Microsoft Copilot AI Ramal Harga Bitcoin Meroket pada Akhir 2026

Prediksi harga Bitcoin dari Microsoft Copilot AI mengandalkan permintaan institusi, kelangkaan pasokan, dan perubahan cadangan global.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 29 Oktober 2026, 12:15 WIB
Ilustrasi aset kripto Bitcoin. (Foto By AI)

Liputan6.com, Jakarta - Microsoft Copilot AI memprediksi harga Bitcoin (BTC) berpotensi mengalami lonjakan yang luar biasa setelah pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC). Namun, skenario tersebut masih sangat spekulatif.

Mengutip  Cryptonews, Kamis (29/10/2026), bayangkan pada akhir 2026, sejumlah negara kaya energi mulai menggunakan Bitcoin untuk menyelesaikan sebagian transaksi perdagangan komoditas lintas negara. Bitcoin kemudian diperlakukan sebagai aset cadangan netral.

Langkah itu awalnya hanya berupa transaksi percontohan. Selanjutnya, dana kekayaan negara mulai mengakumulasi Bitcoin sebagai cadangan strategis, berdampingan dengan emas. Bank sentral yang semula menyangkal ketertarikan terhadap Bitcoin pun perlahan menunjukkan alokasi kecil dalam laporan tahunan mereka.

Dalam skenario ini, Bitcoin tidak lagi sekadar dipandang sebagai emas digital, tetapi juga sebagai aset strategis dalam persaingan geopolitik.

Prediksi tersebut muncul ketika Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$ 80.800 setelah menguat 1,2 persen dalam sehari dan kembali menembus level US$ 80.000.

Syarat Bitcoin Menuju US$ 800.000

Ilustrasi aset kripto Bitcoin. (Foto By AI)

Untuk mencapai level yang jauh lebih tinggi, Bitcoin perlu mengalami penembusan harga berkelanjutan selama beberapa tahun. Dalam skenario optimistis, harganya berpotensi mencapai US$ 150.000 hingga US$ 200.000 pada 2026.

Jika berhasil menembus US$ 250.000, arus investasi masuk berpotensi meningkat. Secara historis, Bitcoin pernah naik sekitar 20 kali lipat pada 2017 dan tujuh kali lipat pada 2021.

Berdasarkan perhitungan tersebut, kenaikan lima kali lipat dari level US$ 175.000 akan menghasilkan target sekitar US$ 875.000.

Skenario ini juga membutuhkan pasokan Bitcoin di bursa yang semakin terbatas, akumulasi investor jangka panjang, serta permintaan institusi yang kuat. Pasokan baru Bitcoin setelah halving hanya sekitar 450 BTC per hari.

Pola grafik yang ideal menyerupai cup and handle, dengan penembusan area US$ 100.000 hingga US$ 120.000 sebagai sinyal potensi kenaikan lanjutan. Target psikologis berikutnya adalah US$ 500.000 hingga US$ 1 juta.

Meski demikian, seluruh proyeksi tersebut bergantung pada asumsi pasar yang sangat optimistis.

Bitcoin Hyper Tawarkan Solusi Layer 2

Di tengah ketidakpastian pasar kripto, proyek Bitcoin Hyper (HYPER) menawarkan infrastruktur Layer 2 berbasis Solana Virtual Machine (SVM). Proyek ini mengklaim bertujuan menghadirkan transaksi lebih cepat dan eksekusi kontrak pintar berbiaya rendah dalam ekosistem Bitcoin.

Menurut pengumuman proyek, dompet Bitcoin Hyper telah tersedia untuk pengujian komunitas setelah peluncuran testnet dan explorer. Pengguna dapat mencoba berinteraksi dengan jaringan melalui dompet tersebut.

Proyek ini juga mengklaim telah mengumpulkan dana lebih dari US$ 33,2 juta melalui prapenjualan token. Harga token yang dicantumkan sebesar US$ 0,0136877, dengan penawaran imbal hasil staking 30 persen APY bagi pembeli prapenjualan.

Namun, klaim harga, penghimpunan dana, dan imbal hasil tersebut perlu diverifikasi secara independen. Imbal hasil staking tidak menjamin keuntungan dan dapat disertai risiko kehilangan modal.

Prediksi akhir Copilot AI menempatkan harga Bitcoin pada US$ 873.000 per BTC per 1 Januari 2027. Angka ini merupakan skenario yang sangat optimistis, bukan kepastian harga.

Pergerakan Bitcoin tetap dipengaruhi kondisi makroekonomi, kebijakan moneter, likuiditas, dan sentimen pasar.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya