Hotel Indonesia Bidik Peluang Baru pada 2027, Destinasi di Luar Bali Mulai Dilirik

IHG Hotels & Resorts melihat peluang pertumbuhan industri hotel Indonesia menjelang 2027, ditopang wisata domestik dan pengembangan destinasi baru.

oleh Alfareza RamadhaniDiterbitkan 05 November 2026, 12:00 WIB
IHG Hotels & Resorts Media Gathering: Supporting Indonesia’s Next Chapter of Tourism Growth membahas perkembangan industri perhotelan serta prospek pariwisata Indonesia menjelang 2027, Rabu, 4 November 2026. (Liputan6.com/Alfareza Ramadhani)

Liputan6.com, Jakarta - Industri hotel di Indonesia diperkirakan terus tumbuh pada 2027, didorong oleh meningkatnya perjalanan wisatawan domestik dan kunjungan turis mancanegara. Sejumlah faktor, seperti daya beli masyarakat, akses transportasi, dan daya tarik destinasi, turut memengaruhi pergerakan sektor tersebut.

Data Januari hingga Agustus 2026 mencatat 10,58 juta kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia. Jumlah ini meningkat 5,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Perjalanan wisatawan nusantara juga tumbuh 4,2 persen menjadi 842 juta perjalanan. Angka tersebut menjadi capaian tertinggi untuk periode Januari–Agustus sejak 2019.

Peningkatan aktivitas wisata turut tercermin dalam kinerja hotel. Berdasarkan data CoStar per 30 September 2026, rata-rata tarif harian hotel di Indonesia mencapai USD 78 atau sekitar Rp 1,42 juta. Angka ini naik 12,3 persen secara tahunan.

Pendapatan per kamar tersedia meningkat 9,8 persen menjadi USD 47 atau sekitar Rp 853 ribu. Sementara itu, tingkat okupansi hotel berada di kisaran 60 persen.

Managing Director Southeast Asia and Korea IHG Hotels and Resorts, Vivek Bhalla, menilai perjalanan domestik masih menjadi salah satu penggerak utama pariwisata Indonesia. Kunjungan untuk bertemu keluarga, berkumpul bersama kerabat, serta berlibur turut menopang permintaan akomodasi.

"Permintaan dari wisatawan mancanegara juga terus meningkat," katanya saat jumpa pers di Jakarta, Rabu, 4 November 2026.

Pergerakan wisatawan dari kawasan Asia Pasifik turut membuka peluang bagi industri hotel di Indonesia menjelang 2027. Kedekatan geografis, konektivitas penerbangan, serta meningkatnya mobilitas antarnegara di kawasan berpotensi mendorong permintaan akomodasi, terutama di destinasi dengan akses transportasi yang memadai.

Asia Pasifik Jadi Pasar Penting bagi Pertumbuhan Perhotelan Indonesia

IHG Hotels & Resorts Media Gathering: Supporting Indonesia’s Next Chapter of Tourism Growth membahas perkembangan industri perhotelan serta prospek pariwisata Indonesia menjelang 2027, Rabu, 4 November 2026. (Liputan6.com/Alfareza Ramadhani)

Sebanyak 91 persen pertumbuhan kunjungan wisatawan di Asia Pasifik pada 2026 berasal dari perjalanan antarnegara di kawasan tersebut. Australia, Malaysia, Jepang, Singapura, dan Korea Selatan juga masuk dalam 10 besar pasar sumber wisatawan IHG di Asia Pasifik pada periode tersebut.

"Pertumbuhan pariwisata kini semakin bergerak ke kawasan Timur, dan Indonesia memiliki berbagai potensi untuk mendapatkan manfaat dari perubahan ini," ucap Vivek.

Bali masih menjadi salah satu pusat pariwisata Indonesia. Namun, peluang pertumbuhan juga mulai terlihat di sejumlah destinasi lain seiring berkembangnya perjalanan wisata di dalam negeri. Lombok, Labuan Bajo, Yogyakarta, Medan, dan Manado menjadi sejumlah destinasi lain yang dinilai berpotensi menarik lebih banyak wisatawan.

Destinasi Lain Perlu Infrastruktur dan Akses yang Memadai

Vivek Bhalla, Managing Director, Southeast Asia & Korea, IHG, saat menghadiri IHG Hotels & Resorts Media Gathering: Supporting Indonesia’s Next Chapter of Tourism Growth, membahas perkembangan industri perhotelan serta prospek pariwisata Indonesia menjelang 2027, Rabu, 4 November 2026. (Liputan6.com/Alfareza Ramadhani)

Vivek menyebut bahwa minat wisatawan nusantara maupun mancanegara terhadap destinasi di luar Bali, Jakarta, dan Bandung terus meningkat. Pengembangan kawasan tersebut membutuhkan kesiapan infrastruktur dan akses transportasi, selain ketersediaan kamar hotel.

Konektivitas antardestinasi juga menjadi faktor penting untuk mendukung mobilitas wisatawan selama berlibur. Pengalaman saat penyelenggaraan MotoGP di Mandalika, misalnya, menunjukkan adanya permintaan terhadap Lombok.

Vivek mengungkap bahwa sejumlah pengunjung memilih menginap di Bali sebelum melakukan perjalanan ke Lombok. Kondisi ini menjadi salah satu gambaran pola perjalanan wisatawan yang mengunjungi kedua destinasi tersebut.

"Untuk setiap brand yang masuk ke suatu destinasi, dibutuhkan skala pasar tertentu agar dapat beroperasi dengan baik," kata dia.

Konektivitas dan Pemasaran Jadi Pekerjaan Rumah

Anil Pathak, Director of Operations, Indonesia IHG Hotels & Resorts, saat menghadiri IHG Hotels & Resorts Media Gathering: Supporting Indonesia’s Next Chapter of Tourism Growth, membahas perkembangan industri perhotelan serta prospek pariwisata Indonesia menjelang 2027, Rabu, 4 November 2026. (Liputan6.com/Alfareza Ramadhani)

Pengembangan hotel di destinasi baru membutuhkan kesiapan ekosistem pariwisata. Infrastruktur, konektivitas penerbangan, akses menuju tempat wisata, pemasaran daerah, dan pengalaman wisatawan menjadi sejumlah faktor yang saling berkaitan.

Director of Operations Indonesia IHG Hotels and Resorts, Anil Pathak, menilai pengembangan destinasi di luar Bali, Jakarta, dan Bandung perlu terus dipercepat. Promosi yang lebih terarah juga diperlukan agar destinasi yang mulai berkembang semakin dikenal wisatawan domestik maupun mancanegara.

"Pariwisata bergantung pada kombinasi infrastruktur, konektivitas, akses, dan pengalaman tamu. Semakin cepat hal-hal tersebut berkembang, semakin baik bagi sektor pariwisata," kata Anil.

Ketersediaan hotel perlu diimbangi kemudahan akses dan pilihan aktivitas wisata. Daya tarik destinasi juga berperan dalam mendorong wisatawan memperpanjang masa tinggal mereka.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya