Menperin Dorong Utilisasi Industri Naik Jadi 85 Persen

Menperin Sarmuji dorong utilisasi industri naik dari hampir 70 persen ke 80-85 persen demi mengerek pertumbuhan ekonomi dan PDB nasional.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 27 Oktober 2026, 18:15 WIB
Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji memberikan pemaparan pada saat melakukan pertemuan dengan Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Senin (26/10/2026). (Dok Kemenperin)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji mendorong tingkat utilisasi industri nasional naik dari hampir 70 persen saat ini menjadi 80 persen, bahkan 85 persen jika memungkinkan. Target tersebut dinilai bisa memberi sumbangan besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

Menurut Sarmuji, kenaikan utilisasi cukup dicapai dari kapasitas produksi yang sudah tersedia. Artinya, kapasitas yang ada tinggal dimaksimalkan pemanfaatannya.

"Utilisasi industri kita saat ini baru hampir 70 persen. Ini akan terus kita dorong agar bisa mencapai 80 persen, bahkan kalau memungkinkan hingga 85 persen. Dengan meningkatkan utilisasi dari kapasitas yang sudah tersedia saja, kontribusi sektor industri terhadap pertumbuhan ekonomi dan PDB nasional akan sangat signifikan," kata Sarmuji seusai menerima kunjungan Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Senin (26/10/2026).

Sarmuji menilai momentum positif sektor manufaktur perlu dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas dan kapasitas produksi. Salah satu buktinya terlihat dari Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang dirilis S&P Global. Pada Agustus 2026, indeks berada di level 49,8 yang menandakan fase kontraksi. Sebulan kemudian, angkanya naik menjadi 52,4 dan Indonesia kembali ke fase ekspansi.

Pasokan Gas dan Momentum Nataru

Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji bersama Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo melakukan pertemuan di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Senin (26/10/2026). (Dok Kemenperin)

Indikator lain datang dari Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI-BI). Pada triwulan III 2026, indeks tersebut tercatat 52,28. Angka ini lebih tinggi dibandingkan triwulan II 2026 sebesar 51,43 maupun triwulan III 2025 sebesar 51,66.

"Data ini menunjukkan perkembangan yang sangat positif. Kami juga optimistis Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Oktober akan meningkat dibandingkan September. Artinya, para pelaku industri memiliki keyakinan bahwa kondisi industri akan semakin membaik ke depan," ujar Sarmuji.

Selain data indeks, Sarmuji menyoroti pentingnya ketersediaan energi, khususnya gas bumi, bagi keberlanjutan produksi industri. Ia menilai optimalisasi pasokan gas untuk kebutuhan industri lewat kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) dapat mendorong kinerja manufaktur.

"Kalau melihat perkembangan datanya, kami optimistis kinerja industri sampai akhir tahun akan terus meningkat. Apalagi jika kebutuhan gas untuk sektor industri dapat terpenuhi, termasuk melalui HGBT, tentu ini akan menjadi dorongan yang sangat baik bagi peningkatan produksi industri," tuturnya.

Subsektor yang Berpotensi Didorong

Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji bersama Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo memberikan keterangan kepada wartawan seusai pertemuan di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Senin (26/10/2026). (Dok Kemenperin)

Sementara itu, Dradjad mengatakan kunjungannya ke Kemenperin merupakan bagian dari koordinasi pemerintah untuk menggali sumber pertumbuhan ekonomi baru, terutama dari sektor industri dan sektor pendukungnya.

"Kami melihat sektor industri maupun sektor-sektor pendukung industri yang diampu Kementerian Perindustrian justru menunjukkan peningkatan dan berada pada fase ekspansif. Kepercayaan pelaku industri juga meningkat, yang berarti mereka semakin optimistis terhadap kondisi ke depan," ujar Dradjad.

Dradjad menyebut sejumlah subsektor dan kawasan berpotensi besar terus didorong. Di antaranya industri makanan dan minuman, industri agro, serta aktivitas industri di kawasan industri dan kawasan berikat.

Ia juga menilai peningkatan utilisasi menjadi strategi penting untuk mengakselerasi pertumbuhan manufaktur, terlebih permintaan masyarakat meningkat menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru).

"Di sektor industri, peningkatan utilisasi dapat menjadi bentuk intensifikasi industri. Dengan memanfaatkan kapasitas produksi yang sudah tersedia, kita memiliki peluang besar untuk mendorong pertumbuhan industri lebih tinggi, terutama dengan adanya peningkatan permintaan menjelang Nataru," jelasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya