Liputan6.com, Tel Aviv - Partai-partai Arab di Israel diproyeksikan meraih 18 kursi di parlemen dalam pemilu yang digelar Selasa. Hasil jajak pendapat seusai pemungutan suara atau exit poll menunjukkan lonjakan partisipasi warga Palestina di Israel yang mencapai tingkat tertinggi dalam beberapa dekade terakhir.
Dikutip dari Al Jazeraa, Rabu (28/10/2026), data exit poll mengindikasikan dua partai utama yang dipimpin warga Arab, yakni Joint List dan Ra’am, berpeluang mengamankan jumlah kursi terbanyak sepanjang sejarah mereka di Knesset, parlemen Israel yang memiliki 120 kursi.
Advertisement
Sementara itu, hasil exit poll terbaru menunjukkan persaingan ketat antara blok oposisi yang dipimpin partai Yashar pimpinan mantan Kepala Staf Militer Israel Gadi Eisenkot dan blok yang dipimpin Partai Likud pimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Kedua blok masing-masing diproyeksikan memperoleh 51 kursi.
Pemimpin Ra’am atau United Arab List, Mansour Abbas, berharap hasil akhir pemilu memungkinkan blok anti-Netanyahu, termasuk partainya, meraih sedikitnya 61 kursi yang dibutuhkan untuk membentuk pemerintahan.
“Dengan angka yang kami miliki sekarang, tidak ada pemerintahan,” kata Abbas kepada Channel 12 Israel.
Ra’am saat ini memiliki lima kursi di Knesset. Partai tersebut juga pernah bergabung dalam koalisi pemerintahan Israel yang berkuasa pada periode 2021–2022.
Abbas menambahkan, kedua blok utama telah menghubungi partainya, baik sebelum maupun setelah pemungutan suara.
Partai Arab Dinilai Tak Bisa Terus Dikesampingkan
Mantan Duta Besar Israel Alon Pinkas mengatakan kepada Al Jazeera bahwa pembentukan pemerintahan berpotensi menjadi sulit bagi partai-partai seperti Yashar pimpinan Eisenkot. Pasalnya, selama kampanye, partai tersebut berjanji tidak akan membentuk koalisi dengan partai-partai Arab.
“Ada harga yang harus dibayar,” kata Pinkas. Ia menilai warga Arab tidak bisa terus dikesampingkan dan baru dilibatkan ketika suara mereka dibutuhkan.
Pinkas menambahkan, partai-partai yang dipimpin warga Arab kemungkinan akan mengajukan sejumlah tuntutan yang belum tentu dapat diterima oleh pemerintahan koalisi yang dipimpin partai-partai Yahudi.
Netanyahu dan Koalisi Lakukan Upaya Terakhir
Di sisi lain, Netanyahu dan koalisi sayap kanannya melakukan upaya terakhir pada Selasa untuk mendorong para pendukung mereka datang ke tempat pemungutan suara. Mereka memperingatkan tentang meningkatnya partisipasi pemilih dari kalangan warga Palestina di Israel.
Strategi tersebut menuai kecaman dari para politikus Arab yang menilainya rasis dan provokatif.
Sejumlah saksi mata melaporkan, mobil-mobil yang mengibarkan bendera Partai Likud milik Netanyahu berkeliling di Yerusalem sambil memperdengarkan azan dan menyerukan para pendukung untuk menggunakan hak pilih mereka dengan alasan bahwa “orang Arab sedang memberikan suara”.
Melalui unggahan di media sosial, Netanyahu juga menyoroti antrean panjang di tempat pemungutan suara di komunitas Arab. Ia bahkan mengunggah foto yang disebutnya memperlihatkan para pemilih Arab, termasuk perempuan bercadar niqab yang menutupi bagian bawah wajah, sedang mengantre untuk memberikan suara.
“Jika kita tidak bangun sekarang, kita akan mendapati diri kita memiliki pemerintahan Mansour Abbas dan Ahmad Tibi,” kata Netanyahu, merujuk pada dua tokoh terkemuka Palestina di Knesset.