Liputan6.com, Jakarta - Ditemani segelas kopi hitam, Marsudi duduk di sebuah warung. Lokasinya tidak jauh dari Stasiun Tanjung Barat. Secangkir kopi menemaninya melepas lelah usai menarik penumpang seharian.
Di tengah melampiaskan lelah itu, Marsudi menarik ingatannya kembali pada perjalanan yang tak biasa: mengantarkan rombongan mahasiswa Universitas Indonesia (UI) demo di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta.
Advertisement
Bagi Masudi, perjalanan pada Selasa (27/10/2026) itu bukan sekadar carteran dengan bayaran Rp 400 ribu. Dia mengantarkan mahasiswa yang hendak menyuarakan aspirasi.
Masudi, satu dari puluhan sopir angkot yang mengantarkan mahasiswa UI menuju lokasi demo. Sambil sesekali menyeruput kopi, dia mengisahkan bagaimana perjalanan dari Depok, diadang polisi hingga menerobos sampai Bundaran HI.
Malam sebelum demo, ponsel Marsudi berdering. Notifikasi pesan WhatsApp masuk dari seorang teman. Isinya tawaran pekerjaan untuk mengantarkan rombongan mahasiswa.
"Malam sebelum hari keberangkatan aksi, saya di WA, ditanya mau ikut narik rombongan mahasiswa enggak?," ujar Masudi kepada Liputan6.com, Kamis (29/10/2026).
Masudi kemudian menanyakan bayaran dan lokasi penjemputan. Dari rekannya, dia mendapat informasi bahwa para sopir diminta berkumpul pukul 09.00 WIB di Lapangan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UI.
"Saya tanya lagi bayarannya berapa, teman saya bilang Rp 400 ribu," jelas Masudi.
Tawaran itu tak langsung diterimanya. Masudi mempertimbangkan untung dan rugi mengambil carteran tersebut. Namun, ada hal lain yang membuatnya akhirnya bersedia.
Dia punya keyakinan soal niat baik mahasiswa memperjuangkan nasib rakyat dan menyuarakan kondisi negara.
"Akhirnya saya putuskan untuk mengantar saja, saya tidak peduli nanti ke depannya seperti apa, tapi mahasiswa ini memiliki niat yang menurut saya sangat baik," ucap pria yang memiliki dua anak.
Angkot Diadang Polisi
Pada hari yang dijanjikan, Masudi tiba di Lapangan FISIP UI. Hingga pukul 09.10 WIB, angkot yang dikemudikan sudah terparkir di lokasi. Sekitar pukul 12.20 WIB, rombongan angkot mulai bergerak menuju Bundaran HI.
Perjalanan menuju Jakarta tak sepenuhnya berjalan mulus. Di sepanjang jalan, Masudi melihat sejumlah polisi berjaga di persimpangan. Pemandangan itu membuatnya mulai menduga perjalanan mereka akan terhambat.
"Saya lihat di jalan itu, sudah ada sejumlah polisi berjaga di setiap persimpangan jalan, saya udah yakin pasti akan di cegat," terang Masudi.
Dugaan itu terbukti. Tak jauh dari Halte Transjakarta MH Thamrin, Jakarta, sejumlah polisi mengadang angkot yang dikemudikannya dan meminta rombongan tidak melanjutkan perjalanan.
Mahasiswa yang dibawanya tidak mengenakan almamater kampus. Mereka turun dari angkot dan menghampiri polisi untuk meminta agar rombongan bisa melanjutkan perjalanan.
"Mahasiswa yang kami bawa tidak menggunakan almamater kampusnya, mereka turun dan menghampiri polisi," kata Masudi.
Di balik kemudi, Masudi terus mengamati situasi. Pikirannya berkecamuk. Ia berusaha memperkirakan apa yang akan terjadi jika angkotnya harus berhadapan dengan persoalan hukum.
"Saya terus amati sampai berpikir harus cari alasan apa kalau angkot yang saya bawa di kandangin di kantor polisi," tutur Masudi.
Tak Ingin Tinggalkan Mahasiswa
Masudi melihat para mahasiswa berusaha meminta polisi membuka jalan. Sebagian mahasiswa kemudian mencoba mengalihkan perhatian petugas dengan mengajak mereka berdebat.
Di tengah situasi itu, Masudi melihat celah. Sejumlah mahasiswa memberi isyarat agar angkot bersiap melaju.
"Nah, pas ada mahasiswa mencoba mengecoh dengan mengajak berdebat, polisi yang berjaga sempat melonggarkan ruang penjagaannya. Setelah itu ada mahasiswa yang mengarahkan angkot untuk siap jalan," ungkap Masudi.
Angkot yang dikemudikannya akhirnya berhasil melewati penjagaan polisi. Mahasiswa yang sebelumnya turun untuk bernegosiasi berlarian dan kembali masuk ke dalam angkot.
Masudi mengaku tetap menginjak pedal gas perlahan. Ia menunggu seluruh mahasiswa yang sempat turun kembali naik ke kendaraan.
"Pedal gas saja injak pelan, saya tunggu mahasiswa yang sempat turun untuk segera naik ke angkot, saya menganggap mereka layaknya anak saya tidak akan saya tinggalkan," kata Masudi.
Bagi Masudi, para mahasiswa itu bukan sekadar penumpang yang menyewa jasanya. Ia merasa memiliki tanggung jawab untuk membawa mereka sampai ke tujuan.
Setibanya di Bundaran HI, Masudi bersama sejumlah sopir angkot lainnya menurunkan para mahasiswa. Rombongan mahasiswa kemudian bergerak menuju lokasi aksi, sementara para sopir menunggu di tempat lain.
Setelah aksi selesai, Masudi dan para sopir kembali bertemu dengan rombongan mahasiswa. Mereka kemudian mengantarkan para mahasiswa pulang.
"Setelah mereka selesai aksi, kami melakukan pertemuan kembali dan mengantarkan mereka pulang," pungkas Masudi.