Liputan6.com, Jakarta - Selamat siang,
Saya pekerja swasta di Jakarta dan sudah berkeluarga dengan seorang anak yang masih kecil. Penghasilan saya sekitar Rp 8 juta per bulan, sementara istri turut membantu mengelola keuangan rumah tangga. Setiap bulan, sebagian besar penghasilan habis untuk membayar kontrakan, makan, transportasi, listrik, internet, dan kebutuhan anak. Jika ada pengeluaran mendadak, seperti anak sakit atau kendaraan rusak, anggaran keluarga langsung berantakan.
Advertisement
Saya sebenarnya ingin mulai menabung, membangun dana darurat, dan mempersiapkan biaya pendidikan anak. Namun, setelah seluruh kebutuhan terpenuhi, uang yang tersisa sangat sedikit. Karena itu, saya mulai mempertimbangkan pekerjaan sampingan atau double job, seperti menjadi pengemudi ojek online setelah pulang kantor, mengambil pekerjaan lepas, atau berjualan secara daring.
Masalahnya, pekerjaan utama sudah cukup menyita waktu dan biasanya saya baru tiba di rumah pada malam hari. Jika mengambil pekerjaan tambahan, waktu istirahat dan kebersamaan dengan keluarga tentu berkurang. Saya juga khawatir kelelahan justru mengganggu produktivitas di pekerjaan utama.
Dalam kondisi seperti ini, apakah pekerjaan sampingan merupakan solusi tepat untuk menambah penghasilan keluarga? Bagaimana menghitung pendapatan tambahan yang sepadan dengan waktu, tenaga, dan biaya yang dikeluarkan? Jenis pekerjaan sampingan apa yang cocok bagi pekerja berkeluarga, serta bagaimana mengalokasikan penghasilannya agar bisa membangun tabungan tanpa mengorbankan kesehatan dan keharmonisan keluarga?
Terima kasih.
Pengirim: Pembaca Liputan6.com
Jawaban
Sebelum memutuskan mencari pekerjaan sampingan atau sumber penghasilan tambahan, hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengevaluasi kondisi keuangan keluarga secara menyeluruh.
Langkah awalnya adalah melakukan diagnosis terhadap kondisi finansial keluarga. Evaluasi ini mencakup perbandingan antara pemasukan dan pengeluaran, jumlah aset dan utang, serta kebutuhan keuangan di masa depan berdasarkan skala prioritas.
Selain itu, perlu diperhatikan pula profil keluarga dan pencari nafkah, termasuk siapa saja yang tinggal bersama, anggota keluarga yang masih menjadi tanggungan, kepemilikan tempat tinggal dan kendaraan, hingga berbagai biaya rutin seperti pajak, kesehatan, dan perawatan aset.
Faktor lain yang tidak kalah penting adalah lokasi tempat tinggal, tempat kerja, dan sekolah anak. Hal ini berpengaruh terhadap kebutuhan transportasi serta besarnya biaya yang harus disiapkan setiap bulan.
Setelah mendapatkan gambaran tersebut, lakukan analisis menyeluruh untuk menyusun anggaran rumah tangga. Pisahkan pengeluaran berdasarkan kebutuhan dan keinginan, kewajiban rutin dan kebutuhan sosial, serta kebutuhan masa depan anak dan orang tua.
Dari sana, keluarga dapat mulai menyesuaikan gaya hidup agar seluruh kebutuhan wajib terpenuhi. Sebagian keinginan juga tetap bisa diakomodasi sebagai bentuk self reward, selama sesuai dengan kemampuan penghasilan keluarga secara keseluruhan dalam satu tahun.
Jika setelah dilakukan evaluasi ternyata penghasilan masih belum mampu menutupi seluruh kebutuhan wajib, barulah mencari sumber pendapatan tambahan menjadi salah satu solusi yang perlu dipertimbangkan.
Ada beberapa cara untuk menambah penghasilan. Salah satunya dengan memanfaatkan keahlian, talenta, atau hobi yang berpotensi menghasilkan uang.
Misalnya, jika istri memiliki hobi dan keahlian memasak, ia bisa mencoba berjualan makanan. Alternatif lainnya adalah melakukan jual beli barang yang sudah dipahami, atau membantu usaha milik keluarga, teman, maupun kerabat sebagai pekerja paruh waktu pada waktu senggang.
Suami juga bisa mempertimbangkan pekerjaan tambahan, misalnya menjadi pengemudi ojek online setelah pulang kerja. Pilihan lainnya adalah menjalankan usaha bersama istri, seperti berjualan makanan, membuat konten digital, menjadi vlogger, atau mengerjakan berbagai pekerjaan daring yang sesuai dengan kemampuan.
Perhitungkan Matang-Matang
Namun, satu hal yang perlu diperhatikan adalah ketersediaan waktu dan tenaga. Pekerjaan atau bisnis tambahan jangan sampai mengganggu pekerjaan utama yang selama ini menjadi sumber penghasilan terbesar keluarga.
Karena itu, sebelum memulai pekerjaan sampingan, perhitungkan terlebih dahulu waktu luang yang tersedia, kemampuan menjalankannya, serta potensi penghasilan yang bisa diperoleh.
Terakhir, bangun komitmen bersama pasangan. Diskusikan rencana keuangan, pembagian tugas, serta target yang ingin dicapai. Jika memungkinkan, anak juga perlu diberikan pemahaman sesuai usianya agar seluruh anggota keluarga bisa saling mendukung.
Dengan komitmen bersama, keluarga akan lebih mudah menjaga disiplin anggaran, menyesuaikan gaya hidup, dan mempertahankan motivasi untuk memperbaiki kondisi keuangan.
Risza Bambang
Founder & Managing Partner Firma Shildt Financial Planning