Harga Minyak Dunia Turun, Pasar Berharap AS dan Iran Damai

Harga minyak dunia turun untuk hari kedua setelah muncul harapan AS dan Iran mencapai kesepakatan diplomatik.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 04 November 2026, 07:40 WIB
Kenaikan harga minyak dunia dipicu situasi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Tampak dalam foto, harga bensin yang melebihi 8 delapan dolar AS per galon tertera di sebuah SPBU Chevron di Los Angeles, California, pada 28 April 2026. (Frederic J. BROWN/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia kembali melemah untuk hari kedua berturut-turut pada perdagangan Selasa. Penurunan ini terjadi di tengah harapan pasar bahwa Amerika Serikat (AS) dan Iran dapat mencapai kesepakatan diplomatik untuk mengakhiri konflik yang telah mengganggu pasokan energi global selama delapan bulan terakhir.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 37 sen menjadi US$ 96,09 per barel. Harga WTI bahkan sempat bergerak di bawah US$ 95 per barel dalam sesi perdagangan.

Sementara itu, minyak mentah Brent yang menjadi acuan internasional terkoreksi US$ 1,17 menjadi US$ 103,60 per barel.

Pelemahan harga minyak terjadi setelah beredar kabar bahwa Washington dan Teheran mulai menunjukkan kemajuan dalam upaya mencapai kesepakatan.

Pada Senin, harga minyak bahkan sempat anjlok lebih dari 7% setelah kedua negara memberikan sinyal terbuka untuk membahas penyelesaian konflik.

Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada wartawan bahwa Teheran ingin mencapai kesepakatan dan peluang tersebut masih terbuka.

“Mereka ingin mencapai kesepakatan dan hal itu bisa saja terwujud," kata dia dikutip dari CNBC, Rabu (4/11/2026).

Menunggu Hasil Perundingan

Kenaikan harga minyak dunia dipicu situasi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Tampak dalam foto, harga bensin yang melebihi 8 delapan dolar AS per galon tertera di sebuah SPBU Chevron di Los Angeles, California, pada 28 April 2026. (Frederic J. BROWN/AFP)

Upaya diplomasi tersebut juga melibatkan Qatar. Kementerian Luar Negeri Qatar menyatakan, negara itu masih memediasi pembicaraan antara AS dan Iran.

Delegasi Qatar telah mengadakan pertemuan di Teheran untuk mencari kesepakatan yang dapat mencegah eskalasi konflik di kawasan sekaligus mengakhiri perseteruan kedua negara.

Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menegaskan Teheran tidak akan menerima diplomasi yang didasarkan pada tekanan atau pemaksaan. Pernyataan tersebut disampaikan melalui kantor berita pemerintah Iran, Islamic Republic News Agency.

Hingga kini, belum diketahui secara pasti sejauh mana perkembangan perundingan kedua negara.

Sebelumnya, pasar minyak telah memperhitungkan risiko meningkatnya konflik setelah pemilu paruh waktu AS. Kekhawatiran muncul menyusul laporan bahwa Washington tengah menyusun rencana serangan terhadap Iran. Situasi tersebut turut mendorong harga minyak naik lebih dari 10% sepanjang Oktober.

Empat Serangan ke Kapal

Sebuah perahu motor melintas di dekat kapal-kapal komersial yang berlabuh di tengah kabut di Selat Hormuz, lepas pantai Bandar Abbas, Iran, Senin (7/9/2026). (Dok. AP Photo/Vahid Salemi)

Ketegangan di Timur Tengah masih tinggi dan risiko pecahnya kembali pertempuran belum sepenuhnya hilang. Pejabat AS menyampaikan kepada The Wall Street Journal bahwa Washington menyerang Pulau Qeshm di Iran pada Senin. AS juga disebut telah melakukan serangan militer terbatas dalam beberapa pekan terakhir.

Di sisi lain, kapal-kapal komersial masih menghadapi ancaman serangan di Teluk Persia, Selat Hormuz, dan Teluk Oman. Setidaknya empat serangan terhadap kapal dilaporkan sejak awal bulan ini.

Meski demikian, pemerintahan Trump tetap membuka peluang penyelesaian melalui jalur diplomasi. Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan kepada CNN bahwa dirinya dan Trump optimistis terhadap peluang tercapainya kesepakatan.

Presiden AS juga disebut lebih memilih penyelesaian diplomatik dibandingkan penggunaan kekuatan militer.

Tingginya harga minyak turut meningkatkan inflasi dan harga bensin di AS. Kondisi ini menjadi perhatian Trump menjelang pemilu paruh waktu. Pekan lalu, dua pejabat Federal Reserve menyatakan suku bunga perlu dinaikkan untuk mengendalikan inflasi. Langkah tersebut dapat menekan pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan biaya konsumen, tetapi membantu meredam kenaikan harga.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya