Konsultasi Keuangan: Bagaimana Jalankan Frugal Living Tanpa Korbankan Keluarga?

Frugal living bukan sekadar berhemat. Kenali cara mengevaluasi pengeluaran rumah tangga dan membangun tabungan secara konsisten.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 31 Oktober 2026, 11:00 WIB
Budi Raharjo, CFP. Financial Planner Shildt. (Ist)

Liputan6.com, Jakarta - Saya pekerja swasta di Jakarta dan sudah berkeluarga. Saya memiliki seorang anak yang masih bersekolah. Penghasilan saya sekitar Rp 10 juta per bulan. Istri juga bekerja, tetapi penghasilannya lebih banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan anak dan keperluan rumah tangga lainnya.

Setiap bulan, penghasilan kami habis untuk membayar kontrakan, transportasi ke kantor, makan, listrik, internet, kebutuhan sekolah anak, serta belanja rumah tangga. Sebenarnya, kami tidak merasa hidup mewah. Kami jarang membeli barang bermerek, tidak rutin makan di restoran mahal, dan hampir tidak pernah berlibur ke luar kota.

Namun, ketika akhir bulan tiba, uang yang tersisa sangat sedikit. Kami juga belum memiliki dana darurat yang cukup. Jika ada kebutuhan mendadak, seperti anak sakit atau kendaraan rusak, kami terpaksa mengambil uang dari pos pengeluaran lain.

Belakangan ini, saya mulai tertarik menerapkan frugal living. Saya ingin lebih disiplin mengatur keuangan, mengurangi pengeluaran yang tidak perlu, dan mulai menabung secara rutin. Masalahnya, saya bingung menentukan bagian mana yang sebaiknya dipangkas. Biaya makan sudah diatur, belanja dilakukan sesuai kebutuhan, dan pengeluaran transportasi juga sulit dikurangi karena harus bekerja setiap hari.

Di sisi lain, saya tidak ingin berhemat secara berlebihan hingga mengganggu kebutuhan gizi keluarga, membuat anak tidak bisa mengikuti kegiatan sekolah yang penting, atau bahkan menghilangkan anggaran untuk rekreasi sederhana bersama keluarga.

Dalam kondisi seperti ini, bagaimana cara menerapkan frugal living yang realistis bagi keluarga pekerja di Jakarta? Bagaimana membedakan pengeluaran yang benar-benar bisa dipangkas dengan kebutuhan yang sebaiknya tetap dipertahankan?

Berapa idealnya alokasi anggaran untuk kebutuhan pokok, transportasi, pendidikan anak, hiburan, tabungan, dan dana darurat? Apakah kami harus mengurangi semua pengeluaran nonpokok terlebih dahulu atau justru perlu mengevaluasi keseluruhan struktur keuangan keluarga?

Mohon saran dan langkah konkret agar kami bisa hidup lebih hemat, memiliki tabungan, dan tetap menjaga kualitas hidup keluarga.

Terima kasih.

Pengirim: Pembaca Liputan6.com

Jawaban:

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan ketika ingin menerapkan frugal living.

Pertama, identifikasi ke mana uang dibelanjakan dan apa tujuan penggunaannya. Hal ini bisa dilakukan dengan mencatat seluruh pengeluaran selama kurang lebih satu bulan.

Setelah pencatatan selesai, kelompokkan pengeluaran berdasarkan kategorinya. Misalnya, cicilan utang, belanja rumah tangga, listrik dan utilitas rumah (air dan internet), biaya kontrakan, transportasi, rekreasi, pendidikan anak, dan sebagainya.

Setelah memperoleh gambaran tersebut, kita bisa menyusun prioritas pengeluaran rumah tangga sekaligus melihat proporsi setiap pos terhadap keseluruhan anggaran.

Selanjutnya, lakukan evaluasi. Apakah pengeluaran pada masing-masing pos sudah sesuai kebutuhan atau justru berlebihan? Jika dirasa terlalu besar, pertimbangkan apakah pengeluaran tersebut masih bisa dikurangi sesuai prioritas dan kemampuan keuangan keluarga.

Misalnya, ternyata salah satu pos pengeluaran terbesar berasal dari jajan dan makan di luar. Sementara itu, keluarga memiliki tujuan untuk meningkatkan jumlah tabungan rutin. Dalam kondisi tersebut, perlu dipertimbangkan apakah pengeluaran untuk jajan dan makan di luar bisa ditekan.

Bicarakan hal ini dengan pasangan agar keduanya bisa menyusun dan menjalankan program anggaran rumah tangga bersama-sama.

Kita juga perlu mewaspadai kebocoran pengeluaran akibat limbah atau belanja yang sia-sia karena tidak terpakai. Contohnya, membeli terlalu banyak bahan makanan yang akhirnya tidak digunakan hingga membusuk dan terbuang. Pengeluaran seperti ini sebenarnya bisa dihindari dengan perencanaan belanja yang lebih baik.

Untuk pos pengeluaran yang masih bisa ditekan, kita dapat melakukan sejumlah penyesuaian. Misalnya, memanfaatkan promo dan diskon atau mencari alternatif sumber kebutuhan rutin dengan biaya lebih murah.

Contohnya, biaya transportasi bisa dikurangi dengan memilih moda transportasi yang lebih efisien, seperti beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum atau menggunakan kendaraan listrik jika memang lebih ekonomis.

Selain mengevaluasi pengeluaran, kita juga bisa melihat kembali aset yang dimiliki tetapi belum dimanfaatkan secara optimal. Aset tersebut mungkin bisa digunakan secara lebih produktif untuk menciptakan sumber pendapatan tambahan.

Jika semua langkah tersebut sudah dilakukan, tetapi kondisi arus kas masih terkendala, pertimbangkan untuk mencari sumber penghasilan baru. Caranya bisa dengan memanfaatkan keahlian, hobi, maupun peluang usaha yang muncul dari jaringan pertemanan dan relasi yang dimiliki.

Budi Raharjo, CFP

Financial Planner Shildt

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya