Liputan6.com, Washington, DC - Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan ke Pulau Qeshm, Iran, yang berada di Selat Hormuz. Pejabat AS mengonfirmasi serangan tersebut kepada CBS, mitra BBC di Amerika Serikat.
Sementara itu, kantor berita pemerintah Iran, IRNA, melaporkan sejumlah ledakan terjadi di pulau tersebut pada Senin.
Advertisement
Para pejabat AS menyebut serangan itu berskala terbatas dan merupakan respons atas tindakan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) yang menembaki sebuah pesawat AS.
BBC telah menghubungi Komando Pusat AS (CENTCOM), yang bertanggung jawab atas operasi militer AS di Timur Tengah, untuk meminta keterangan terkait serangan tersebut.
Serangan ini terjadi menjelang pemilihan paruh waktu atau midterm elections di AS. Pemilu tersebut akan menentukan apakah Partai Republik atau Partai Demokrat menguasai Kongres.
Di tengah situasi tersebut, Presiden AS Donald Trump menghadapi penurunan angka dukungan dalam jajak pendapat serta tekanan dari internal partainya agar segera mengakhiri perang dengan Iran. Konflik itu dimulai ketika AS dan Israel menyerang Iran pada Februari lalu.
Trump Tak Ingin Terburu-buru Tingkatkan Serangan
Pada Senin, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa dirinya tidak terburu-buru untuk meningkatkan serangan terhadap Iran.
"Kita akan melakukan sesuatu, dengan satu cara atau lainnya, tetapi tidak perlu terburu-buru. Kami telah melumpuhkan mereka secara finansial," kata Trump kepada media Axios.
"Mereka tidak punya uang, tidak punya bensin, dan rakyat mereka semakin lelah dengan situasi ini," lanjutnya.
Dalam wawancara dengan Fox News menjelang pemilu paruh waktu, Trump juga mengatakan AS mungkin perlu menyerang Pickaxe, sebuah lokasi yang terkait dengan program nuklir Iran.
Menurut Trump, serangan terhadap lokasi tersebut bukan persoalan besar dan dapat dilakukan dalam waktu satu jam.
Dalam beberapa hari terakhir, muncul spekulasi bahwa AS akan kembali melancarkan serangan besar-besaran ke Iran setelah pemilu paruh waktu. Namun, ketika ditanya seorang wartawan pada Senin apakah hal tersebut benar, Trump menjawab, "Tidak".
Iran Sebut Perundingan dengan AS Berlangsung Intensif
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan kepada IRNA bahwa pembicaraan untuk mengakhiri perang dengan AS tengah berlangsung melalui para mediator.
Araghchi menyebut perundingan tersebut berlangsung sangat intensif. Ia juga menegaskan bahwa Teheran telah mempersiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan, baik melalui jalur diplomasi maupun militer, lebih dari sebelumnya.
Menurut dia, kini AS harus menentukan pilihan antara menempuh jalan bijak melalui perundingan atau melakukan kesalahan dengan melancarkan agresi militer.