Modal Utang Rp 363 Juta, Perempuan Ini Sukses Bangun Bisnis Pakaian Olahraga

CEO merek pakaian santai asal AS ini rela ambil utang dan kesulitan dalam bangun bisnis. Simak cerita lengkapnya.

oleh Cahya Alena FauzaDiterbitkan 03 November 2026, 07:00 WIB
CEO merek pakaian santai asal AS ini rela ambil utang dan kesulitan dalam bangun bisnis. Simak cerita lengkapnya. (unsplash.com/@martenbjork)

Liputan6.com, Jakarta - CEO Set Active, Lindsey Carter (35) mengalami berbagai gejolak pribadi, meminjam utang kredit, hingga kesulitan membagi waktu, tetapi kini perusahaan miliknya sukses besar. Dari awal, dia tidak menganggap enteng menjadi entrepreneur.

Melansir CNBC Make It, Selasa (3/11/2026), Carter mengambil utang kartu kredit pribadi sebesar US$ 20.000, atau Rp 363,1 juta (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 18.158) untuk mendirikan bisnisnya. Selain itu, rumah Carter di Los Angeles dipenuhi barang-barang persediaan saat ia mendirikan perusahaan pakaian olahraga tersebut pada Mei 2018.

Namun, berbagai tantangan, yang dialami banyak entrepreneur, menghujamnya seiring ia berusaha menaikkan bisnis di industri pakaian olahraga yang sudah ramai. Membutuhkan banyak waktu baginya untuk dapat membagi stres pekerjaan dengan kehidupan pribadi.

“Saya mulai paham bahwa kesulitan tak selalu berarti ada yang salah. Terkadang itu memang realita dalam membangun sesuatu yang ambisius,” ujar Carter.

"Jika saya membiarkan setiap penghalang merebut kebahagiaan saya, saya akan menghabiskan waktu yang lama menjadi tak bahagia," ujar dia.

Set Active memang bukan perusahaan raksasa, tetapi, menurut dokumen yang ditelaah oleh CNBC Make It, perusahaan tersebut membukukan penjualan bersih delapan digit pada tahun 2025 dan menghasilkan laba.

Hal ini terjadi di tengah melambatnya pertumbuhan pasar pakaian olahraga secara general. Pengeluaran untuk pakaian olahraga wanita di AS meningkat 2% antara Oktober 2025 dan September 2026, turun dari 7% pada 12 bulan sebelumnya, menurut data dari perusahaan riset pasar Circana.

Peluang Bisnis yang Besar

CEO merek pakaian santai asal AS ini rela ambil utang dan kesulitan dalam bangun bisnis. Simak cerita lengkapnya. (unsplash.com/@krakenimages)

Pakaian olahraga mencakup 30% dari pengeluaran untuk pakaian di AS, ujar analis industri pakaian Circana, Kristen Classi-Zummo. Dewasa ini, menurut Classi-Zummo, para pembeli lebih tertarik pada pakaian kasual dan pakaian santai, seperti celana olahraga dan kaus olahraga, daripada pakaian yang lebih cocok untuk aktivitas fisik seperti legging dan bra olahraga.

Ini merupakan peluang besar bagi Carter, yang menjual pakaian bercorak dan berwarna yang tak hanya untuk olahraga. Sebelumnya, Carter membangun perusahaan media sosialnya sendiri. Saat berbelanja di Los Angeles, dia kesulitan mencari pakaian olahraga yang bisa dikenakan saat mengurus keperluan, bertemu teman, atau bekerja di rumah.

"Semuanya berisi pose yoga dan headstand, dan saya merasa, ‘Itu bukan saya," ujarnya.

Ide bisnisnya menjadi lebih nyata saat seorang rekan menghubungkannya dengan profesional produksi. Dia memutuskan untuk membeli beberapa sampel, mendapatkan timbal balik dari teman-temannya, dan menggambar langsung di produknya dengan spidol permanen di ruang makannya sebelum mengirimnya kembali ke desainer produsen tersebut, kata Carter.

Halangan Pribadi hingga Profesional

CEO merek pakaian santai asal AS ini rela ambil utang dan kesulitan dalam bangun bisnis. Simak cerita lengkapnya. Dok Unsplash

Mengambil utang untuk secara resmi meluncurkan bisnisnya hanyalah salah satu dari banyak penghalang yang dihadapinya dalam mengembangkan Set Active. Beberapa alasan lainnya adalah alasan pribadi.

Carter memiliki dua anak setelah memulai bisnisnya dan tidak pernah mengambil cuti kehamilan. Kini dia menyebut keputusan tersebut sebagai “mungkin salah satu kesalahan besar yang pernah dibuat.”

Dia mengalami apa yang disebutnya sebagai gejala depresi pasca kelahiran pada 2023, dan merasa seperti versi buruk dari dirinya sendiri selagi menjalankan startup miliknya.

“Saya mengecewakan orang-orang. Saya mengecewakan teman-teman. Saya mengecewakan karyawan, dan saya bukan versi terbaik diri saya,” dia mengungkapkan.

Tantangan lainnya merupakan tantangan profesional. Pada 2026, Set Active kesulitan untuk secara konsisten mengirim pesanan ke pelanggan secara tepat waktu. Alasannya beragam, menurutnya, meski tak mengungkap rinciannya. Kini, taruhannya sangat tinggi menjelang musim belanja liburan.

Keseimbangan Pekerjaan dan Kehidupan

CEO merek pakaian santai asal AS ini rela ambil utang dan kesulitan dalam bangun bisnis. Simak cerita lengkapnya. (dok. Benjamin Dada/Unsplash)

Pada 19 Oktober, Carter menuliskan di Instagram bahwa Set Active akan membatalkan peluncuran produk pada Black Friday dan Cyber Monday hingga pengumuman selanjutnya. Perusahaan tersebut tidak akan meluncurkan pakaian apa pun sampai produk-produk tersebut tiba di gudang perusahaan di Los Angeles, sehingga berpotensi mengancam proyeksi penjualan senilai lebih dari US$ 10 juta, atau Rp 181,5 miliar selama hari-hari belanja terpopuler dalam setahun, tulisnya.

“Saya memalingkan diri dari pendapatan besar. Namun, pada akhirnya, saya membangun merek ini dengan transparansi dan komunitas, dan pelanggan harus diutamakan bagi saya. Saya lebih memilih mementingkan pelanggan dibanding mencapai tujuan penghasilan,” Carter membeberkan.

Hari kerja yang melelahkan terkadang masih membuatnya sulit tidur di malam hari, tetapi ia mengaku telah belajar cara pulang ke rumah menemui keluarganya dengan rasa syukur. Ia merasa puas saat memecahkan masalah dan melakukan pekerjaan yang ia yakini, tambahnya.

"Saya hanya menjalani hari demi hari dengan pola pikir bahwa tantangan adalah peluang, dan saya tidak benar-benar menganggapnya sebagai musuh,” kata Carter.

Dia menambahkan, “Saya pikir ketika Anda memutuskan untuk menjadi wirausaha, Anda juga siap menghadapi apa pun yang akan dihadirkan oleh perjalanan tersebut.”

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya