Liputan6.com, Jakarta - Suara kereta yang melintas sudah menjadi bagian dari kehidupan Ibu Seger (52) sejak kecil. Bertahun-tahun tinggal di bantaran rel kawasan Pasar Senen, Jakarta Pusat, membuatnya terbiasa dengan suara bising, kondisi lingkungan yang kurang nyaman, hingga rasa khawatir setiap kali kereta melintas.
Kini, kehidupan Ibu Seger mulai berubah. Setelah direlokasi dari bantaran rel, ia menempati Hunian Sementara (Huntara) di kawasan Jalan Kramat Raya, Senen. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia bisa tinggal di tempat yang lebih aman tanpa harus terus dihantui kekhawatiran kereta melintas terlalu dekat.
Advertisement
Namun, keputusan meninggalkan bantaran rel bukan perkara mudah. Bagi Ibu Seger yang sehari-hari bekerja sebagai pengamen, persoalan utamanya adalah biaya tempat tinggal. Penghasilannya yang tidak menentu membuatnya kesulitan jika harus menyewa rumah sendiri.
"Kalau saya dari semenjak di rel memang khawatir juga, waktu kena kereta. Terus tidur juga kurang nyaman, apalagi tiap hari ada bongkaran. Saya juga sudah capek," cerita Ibu Seger saat ditemui di Huntara Senen.
Ia mengaku sempat menyampaikan kegelisahannya kepada petugas KAI ketika proses relokasi berlangsung. Bukan karena tidak ingin pindah, melainkan karena ia tidak tahu harus tinggal di mana jika tak lagi menempati kawasan bantaran rel.
"Saya bilang, kalau saya tinggalkan tempat ini, saya mau ngontrak pakai uang dari mana? Sedangkan saya sehari-hari pengamen. Penghasilan pengamen itu kan tidak tentu. Kadang ada uang, kadang tidak. Kalau tidak ada uang, saya mau bayar kontrakan pakai apa?" tuturnya.
Huntara Senen disiapkan bagi warga yang sebelumnya bermukim di bantaran rel kawasan Pasar Senen dan Pasar Gaplok. Berdasarkan laporan Liputan6.com pada 3 November 2026, sebanyak 69 keluarga telah menempati kawasan tersebut. Sejumlah unit hunian lainnya masih tersedia bagi warga yang akan direlokasi.
Bagi Ibu Seger, keberadaan hunian ini menjadi kesempatan untuk memulai kehidupan yang lebih aman dan layak.
Tak Lagi Dibebani Biaya Sewa, Fasilitas Huntara Cukup Membantu
Sekitar empat bulan tinggal di Huntara Senen, Ibu Seger mengaku belum dikenakan biaya sewa. Meski demikian, ia belum mengetahui apakah nantinya penghuni harus membayar setelah hunian tersebut diresmikan.
Untuk sementara, fasilitas yang tersedia cukup membantu kebutuhan sehari-harinya. Di dalam kamar terdapat dua kasur, lemari, dan kipas angin. Penghuni juga dapat menggunakan air bersih, dapur bersama, serta tempat mencuci pakaian.
"Alhamdulillah airnya bagus, bersih. Terus juga ada dapur bersama dan tempat buat nyuci baju. Saya senang saja tinggal di sini, alhamdulillah banget sudah dapat tempat seperti ini," ungkapnya.
Meski tempat tinggalnya kini lebih baik, persoalan ekonomi masih menjadi bagian dari keseharian Ibu Seger. Ia tetap mengamen untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sesekali, ia juga membantu anaknya berjualan gorengan.
Penghasilan dari mengamen tidak selalu sama. Saat kondisi ramai, ia bisa membawa pulang sekitar Rp 50 ribu sehari. Namun, ketika sepi, pendapatannya hanya berkisar Rp 30 ribu hingga Rp 35 ribu.
"Kalau lagi ramai bisa Rp50 ribu. Kalau lagi sepi ya Rp30 ribu, Rp35 ribu. Ya cukup buat makan-makan saja," katanya.
Penghasilan tersebut membuat keluarga harus berhati-hati mengatur pengeluaran. Bahkan, rencana menyekolahkan cucunya belum dapat diwujudkan karena keterbatasan biaya.
Ibu Seger bercerita, anaknya sebenarnya sempat berencana menyekolahkan sang cucu. Namun, kebutuhan awal seperti membeli buku dan seragam masih menjadi beban tersendiri. Apalagi, anaknya juga bekerja sebagai pengamen dengan pendapatan yang tidak menentu.
Berharap Ada Bantuan Sembako untuk Kebutuhan Sehari-hari
Di tengah keterbatasan ekonomi, Ibu Seger tetap menyimpan harapan agar kehidupan warga Huntara Senen mendapat perhatian lebih. Salah satu bantuan yang paling dibutuhkannya adalah sembako, terutama beras.
Baginya, bantuan bahan pokok dapat mengurangi pengeluaran rumah tangga. Dengan tersedianya beras, ia dan penghuni lainnya bisa lebih mudah memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.
"Harapan saya kalau di sini ada bantuan-bantuan, seperti sembako. Beras, karena kita di sini juga masak. Kalau ada beras, kita tinggal masak saja," ujarnya.
Meski masih menghadapi berbagai kesulitan, Ibu Seger mengaku bersyukur bisa menempati Huntara. Ia menyampaikan terima kasih kepada pemerintah dan pihak KAI yang telah menyediakan tempat tinggal bagi warga yang sebelumnya bermukim di bantaran rel.
Bagi dirinya, hunian tersebut bukan sekadar tempat untuk berteduh. Ada rasa aman yang kini bisa dirasakan, sesuatu yang dahulu sulit diperoleh ketika tinggal berdekatan dengan jalur kereta.
Namun, kehidupan baru itu belum serta-merta menghapus persoalan yang selama ini dihadapinya. Ibu Seger masih harus mengandalkan penghasilan harian untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan memikirkan pendidikan cucunya.
Kini, ia tak lagi harus tidur dengan kekhawatiran kereta melintas di dekat tempat tinggalnya. Di Huntara Senen, Ibu Seger berharap bisa menjalani hari-hari dengan lebih tenang, sembari menanti kesempatan agar kehidupan keluarganya perlahan menjadi lebih baik.