Liputan6.com, Jakarta - Batuan kapur yang keras, perbukitan dengan medan terjal, hingga keberatan sebagian warga menjadi tantangan yang harus dihadapi dalam pembangunan jaringan listrik baru di kawasan Kendeng Utara. Di antara Kabupaten Rembang dan Blora, PT PLN (Persero) berupaya membuka jalur jaringan untuk memperkuat pasokan listrik sekaligus mencari titik temu di tengah berbagai persoalan yang muncul.
Pembangunan Penyulang Semindo 2 sepanjang sekitar 23,6 kilometer sirkuit (kms) ini bukan sekadar pekerjaan mendirikan tiang dan membentangkan kabel. Di balik proyek tersebut, ada kebutuhan masyarakat terhadap kualitas tegangan listrik yang lebih baik, tantangan teknis akibat kondisi geografis, serta aspirasi warga yang perlu dipertimbangkan dalam proses pembangunan.
Advertisement
Bagi pelanggan di Kecamatan Sale, Kabupaten Rembang, penguatan jaringan ini menjadi kebutuhan yang telah lama dinantikan. Sejak 2023, keluhan mengenai penurunan tegangan listrik di wilayah tersebut telah disampaikan melalui berbagai saluran, mulai dari pemerintah kecamatan, Lapor Gub, PDAM hingga masyarakat setempat.
Manager PLN ULP Rembang, Jati Kuncahyo, menjelaskan bahwa salah satu faktor yang berkontribusi terhadap persoalan tersebut adalah panjangnya jaringan listrik yang selama ini menyuplai wilayah Sale.
“Selama ini pasokan listrik menuju wilayah Sale mengandalkan jaringan dari Gardu Induk Rembang dengan panjang sekitar 53 kilometer sirkuit. Panjang jaringan tersebut menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap permasalahan penurunan tegangan,” jelas Jati.
Untuk menjawab kebutuhan itu, PLN merencanakan pembangunan Penyulang Semindo 2 yang akan mendapat suplai dari Gardu Induk Semindo berkapasitas 30 MVA. Jaringan baru ini dirancang terhubung dengan jaringan eksisting melalui skema joint feeder.
Skema tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi penurunan tegangan, meningkatkan keandalan pasokan, sekaligus mempercepat pemulihan ketika terjadi gangguan. Dengan demikian, penguatan jaringan tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan listrik saat ini, tetapi juga mengantisipasi pertumbuhan kebutuhan pelanggan ke depan.
Mencari Titik Temu dengan Warga
Meski memiliki tujuan memperkuat layanan kelistrikan, pembangunan jaringan baru ini tidak sepenuhnya berjalan mulus. Di Desa Jurangjero, Kecamatan Bogorejo, Kabupaten Blora, sebagian warga menyampaikan keberatan terhadap rencana jalur jaringan yang mereka anggap berkaitan dengan aktivitas penambangan di wilayah sekitar.
Raman, salah seorang warga, menjelaskan bahwa penolakan tersebut berawal dari aktivitas perusahaan pengolahan batu kapur di Desa Kajar, Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang.
Menurut dia, kegiatan pengolahan batu kapur itu sempat menimbulkan polusi udara dan bau menyengat yang dikhawatirkan berdampak terhadap lingkungan sekitar. Kondisi tersebut kemudian memengaruhi sikap sebagian warga terhadap rencana pembangunan jaringan listrik baru.
“PLN ditolak karena ada kegiatan perusahaan itu. Kegiatannya pembakaran batu kapur pakai batu bara, jadi dampak polusi udaranya menimbulkan bau menyengat,” tutur Raman.
Keberatan tersebut menjadi persoalan yang perlu diselesaikan melalui komunikasi dan dialog. PLN kemudian melakukan mediasi dengan melibatkan pemerintah daerah, pemerintah desa, kepolisian, tokoh masyarakat, serta pihak perusahaan.
Di tengah dinamika tersebut, alternatif jalur juga dijajaki melalui Desa Waru, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora, dan Desa Kajar, Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang. Upaya ini dilakukan untuk mencari rute yang memungkinkan secara teknis dengan tetap mempertimbangkan kondisi sosial masyarakat.
Camat Jepon, Andi Nurrohman, mengatakan PLN telah berkoordinasi dengan pihak kecamatan dan Pemerintah Desa Waru untuk menjajaki kemungkinan pembangunan jaringan melalui penanaman tiang di wilayah tersebut.
Sebagai tindak lanjut, sosialisasi digelar dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat Desa Waru. Mulai dari pemerintah desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), kelembagaan desa, pengurus rukun warga (RW) dan rukun tetangga (RT), hingga perwakilan tokoh masyarakat dan pemuda.
Melalui sosialisasi tersebut, PLN menyampaikan rencana penguatan jaringan listrik sekaligus memberikan pemahaman kepada para pemangku wilayah mengenai kebutuhan dan rencana pembangunan yang akan dilakukan.
Andi menilai, penguatan jaringan listrik juga perlu dipersiapkan untuk mengantisipasi perkembangan wilayah, termasuk potensi pengembangan kawasan wisata di sejumlah desa.
“Kami bersama Forkopimcam serta unsur yang ada mendukung rencana tersebut dengan mempertimbangkan kebutuhan listrik ke depan. Apabila suatu saat kawasan Desa Waru, Desa Soko, dan Desa Tempuran dikembangkan menjadi kawasan wisata Kabupaten Blora, tentu membutuhkan sumber daya listrik yang cukup dan aman, baik dari sisi kualitas maupun kuantitasnya,” ujar Andi.
Menurut dia, ketersediaan listrik yang memadai menjadi salah satu faktor penting untuk menunjang aktivitas masyarakat dan mendukung pengembangan wilayah. Infrastruktur kelistrikan yang andal diharapkan dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga, kegiatan ekonomi, hingga sektor pariwisata apabila potensi tersebut dikembangkan.
Dukungan terhadap rencana pembangunan jaringan baru juga disampaikan unsur keamanan setempat. Namun, penerimaan masyarakat tetap menjadi pertimbangan penting agar pelaksanaan proyek dapat berjalan dengan baik.
“Prinsipnya kami dari Forkopimcam mendukung selagi diterima baik oleh masyarakat. Lagian dengan adanya jaringan listrik baru, tentunya akan banyak manfaatnya,” kata Kapolsek Jepon, IPTU H.M. Junaidi.
Menaklukkan Medan Berbatu Kendeng
Selain menghadapi persoalan sosial, PLN juga harus berhadapan dengan tantangan geografis kawasan Kendeng Utara. Jalur jaringan yang melintasi wilayah Kabupaten Rembang dan Blora melewati kawasan perbukitan dengan kontur tanah berbatu serta lapisan batuan kapur yang keras.
Kondisi tersebut membuat pekerjaan penggalian lubang dan penanaman tiang tidak bisa dilakukan semudah di wilayah dengan kondisi tanah yang lebih lunak. Pekerja harus menyesuaikan metode pelaksanaan dengan karakteristik medan, sekaligus menjaga keselamatan selama proses pembangunan.
Manager PLN ULP Blora, Wardoyo, mengakui bahwa kondisi lapangan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi progres pembangunan jaringan.
“Jalur jaringan ini melintasi wilayah Kabupaten Blora dan Rembang, termasuk kawasan pegunungan dengan medan yang cukup menantang,” ujar Wardoyo.
Dia menjelaskan, penanaman tiang masih terus berlangsung secara bertahap karena kondisi tanah yang sulit dan berbatu. Pekerjaan membutuhkan upaya ekstra agar pembangunan dapat berjalan sesuai dengan kondisi lapangan.
“Untuk kendala saat ini, penanaman tiang masih terus berprogres karena kondisi medan cukup sulit dan berbatu. Hal ini membutuhkan upaya ekstra dalam proses pembangunan jaringan,” katanya.
Pembangunan Penyulang Semindo 2 berada dalam lingkup PLN UID Jawa Tengah dan PLN UP3 Kudus, dengan pengawasan lapangan oleh PLN ULP Rembang dan PLN ULP Blora. Koordinasi antarsatuan kerja menjadi bagian penting untuk mendukung kelancaran pekerjaan di tengah tantangan teknis maupun dinamika sosial di wilayah yang dilalui jaringan.
PLN menargetkan pekerjaan dapat dimaksimalkan hingga awal 2027. Setelah terbangun, jaringan baru tersebut diharapkan membantu memperbaiki kualitas tegangan dan meningkatkan keandalan pasokan listrik bagi pelanggan di wilayah Rembang dan Blora.
Penguatan jaringan ini juga diharapkan membuka peluang pelayanan yang lebih baik bagi masyarakat yang membutuhkan pemasangan sambungan listrik baru maupun penambahan daya.
“Pembangunan jaringan ini diharapkan dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat, memperbaiki kualitas tegangan listrik, serta mendukung kebutuhan pelanggan yang ingin melakukan pemasangan listrik baru maupun penambahan daya agar dapat terlayani dengan baik,” kata Wardoyo.
Lebih dari Sekadar Membangun Jaringan
Membuka jaringan listrik baru di Kendeng Utara berarti menghadapi persoalan yang tidak hanya berkaitan dengan pekerjaan fisik. Ada batuan kapur yang harus ditembus, medan perbukitan yang menuntut upaya ekstra, serta keberatan masyarakat yang perlu disikapi melalui komunikasi dan pencarian solusi.
Di sisi lain, kebutuhan pelanggan terhadap pasokan listrik yang lebih andal menjadi alasan penting mengapa penguatan jaringan tersebut terus diupayakan.
Pembangunan Penyulang Semindo 2 kini menjadi bagian dari upaya PLN menjawab kebutuhan kelistrikan masyarakat di kawasan Rembang dan Blora. Keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh berdirinya tiang dan tersambungnya kabel, tetapi juga oleh kemampuan seluruh pihak untuk menyelaraskan kebutuhan infrastruktur dengan kondisi lingkungan dan aspirasi warga.
Lebih lanjut, di balik jalur yang membentang di antara perbukitan Kendeng Utara, harapan terhadap layanan listrik yang lebih baik terus diupayakan. Sebuah pekerjaan yang menuntut ketangguhan secara teknis sekaligus kesediaan untuk membangun kesepahaman dengan masyarakat.