Liputan6.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat fenomena El Nino 2026 berdampak lebih kuat terhadap kondisi pertanaman padi dibandingkan El Nino 2023. Luas pertanaman atau standing crop padi pada September 2026 turun 3,1 poin persentase dibandingkan September 2023 akibat gangguan pasokan air.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan hasil pemantauan BPS menunjukkan kondisi El Nino 2026 secara umum lebih kuat dibandingkan fenomena serupa pada 2023.
Advertisement
“Catatan kami dari BMKG, kondisi El Nino di tahun 2026 secara umum lebih kuat dibandingkan dengan El Nino di tahun 2023,” ujar Ateng dalam konferensi pers di Kantor BPS, Senin (2/11/2026).
Ateng menjelaskan kekeringan akibat El Nino mengganggu pertanaman padi, terutama di wilayah yang bergantung pada pasokan air. Kondisi tersebut tercermin dari penurunan luas pertanaman padi sebesar 3,1 poin persentase pada September 2026 dibandingkan periode yang sama pada 2023.
Sebaliknya, BPS mencatat peningkatan luas lahan sawah yang diberakan atau tidak diolah setelah panen. Kondisi tersebut menunjukkan adanya gangguan aktivitas pertanaman di tengah keterbatasan pasokan air.
“El Nino identik dengan kekeringan dan pada beberapa wilayah suplai airnya cukup kesulitan,” kata Ateng.
Selain tanaman pangan, BPS juga mencatat dampak El Nino terhadap pertanaman hortikultura yang membutuhkan ketersediaan air selama proses budidaya. Besarnya dampak tersebut bergantung pada kondisi irigasi dan ketergantungan wilayah terhadap pasokan air.
Ateng menyebut wilayah dengan sistem irigasi yang baik memiliki kondisi berbeda dibandingkan wilayah yang lebih bergantung pada kondisi cuaca dan curah hujan.