Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) bakal mengurangi penempatan dana melalui Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) secara bertahap. Kebijakan ini ditempuh untuk memperkuat ketersediaan likuiditas jangka pendek di pasar uang setelah bank sentral menurunkan rasio Giro Wajib Minimum (GWM) dari 9 persen menjadi 7 persen.
Langkah strategis tersebut bertujuan menyeimbangkan likuiditas yang terserap dalam instrumen jangka panjang dengan ketersediaan dana harian di industri perbankan.
Advertisement
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menyampaikan bahwa BI akan menyesuaikan volume penerbitan SRBI secara terukur. Langkah ini diharapkan menjaga likuiditas pasar uang tetap memadai sekaligus memastikan suku bunga pasar uang antarbank bergerak di dalam koridor kebijakan.
"SRBI secara perlahan akan terus kita kurangi secara terukur dengan melihat dinamika yang ada," ujar Erwin dalam Taklimat Media di Kantor BI, Jakarta, Jumat (23/10/2026).
Erwin mengungkapkan, posisi outstanding SRBI sempat menyentuh level puncaknya di kisaran Rp 1.070 triliun dan kini telah turun ke kisaran Rp 900 triliun. Penurunan posisi instrumen tersebut berhasil melepaskan likuiditas pasar sekitar Rp 150 triliun dari posisi tertingginya.
Penyesuaian GWM
Sementara itu, Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Firman Mochtar, menjelaskan bahwa pemangkasan GWM dari 9 persen menjadi 7 persen mencakup pengurangan porsi GWM yang ditempatkan di BI sebesar 1 poin persentase. Penyesuaian ini diperkirakan menambah likuiditas perbankan sekitar Rp 90 triliun, di luar penyesuaian komponen Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM).
"Penurunan GWM tadi adalah bagian dari upaya kita untuk menyeimbangkan kembali likuiditas di pasar uang dan di perbankan," kata Firman pada kesempatan yang sama.
Firman menambahkan, BI mengkalibrasi kebutuhan likuiditas perbankan dengan mempertimbangkan laju pertumbuhan kredit yang melaju lebih kencang dibanding pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK), serta memperhitungkan dampak penempatan dana pemerintah di bank umum.
Melalui kombinasi pemangkasan GWM dan pengurangan SRBI, BI berupaya memastikan likuiditas jangka pendek perbankan tetap melimpah guna mendukung aktivitas penyaluran kredit serta memperkuat transmisi kebijakan suku bunga ke sektor riil.