Israel Terus Gempur Lebanon, Lebih dari 1 Juta Orang Mengungsi

Situasi di Lebanon selatan memburuk akibat gempuran Israel yang terus-menerus, menghancurkan rumah dan infrastruktur.

oleh Septian DenyDiterbitkan 31 Oktober 2026, 15:00 WIB
Bola api dan asap menyembur dari sebuah bangunan setelah serangan Israel di Tyre, Lebanon Selatan, pada Kamis 28 Mei 2026. (KAWANT HAJU/AFP)

Liputan6.com, Beirut - Pasukan Israel meningkatkan serangan di Lebanon selatan pada Jumat (30/10), dengan meledakkan rumah dan bangunan lain, serta melancarkan tembakan artileri dan senapan mesin di sejumlah wilayah.

Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) melaporkan, pasukan Israel melepaskan tembakan senapan mesin secara intensif di kota Khiam dan Qantara. Sejumlah rumah di Qantara juga dilaporkan dibakar.

Di kota Tayri, Distrik Bint Jbeil, militer Israel melakukan ledakan. Sementara itu, tembakan artileri menggunakan peluru kaliber 155 milimeter menyasar kawasan Wadi al-Hujeir ke arah kota Touline.

Serangan artileri juga menghantam wilayah sekitar Kfar Shuba di kawasan Arqoub, pinggiran Hadatha di Distrik Bint Jbeil, serta Wadi Zibqin di Distrik Tyre.

Wilayah di antara kota Mayfadoun dan Zawtar al-Sharqiya turut menjadi sasaran tembakan artileri secara berkala.

Dalam insiden terpisah, pasukan Israel meledakkan sebuah rumah milik Hassan Nabaa, warga Kfar Shuba, yang berada di jalan Kfar Shuba-Sedana Hill-Shebbaa. Ledakan tersebut menghancurkan isi rumah itu, menurut laporan NNA.

Badan berita tersebut juga melaporkan sebuah rudal pencegat meledak di atas kota Taybeh. Namun, tidak ada perincian lebih lanjut mengenai insiden tersebut.

Selain itu, seorang pemuda asal kota Rub Thalathin dilaporkan hilang kontak setelah menghentikan kendaraannya di kawasan Wadi al-Hujeir dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Qantara.

 

Perundingan Israel-Lebanon Belum Capai Terobosan

Seperti diketahui, Lebanon terseret ke dalam perang Timur Tengah ketika Hizbullah melancarkan serangan terhadap Israel untuk membalas gugurnya pemimpin Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Tampak dalam foto, para petugas penyelamat memeriksa puing-puing bangunan yang hancur di lokasi serangan Israel di wilayah Maarakeh, Lebanon selatan, dekat kota pesisir Tyre. (Kawnat HAJU/AFP)

Rangkaian serangan tersebut terjadi setelah pertemuan teknis militer antara Beirut dan Tel Aviv pada 20 dan 21 Oktober di Tampa, Florida, Amerika Serikat, dengan dukungan Washington.

Pertemuan itu berakhir tanpa pengumuman terobosan maupun pernyataan bersama. Meski demikian, sejumlah laporan menyebut kedua pihak sepakat melanjutkan pembicaraan di tengah perselisihan mengenai penarikan pasukan Israel dari Lebanon dan pelucutan senjata kelompok Hizbullah.

Pada 26 Juni, Beirut dan Tel Aviv mencapai sebuah perjanjian kerangka kerja yang mengatur penarikan pasukan Israel secara bertahap dari wilayah Lebanon yang diduduki. Sebagai gantinya, militer Lebanon akan dikerahkan dan kelompok-kelompok bersenjata akan dilucuti senjatanya.

Perjanjian tersebut mencakup penerapan melalui sejumlah “wilayah percontohan”. Namun, sejauh ini pelaksanaannya baru mencakup tiga kota, sementara lebih dari 50 kota lainnya masih berada di bawah pendudukan Israel.

Ribuan Orang Tewas, Lebih dari 1 Juta Warga Mengungsi

Meski perjanjian telah dicapai, Israel terus melancarkan operasi militer di Lebanon. Sejak 2 Maret, serangan tersebut telah menewaskan sedikitnya 4.386 orang dan melukai 12.407 lainnya.

Lebih dari 1 juta orang juga dilaporkan mengungsi akibat konflik tersebut.

Israel masih menduduki sejumlah wilayah di Lebanon selatan. Sebagian wilayah telah diduduki selama puluhan tahun, sementara wilayah lainnya berada di bawah pendudukan sejak perang 2023–2024.

Dalam konflik terbaru, pasukan Israel dilaporkan telah bergerak masuk hingga sekitar 10 kilometer ke wilayah Lebanon.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya