Liputan6.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia mencapai US$ 221,23 miliar sepanjang Januari hingga September 2026. Nilai tersebut meningkat 5,58% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yang terutama ditopang oleh pertumbuhan ekspor industri pengolahan sebesar 8,93%.
Ekspor nonmigas menjadi penopang utama dengan raihan nilai US$ 212,27 miliar atau meningkat 6,30%. Sebaliknya, ekspor migas tercatat mengalami penurunan sebesar 9,11% menjadi US$ 8,96 miliar.
Advertisement
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan bahwa industri pengolahan menjadi motor pendorong utama peningkatan ekspor nonmigas Indonesia.
“Peningkatan nilai ekspor nonmigas secara kumulatif terutama terjadi pada sektor industri pengolahan yang meningkat cukup tinggi, yaitu 8,93%,” ujar Ateng dalam konferensi pers di Kantor BPS, Jakarta, Senin (2/11/2026).
BPS mencatat peningkatan ekspor nonmigas ini didominasi oleh lemak dan minyak hewani/nabati, nikel dan barang daripadanya, serta bahan bakar mineral. Produk olahan nikel, minyak kelapa sawit (CPO), kimia dasar organik, aluminium, dan tembaga menjadi komoditas utama yang mendorong laju ekspor sektor industri pengolahan.
Negara Tujuan Utama Ekspor
Dari sisi negara tujuan, ekspor nonmigas ke Tiongkok mencapai US$ 54,17 miliar atau melonjak 16,70% dibandingkan periode Januari–September 2025. Di posisi berikutnya, ekspor ke Amerika Serikat mencapai US$ 25,39 miliar, sedangkan ekspor ke India tercatat sebesar US$ 15,00 miliar.
Secara keseluruhan, Tiongkok, Amerika Serikat, dan India menyumbang 44,55% terhadap total ekspor nonmigas Indonesia. Ateng menyebut ekspor ke Tiongkok terutama ditopang oleh komoditas nikel, lemak dan minyak hewani/nabati, serta bahan bakar mineral.
“Jika dibandingkan secara kumulatif dengan periode yang sama pada tahun 2025, ekspor nonmigas ke Tiongkok, Amerika Serikat, India, dan juga kawasan ASEAN mengalami peningkatan,” tutur Ateng.
Meski demikian, BPS mencatat bahwa ekspor nonmigas ke Uni Eropa dan sejumlah kawasan tujuan lainnya masih mengalami penurunan.
Kinerja Ekspor September 2026
Khusus pada September 2026, nilai ekspor Indonesia tercatat sebesar US$ 27,59 miliar, naik 11,87% secara tahunan (year-on-year). Ekspor nonmigas tumbuh 12,39% menjadi US$ 26,64 miliar, sedangkan ekspor migas melandai 0,99% menjadi US$ 0,95 miliar.
Kenaikan ekspor pada bulan September terutama didorong oleh lonjakan pengiriman lemak dan minyak hewani/nabati yang tumbuh 89,04%, tembaga dan barang daripadanya sebesar 165,97%, serta mesin dan perlengkapan elektrik sebesar 24,37%.
Berdasarkan sektornya, industri pengolahan mendominasi ekspor nonmigas September 2026 dengan nilai US$ 23,27 miliar atau berkontribusi hingga 87,36%. Nilai ekspor sektor ini meningkat 16,78% secara tahunan.
Sebaliknya, ekspor dari sektor pertambangan dan lainnya terkoreksi 9,37%, sementara sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mengalami penurunan hingga 18,14%.
Adapun untuk komoditas unggulan nasional, ekspor besi dan baja naik 4,15% sepanjang Januari–September 2026. Ekspor CPO dan turunannya tumbuh 16,14%, serta batu bara meningkat 4,86%. Ketiga komoditas utama ini menyumbang 29,10% terhadap total ekspor nonmigas Indonesia.