Harga Minyak Turun di Tengah Upaya Perdamaian Baru AS-Iran

Harga minyak turun seiring upaya Washington dan Doha menghidupkan perundingan damai dengan Iran, meski risiko pasokan tetap membayangi pasar.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 30 Oktober 2026, 07:55 WIB
Tampak foto yang menunjukkan tampilan harga BBM di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Aral di Bochum, Jerman. (Ina FASSBENDER/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Kamis, 29 Oktober 2026 (Jumat pagi Jakarta). Prospek dimulainya kembali perundingan damai meredakan kekhawatiran gangguan pasokan akibat ketegangan di Timur Tengah.

Mengutip CNBC, Jumat, (30/10/2026), Harga minyak Brent turun 44 sen dan ditutup pada US$ 114,88 per barel. Minyak West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat kehilangan 78 sen dan menetap di US$ 102 per barel.

Harga minyak yang bertahan tinggi menekan inflasi dan mempersulit arah kebijakan moneter global. Ekonom senior Interactive Brokers José Torres menyoroti dampak itu. "Minyak yang mahal tetap menjadi pendorong utama inflasi di atas target,” tulis Torres.

Pelemahan harga kali ini seiring laporan Wall Street Journal. Wakil Presiden AS JD Vance menghubungi Sekretaris Dewan Keamanan Iran Mohsen Rezaei untuk membuka lagi jalur perundingan, menurut sejumlah pejabat AS dan sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut.

Mediator Qatar dikabarkan mengajukan proposal baru untuk mengakhiri konflik yang melibatkan Iran, AS, dan Israel. Seorang pejabat senior Iran menolak proposal itu karena menilainya tidak dapat diterima. Penolakan tersebut menunjukkan masih banyak hambatan menuju terobosan diplomatik.

Menteri Luar Negeri Iran menyampaikan sikap lain lewat platform media sosial X. Teheran tetap terbuka pada upaya diplomasi. Ia juga membuka peluang mempercepat rencana damai tujuh hari jika kedua pihak mencapai kesepakatan.

Di sisi lain, investor tetap mewaspadai dua risiko lain. Serangan kelompok Houthi dan kemungkinan aksi militer AS terhadap Iran seusai pemilu sela 3 November sama-sama menahan penurunan harga lebih jauh.

 

Tekanan Inflasi

Tampak dalam foto, harga bensin yang melebihi 8 delapan dolar AS per galon terlihat tertera di sebuah SPBU Chevron di Los Angeles, California, pada 28 April 2026. (Frederic J. BROWN/AFP)

Torres menilai tekanan inflasi yang terpusat di sektor energi membenarkan sikap lebih sabar dari bank sentral AS, The Federal Reserve. Inflasi inti relatif rendah, sehingga tekanan harga yang lebih luas masih terkendali.

Ia menuturkan, kenaikan suku bunga yang terlalu agresif untuk merespons guncangan pasokan minyak berisiko melemahkan lapangan kerja dan memperparah kerentanan kredit.

Torres tetap membuka ruang optimisme. "Bisa jadi ada penyelesaian geopolitik di depan mata,” ujarnya.

Penyelesaian semacam itu berpotensi meredakan tekanan inflasi dan menggeser fokus The Fed dari kenaikan suku bunga lanjutan.

Torres menuturkan, harga WTI yang turun ke kisaran US$70 per barel dapat memperkuat alasan pemangkasan suku bunga pada waktunya.

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya