Polisi Buka Suara soal Dugaan Penganiayaan Siswa di Sekolah Rakyat Jember

Korban sampai trauma bahkan tidak mau kembali ke sekolah.

oleh Hermawan ArifiantoDiterbitkan 23 Oktober 2026, 10:34 WIB
SMA Sekolah Rakyat (SR) Jember

Liputan6.com, Jakarta - Kepolisian Resor (Polres) Jember bergerak cepat mengusut dugaan penganiayaan yang menimpa tiga siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Jember yang berlokasi di Kecamatan Ajung, Kabupaten Jember. Hingga kini, penyidik Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Jember telah memeriksa sedikitnya lima orang saksi guna membongkar dugaan kekerasan fisik yang memicu trauma berat pada para korban.

Kanit PPA Satreskrim Polres Jember, Ipda Alfan Febrianto, mengonfirmasi bahwa rentetan pemeriksaan saksi terus berlanjut. Saksi yang dimintai keterangan mencakup pelapor (orang tua korban), pihak pengelola sekolah, hingga teman korban yang berada di lokasi kejadian.

​"Saat ini kasus masih dalam proses penyelidikan. Sudah ada lima saksi yang kami periksa, termasuk salah satu orang tua korban sebagai pelapor," ujar Ipda Alfan, Jumat (23/10/2026).

​

3 Murid SMA Sekolah Rakyat (SR) Jember Diduga Alami Kekerasan

Meski demikian, pihak kepolisian mengungkapkan bahwa terduga pelaku yang disebut-sebut mahasiswa magang sebuah universitas belum dimintai keterangan resmi. Penyidik masih mendalami peran serta kapasitas mahasiswa tersebut di lingkungan Sekolah Rakyat.

​"Penyidik masih mendalami apa keterkaitan dan peran terduga pelaku di sekolah tersebut. Selain itu, kami berencana memeriksa rekaman CCTV di lokasi untuk memperkuat bukti-bukti penganiayaan," tegas Alfan.

​Sementara itu, pihak sekolah belum bersedia memberikan jawaban detail. Saat dikonfirmasi awak media melalui sambungan telepon, Kepala Sekolah Rakyat Jember, Kartika Sari Dewi, memberikan respons singkat.

​"Belum bisa memberi keterangan," ucapnya singkat sebelum mengakhiri pembicaraan.

Kronologi Penganiayaan

Insiden penganiayaan ini ditengarai terjadi pada Minggu (18/10/2026). Informasi dihimpun, kejadian bermula saat terduga pelaku mendapati ketiga korban sedang merokok di area sekolah. Terduga pelaku kemudian merespons tindakan para siswa tersebut dengan kekerasan fisik.

​Dampak penganiayaan itu cukup fatal. Selain trauma mendalam yang membuat para korban enggan kembali ke sekolah, salah satu siswa bahkan harus mendapatkan perawatan medis di puskesmas setempat.

​Tak terima atas perlakuan tersebut, keluarga korban mendatangi Mapolres Jember pada Senin (19/10/2026) untuk melayangkan laporan resmi. Pihak keluarga mendesak kepolisian mengusut tuntas insiden kekerasan ini sesuai dengan hukum yang berlaku.

​Guna memulihkan kondisi psikologis para korban dan saksi anak, Polres Jember telah berkoordinasi dengan Dinas Sosial melalui UPTD PPA Jember untuk memberikan pendampingan intensif selama proses hukum berjalan.

Sementara itu, pengakuan keluarga korban P, insiden penamparan hingga penendangan tersebut terjadi di dalam area asrama Sekolah Rakyat Jember. ​BD, paman P , menuturkan kejadian itu bermula ketika oknum mahasiswa magang mendapati seorang murid sedang merokok di area asrama. Oknum tersebut lantas melayangkan tamparan ke wajah murid tersebut.

​Kejadian itu disaksikan oleh P dan rekannya, S, yang kebetulan sedang melintas di lokasi. Karena merasa tindakan fisik tersebut tidak wajar, mereka berniat menegur pelaku.

​"Keponakan saya P dan temannya S lewat dan melihat peristiwa itu. Mereka sempat bertanya mengapa harus pakai menempeleng (menampar)," ungkap BD, Selasa (20/10/2026)

​Bukannya mereda, teguran tersebut justru memicu emosi pelaku. Oknum mahasiswa tersebut lantas membentak S dan P dengan nada tinggi.

"Jangan sok pahlawan" gertak pelaku sebagaimana ditirukan BD, sebelum akhirnya melayangkan tamparan keras ke wajah S.

​Melihat rekannya dipukul, P berusaha melindungi S dan meminta pelaku menghentikan aksi kekerasannya. "Jangan ditempeleng, dia tidak punya orang tua," iba P saat itu.

​Namun, sikap empati P justru dibalas dengan penganiayaan yang jauh lebih brutal. Pelaku tidak hanya menampar P, tetapi juga menendang dada remaja tersebut hingga tersungkur. Akibat luka benturan parah di dadanya, P harus dilarikan dan mendapatkan perawatan medis di Puskesmas Ajung malam itu juga.

​Keluarga P yang merupakan anak dari seorang buruh bangunan asal Desa Rowotengah, Kecamatan Sumberbaru, Jember baru mengetahui insiden kelam ini setelah dihubungi oleh pihak wali asrama. Tak terima atas tindakan arogan pelaku, pihak keluarga membulatkan tekad untuk membawa kasus ini ke ranah hukum.

​"Kami memilih jalur hukum. Kasus ini harus diproses tuntas agar kejadian serupa tidak pernah terulang lagi di lingkungan pendidikan," tegas BD.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya