Liputan6.com, Jakarta - Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) membuka cara baru bagi pelaku usaha untuk mengembangkan bisnis. Melalui berbagai perangkat digital, wirausahawan penyandang disabilitas kini memiliki peluang lebih luas promosi, jangkau konsumen dan perluas pasar tanpa terbatas kondisi fisik.
Hal ini seperti disampaikan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas (Unand), Prof. Dessy Kurnia Sari.
Advertisement
AI dapat membantu pelaku usaha memahami pasar, mengembangkan komunikasi yang lebih relevan dengan konsumen, serta menghasilkan konten promosi secara lebih efisien sesuai karakter kelompok konsumen tertentu.
Kemudahan tersebut memberikan kesempatan bagi wirausahawan disabilitas untuk memasarkan berbagai produk, mulai dari makanan, kerajinan, fesyen, hingga karya kreatif lainnya secara lebih mandiri.
Kajian pemasaran yang dilakukan bersama tim Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unand pada 2026 menunjukkan keputusan pembelian konsumen tidak hanya dipengaruhi oleh popularitas produk, tetapi juga kesesuaian nilai merek dengan diri konsumen.
Sebuah merek dapat membangun kedekatan dengan konsumen ketika mencerminkan kreativitas, kepedulian sosial, keberagaman, maupun nilai-nilai yang dihargai masyarakat.
Oleh karena itu, wirausahawan disabilitas perlu mengembangkan merek dengan karakter kuat melalui komunikasi pemasaran yang menonjolkan kreativitas, ketekunan, serta kemampuan menghasilkan produk berkualitas.
Pendekatan pemasaran juga perlu menghindari ketergantungan pada belas kasihan. Produk yang dihasilkan wirausahawan disabilitas harus mampu bersaing berdasarkan kualitas, manfaat, dan nilai yang ditawarkan sehingga memperoleh kesempatan yang setara di pasar.
“Pelaku usaha disabilitas perlu ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem bisnis yang kompetitif. Konsumen diharapkan memilih produk karena mutu dan kegunaannya, bukan semata-mata karena rasa iba terhadap kondisi pembuatnya,” tutur Dessy mengutip Antara.
Pemberdayaan wirausahawan disabilitas tidak cukup hanya melalui pelatihan penggunaan media sosial atau aplikasi AI. Pelaku usaha juga membutuhkan pendampingan untuk meningkatkan kualitas produk, memahami kebutuhan konsumen, serta membangun merek yang berdaya saing.
AI dapat membantu produk lebih mudah ditemukan konsumen, tetapi kualitas, kepercayaan, dan kedekatan dengan konsumen tetap menjadi faktor penting agar produk dapat diterima dan berkembang di pasar.