri."

Memungkinkan kegiatan menjelajah seperti ini di kota seperti Tokyo, di mana setiap kali berjalan bisa menghadirkan penemuan baru, kemungkinan besar akan membantu menyebarkan visi tersebut lebih luas ke seluruh Jepang.

 

Penerapan Teknologi di Sektor Pariwisata

Pariwisata Jepang. (AFP Photo/Kazuhiro Nogi)

Per Juni 2026, blok braille berkode telah dipasang di 21 lokasi di seluruh Jepang, terutama di berbagai fasilitas di Tokyo seperti Kantor Kota Setagaya dan Kantor Kota Shinagawa di Tokyo, serta di Kota Kanazawa, Prefektur Ishikawa; Kota Shiojiri, Prefektur Nagano; Kota Tottori; dan Kota Hiroshima.

Karena sistem ini menyediakan jangkauan yang lancar di lingkungan dalam dan luar ruangan serta dilengkapi dengan mode evakuasi yang tetap berfungsi walau dalam keadaan offline, sistem ini bisa memberikan panduan suara yang membantu pengguna menuju tempat penampungan evakuasi terdekat saat terjadi bencana.

Perusahaan tersebut juga mencoba penerapan teknologi ini di sektor pariwisata lewat dukungan multibahasa. Di Kanazawa, mereka merencanakan peluncuran informasi tentang destinasi wisata lokal.

Mode ini juga diharapkan bisa membantu mengatasi kekurangan tenaga kerja di kalangan pemandu wisata dengan menawarkan panduan audio multibahasa tentang machiya (rumah tradisional Jepang) di sekitarnya, toko wagashi, serta tempat-tempat menarik lainnya di sekitar Taman Kastil Kanazawa.

Pemerintah Metropolitan Tokyo sedang menggalakkan langkah-langkah aksesibilitas tidak hanya di gedung-gedung, tapi juga di jalan-jalan dan fasilitas transportasi umum, lewat Peraturan Pengembangan Kota yang Ramah Kesejahteraan dan Peraturan Bangunan Tanpa Hambatan dan lainnya.

Namun, Takayama menekankan bahwa memperbaiki infrastruktur saja tidak cukup. Sama pentingnya untuk memasukkan sudut pandang para pengguna.

"Ketika orang membayangkan tunanetra, mereka cenderung membayangkan seseorang yang buta total. Namun pada kenyataannya, hanya sekitar 10 persen yang benar-benar buta. Sekitar 90 persen mengalami apa yang disebut penglihatan terbatas, artinya mereka mungkin masih dapat merasakan cahaya tetapi hanya melihat gambar yang kabur, atau mengalami kesulitan melihat di bagian tengah bidang pandang mereka. Cara mereka melihat sangat bervariasi dari satu orang ke orang lain."

 

Akses Harus Menyesuaikan Sang Pengguna

ilustrasi alat bantu disabilitas. Unsplash.

Dalam hal blok braille, yang penting bukan hanya menyediakan tonjolan fisik, tapi juga memastikan kontras yang cukup dengan permukaan trotoar di sekitarnya dengan menggunakan warna-warna yang sangat mencolok seperti kuning.

Menurut Takayama, mengutamakan estetika dan memasang blok dengan warna yang mirip dengan permukaan trotoar di sekitarnya, atau membuat jalur bercabang yang terlalu rumit dari blok braille, justru bisa menimbulkan kebingungan bagi para tunanetra.

"Garis pemisah antara apa yang benar-benar ramah disabilitas dan apa yang tidak terletak pada apakah infrastruktur tersebut dirancang bersama para pengguna itu sendiri, bukan dari sudut pandang mereka yang dapat melihat," tutur Takayama.

Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi, dan Pariwisata menerbitkan data numerik tentang penerapan infrastruktur ramah disabilitas di gedung-gedung dan transportasi umum. Namun, W&M Systems bekerja sama dengan Institut Teknologi Kanazawa sedang berupaya mengembangkan Indeks Pencapaian Ramah Disabilitas yang tak hanya mengukur infrastruktur fisik, tapi juga kemudahan penggunanya, termasuk faktor-faktor seperti kemudahan penggunaan dan pemahaman masyarakat.

"Orang-orang yang mengalami kesulitan melihat atau mendengar, orang-orang yang menggunakan kursi roda. Ada banyak jenis orang yang berbeda di kota-kota kita. Menurut saya, melakukan tindakan-tindakan kecil seperti memperhatikan orang-orang di sekitar kita dan menawarkan bantuan ketika seseorang terlihat kesulitan, akan menjadi langkah awal untuk mengubah masyarakat kita.”

Seiring dengan upaya Tokyo untuk terus meningkatkan infrastruktur perkotaannya, kota ini juga harus menanggapi pertanyaan apakah infrastruktur tersebut dapat diakses secara setara oleh semua orang. Upaya untuk memberikan "suara" pada blok braille secara perlahan mulai mengubah asumsi-asumsi yang selama ini menjadi landasan kehidupan sehari-hari.

Dengan berkembangnya blok braille, yang awalnya dikembangkan di Jepang, diharapkan blok tersebut akan menyebar dari Tokyo ke seluruh dunia sebagai bentuk infrastruktur sosial dan perwujudan standar baru untuk aksesibilitas tanpa hambatan, sebuah masyarakat di mana setiap orang dapat menikmati kebebasan berjalan-jalan sesuka hati.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya