Menakar Masa Depan Sustainable Fashion, dari Upcycling hingga Merawat Karya Perajin Lokal

Melalui Designers Talk, Kedutaan Besar Australia dan RMIT menghadirkan desainer Australia untuk berbagi perspektif tentang praktik sustainable fashion.

oleh Dia FatimahDiterbitkan 02 November 2026, 10:00 WIB
Kedutaan Besar Australia dan RMIT menggelar Designers Talk yang membahas upaya mengurangi limbah tekstil dan menerapkan sustainable fashion di RMIT Southeast Asia Hub, Jakarta (31/10/2026) (Liputan6.com/ Dia Fatimah)

Liputan6.com, Jakarta - Di balik setiap koleksi busana, ada proses panjang yang turut menentukan dampaknya terhadap lingkungan. Mulai dari pemilihan material, teknik produksi, hingga cara pakaian dimanfaatkan, seluruh tahapan menjadi bagian penting dalam penerapan sustainable fashion.

Prinsip ini juga mendorong desainer untuk lebih cermat mengolah bahan dan merancang busana tanpa mengesampingkan estetika, kualitas, serta nilai fungsional. Perhatian terhadap daya tahan pakaian dan efisiensi penggunaan sumber daya turut menjadi pertimbangan dalam menciptakan rancangan yang lebih bertanggung jawab.

Namun, menerapkan fesyen berkelanjutan bukan perkara sederhana. Setiap aktivitas dalam industri mode tetap memiliki konsekuensi terhadap lingkungan. Kesadaran untuk membuat pilihan yang lebih bertanggung jawab pun perlu tumbuh, baik di kalangan desainer, pekerja industri, maupun konsumen.

Kebiasaan membeli pakaian, mengikuti tren, serta memperpanjang usia pakai busana juga menjadi bagian dari perubahan tersebut.

"Sebagai desainer fesyen, pembeli, maupun orang yang bekerja di bidang ini, kita perlu membuat pilihan setiap hari berdasarkan hal yang kita rasa nyaman untuk dilakukan," ujar Dr. Tassia Joannides, Associate Dean Fashion di RMIT School of Fashion and Textiles, dalam Designers Talk yang digelar Kedutaan Besar Australia bersama RMIT Southeast Asia Hub di Jakarta, Sabtu, 31 Oktober 2026.

Menurut Tassia, penerapan prinsip keberlanjutan juga membutuhkan perubahan pada sistem produksi. Pemilihan material, teknik pembuatan busana, dan pengelolaan limbah menjadi aspek yang perlu diperhatikan agar praktik industri fesyen semakin bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Kemeja Bekas Disulap Jadi Busana Baru

Kedutaan Besar Australia dan RMIT menggelar Designers Talk yang membahas upaya mengurangi limbah tekstil dan menerapkan sustainable fashion di RMIT Southeast Asia Hub, Jakarta (31/10/2026) (Liputan6.com/ Dia Fatimah).

Salah satu pendekatan yang menarik dalam praktik fesyen berkelanjutan adalah upcycling, yakni mengolah kembali pakaian yang sudah ada menjadi busana dengan tampilan dan karakter baru. Praktik ini menjadi bagian dari perjalanan kreatif Shiva Yousefpour saat menempuh pendidikan desain fesyen di Sydney.

Kala itu, ia mendapat kesempatan mengolah kemeja bisnis pria dari merek Australia, MJ Bale, yang tidak lagi digunakan karena cacat produksi. "Mungkin saya bisa memberi kesempatan baru pada pakaian yang sudah ada dan menghadirkan cerita berbeda melalui pakaian tersebut," ujar Shiva, desainer sekaligus pendiri SHIYO.

Untuk koleksi kelulusannya, ia bereksperimen selama tiga bulan tanpa memotong kain. Ia mengeksplorasi teknik lipat, smocking, jahitan tangan sashiko, serta pewarna alami dari eucalyptus dan kopi.

Pendekatan eksperimental ini kemudian membentuk identitas SHIYO melalui perpaduan latar budaya Persia dan inspirasi kerajinan Jepang yang dipelajarinya dari desainer Akira.

Memperpanjang Usia Pakaian

Kedutaan Besar Australia dan RMIT menggelar Designers Talk yang membahas upaya mengurangi limbah tekstil dan menerapkan sustainable fashion di RMIT Southeast Asia Hub, Jakarta (31/10/2026) (Liputan6.com/ Dia Fatimah).

Bagi Kate Reynolds dari Pageant, sustainable fashion tidak terlepas dari kualitas busana dan proses produksinya. Dalam menjalankan label di Australia, ia selektif memilih material serta menjalin kerja sama dengan produsen dan pemasok berskala kecil.

Prinsip tersebut terlihat dalam kolaborasi Pageant dengan Hyatt Centric. Mereka memanfaatkan kembali arsip desain, sampel, potongan kain, hingga aksesori yang telah tersedia. Berbagai material tersebut kemudian diolah menjadi rancangan baru melalui eksplorasi warna, tanpa harus membuat pola dari awal.

Kate juga menyoroti peran konsumen dalam memperpanjang usia pakai pakaian. Merawat dan memperbaiki busana menjadi langkah sederhana yang bisa dilakukan. Selain itu, ia mendorong kebiasaan membeli lebih sedikit, memilih pakaian berkualitas, serta mendukung desainer yang menerapkan praktik produksi lebih bertanggung jawab.

Membuka Peluang Lewat Potensi Lokal

Kedutaan Besar Australia dan RMIT menggelar Designers Talk yang membahas upaya mengurangi limbah tekstil dan menerapkan sustainable fashion di RMIT Southeast Asia Hub, Jakarta (31/10/2026) (Liputan6.com/ Dia Fatimah)

Penerapan sustainable fashion juga dapat dilakukan dengan mengoptimalkan potensi kerajinan lokal. Indonesia memiliki kekayaan perajin dan keterampilan tradisional yang dapat mendukung pengembangan fesyen berkelanjutan.

Potensi ini bisa dikembangkan melalui kolaborasi antara desainer dan pelaku kerajinan, dengan tetap menghargai keahlian serta pengetahuan yang dimiliki setiap daerah.

Dr. Tassia menilai keterampilan perajin dan ketersediaan sumber daya lokal dapat menjadi modal penting bagi industri fesyen. Menurutnya, desainer perlu melibatkan para perajin dalam proses kreatif agar kontribusi mereka turut diakui.

Ia juga menekankan bahwa praktik berkelanjutan tidak harus diwujudkan dengan meningkatkan jumlah produksi. Mengurangi skala produksi dan mengoptimalkan material yang sudah tersedia dapat menjadi langkah untuk menekan penggunaan sumber daya baru.

Pendekatan tersebut memberi peluang bagi desainer untuk mengeksplorasi material dan teknik kerajinan lokal dalam menciptakan busana, sekaligus melibatkan lebih banyak perajin dalam industri fesyen.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya