Harga Minyak Dunia Terancam Turun, Simak Prediksi Pekan Ini

Harga minyak berpotensi terkoreksi menuju US$ 95,25 setelah gagal mempertahankan penembusan resistance.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 26 Oktober 2026, 10:55 WIB
Sampai pembukaan perdagangan Rabu 4 Maret 2026, harga minyak masih berada di atas US$ 80 per barel. Tampak foto yang menunjukkan sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Aral di Bochum, Jerman, pada Rabu 4 Maret 2026. (Ina FASSBENDER/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak mentah dunia jenis West Texas Intermediate (WTI) berpotensi mengalami koreksi pada perdagangan Senin (26/10/2026) setelah gagal mempertahankan penembusan di area resistance US$ 102,51–US$ 104,21.

Dupoin Futures menilai kondisi false break tersebut membuka peluang penurunan harga menuju area support US$ 97,65 hingga US$ 95,25, selama tekanan beli belum mampu mendorong harga menembus resistance secara meyakinkan.

Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menyoroti kegagalan harga minyak menembus area resistance sebagai sinyal penting untuk membaca arah pergerakan selanjutnya.

Dalam analisis teknikal, false break terjadi ketika harga sempat menembus level penting, tetapi tidak mampu mempertahankan posisinya.

"Kondisi ini dapat mengindikasikan bahwa momentum beli belum cukup kuat untuk menopang kenaikan lebih lanjut," kata dia, Senin (26/10/2026). 

Berdasarkan proyeksi Dupoin Futures pada grafik harian (daily), area US$ 102,51–US$ 104,21 menjadi resistance utama yang perlu diperhatikan. Selama harga minyak WTI belum menembus zona tersebut secara valid, tekanan bearish masih berpotensi berlanjut.

Apabila tekanan jual meningkat, harga minyak diperkirakan menguji support pertama di US$ 97,65. Jika level tersebut tidak mampu menahan penurunan, WTI berpeluang melanjutkan koreksi menuju US$ 95,25.

Skenario ini mengacu pada potensi terbentuknya pola ABC Correction, yakni pola koreksi harga setelah tren penguatan mengalami hambatan. Meski demikian, arah pergerakan selanjutnya tetap perlu dikonfirmasi melalui respons harga di pasar.

  Resistance Jadi Penentu Arah Harga Minyak

Kenaikan harga minyak dunia dipicu beberapa faktor utama, terutama situasi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Tampak dalam foto, harga bensin yang melebihi 8 delapan dolar AS per galon tertera di sebuah SPBU Chevron di Los Angeles, California, pada 28 April 2026. (Frederic J. BROWN/AFP)

Peluang koreksi harga minyak WTI masih bergantung pada kemampuan pasar mempertahankan atau menembus level teknikal penting. Jika harga kembali menguat dan mampu menembus resistance US$ 102,51–US$ 104,21 secara valid, proyeksi bearish perlu dievaluasi karena kenaikan lanjutan berpotensi terjadi.

Sebaliknya, kegagalan berulang menembus zona tersebut dapat memperkuat tekanan jual. Dalam kondisi ini, level US$ 97,65 dan US$ 95,25 menjadi area yang perlu dicermati pelaku pasar sebagai sasaran koreksi potensial.

Selain faktor teknikal, pergerakan harga minyak juga dipengaruhi kondisi fundamental, terutama risiko gangguan pasokan akibat ketegangan geopolitik dan prospek permintaan energi global.

Mengacu pada rangkuman Reuters yang menjadi referensi analisis, perkembangan geopolitik dapat mengubah ekspektasi pasar terhadap ketersediaan minyak mentah. Kekhawatiran terhadap gangguan produksi maupun distribusi berpotensi menopang harga minyak.

Namun, dukungan dari faktor pasokan belum tentu cukup untuk mendorong kenaikan berkelanjutan apabila momentum beli melemah dan harga gagal bertahan di atas resistance.

Karena itu, pelaku pasar perlu memperhatikan kombinasi sinyal teknikal dan perkembangan fundamental sebelum menarik kesimpulan mengenai arah harga minyak berikutnya.

Permintaan Global dan Geopolitik Pengaruhi Harga Minyak

Harga minyak dunia diperkirakan akan terus beranjak naik. Tampak foto yang menunjukkan sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Shell di Bochum, Jerman, pada Rabu 4 Maret 2026. (Ina FASSBENDER/AFP)

Prospek permintaan energi global juga menjadi faktor penting dalam menentukan pergerakan harga minyak. Jika permintaan diperkirakan melemah, pelaku pasar cenderung lebih berhati-hati dalam merespons kenaikan harga.

Sebaliknya, meningkatnya risiko gangguan pasokan dapat membatasi penurunan harga minyak karena pasar memperhitungkan potensi berkurangnya ketersediaan minyak mentah.

Dalam situasi tersebut, volatilitas harga WTI berpotensi meningkat seiring perubahan sentimen terhadap pasokan dan permintaan. Perkembangan geopolitik dapat mengubah arah pergerakan harga, bahkan ketika indikator teknikal menunjukkan peluang koreksi.

Dupoin Futures menilai harga minyak WTI berpeluang bergerak menuju US$ 97,65–US$ 95,25 selama belum mampu menembus area resistance US$ 102,51–US$ 104,21 secara valid.

Pelaku pasar juga perlu memantau pergerakan di sekitar level US$ 101 yang disebut dalam rangkuman Reuters sebagai bagian dari perkembangan pasar. Kemampuan harga menembus dan mempertahankan level tersebut dapat menjadi salah satu indikator perubahan momentum, tetapi perlu dikonfirmasi dengan pergerakan harga berikutnya.

Dengan demikian, arah harga minyak masih ditentukan oleh interaksi antara sinyal teknikal, ekspektasi permintaan energi, dan risiko geopolitik. Skenario koreksi tetap menjadi proyeksi Dupoin Futures, bukan kepastian bahwa harga akan turun ke level yang ditargetkan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya