Saat Slogan 'Bismillah' Hebohkan Demo di Prancis

Demo di Prancis diwarnai slogan 'Bismillah, c’est les ténèbres' yang menarik perhatian dan memicu perbebatan.

oleh Septian DenyDiterbitkan 22 Oktober 2026, 18:15 WIB
Seorang demonstran mengangkat papan bertuliskan "Bismillah, C’est Les Ténèbres" selama demonstrasi oleh siswa sekolah menengah di Place de la Bastille di Paris pada 8 Oktober 2026, sebagai bagian dari protes nasional terhadap kondisi pembelajaran. (ADNAN FARZAT / NURPHOTO VIA AFP)

Liputan6.com, Paris - Sebuah slogan empat kata yang ditulis di kardus dan diangkat tinggi-tinggi di tengah kerumunan besar demonstran menjadi simbol keresahan anak muda di Prancis sekaligus bahan lelucon nasional.

Dikutip dari Independent, Kamis (22/10/2026), slogan tersebut berbunyi “Bismillah, c’est les ténèbres”, perpaduan bahasa Arab dan Prancis yang berarti “Dengan nama Tuhan, inilah kegelapan”. Ungkapan itu diduga bermula dari sebuah pesan di Snapchat.

Pesan yang dihiasi bendera Aljazair tersebut dikirim oleh seorang pengguna bernama Mamadou yang meminta bergabung dengan grup mahasiswa. Dalam pesannya, dia menulis, “Hai, dengan nama Tuhan, inilah kegelapan. Kapan blokadenya, wallah, bro?”

Namun, sebagian mahasiswa yang mengikuti aksi protes di Prancis menduga pesan tersebut sebenarnya dikirim oleh polisi yang menyamar untuk menyusup ke grup percakapan privat mereka. Dugaan ini muncul ketika aparat berupaya mengendalikan salah satu gelombang demonstrasi terbesar dalam beberapa waktu terakhir.

Penyelenggara aksi mengklaim sebanyak 800.000 orang turun ke jalan pada akhir pekan lalu. Mereka juga merencanakan aksi lanjutan pada Sabtu mendatang.

Apa Arti Slogan “Bismillah, C’est Les Ténèbres”?

Kata bismillah dalam bahasa Arab berarti “Dengan nama Tuhan”. Ungkapan ini biasa digunakan umat Islam sebelum memulai suatu aktivitas. Namun, dalam bahasa gaul Prancis, kata tersebut berkembang menjadi ungkapan yang kurang lebih bermakna “Ayo lakukan”.

Sementara itu, c’est les ténèbres berarti “Inilah kegelapan”, yang menggambarkan situasi suram tanpa harapan.

Ungkapan tersebut tampaknya meniru gaya percakapan anak muda di Prancis yang kerap mencampurkan bahasa Prancis dan Arab dalam percakapan sehari-hari.

Meski demikian, pengguna Snapchat di Prancis menganggapnya cukup aneh hingga tangkapan layar pesan tersebut mulai beredar di media sosial sejak awal Oktober.

Phèdre Quémener, seorang siswa sekolah menengah di Paris, mengatakan kepada The New York Times bahwa pesan itu dipandang di seluruh Prancis sebagai contoh rasisme karena menyiratkan bahwa orang-orang yang akan melakukan perusakan properti adalah orang Arab.

Ungkapan tersebut kemudian menjadi lelucon nasional karena dianggap sebagai tiruan yang sangat buruk terhadap cara anak muda berbicara.

Elsa Sauveroche, warga Nice, juga menyampaikan pandangan serupa kepada The Independent.

“Ungkapan itu terasa janggal. Ketika pertama kali mendengarnya, saya merasa itu konyol. Saya sampai harus mencarinya di Google untuk memastikan apakah ungkapan itu benar-benar ada. Bahkan setelah itu, reaksi pertama saya tetap bertanya-tanya, apa lagi yang mereka buat?” katanya.

 

Muncul Dugaan Polisi Menyusup ke Grup Snapchat

Hingga kini, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa polisi benar-benar berusaha menyusup ke grup media sosial untuk menyusup ke dalam gerakan protes.

Belum ada pihak independen yang memverifikasi asal-usul akun yang mengirim pesan tersebut. Polisi juga belum memberikan komentar mengenai tangkapan layar yang beredar sejak awal Oktober.

Kementerian Dalam Negeri Prancis pun belum menjelaskan apakah petugasnya menggunakan ungkapan tersebut.

Namun, kepada The New York Times, kementerian itu menyatakan bahwa petugas penegak hukum dapat menggunakan identitas daring tertentu untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang dicurigai mengorganisasi kegiatan ilegal selama demonstrasi.

Terlepas dari polemik asal-usulnya, slogan tersebut telanjur digunakan oleh sejumlah demonstran muda.

Aktivis Greta Thunberg, misalnya, menggunakan ungkapan itu ketika berbicara di hadapan para demonstran di Seine-Saint-Denis pada 13 Oktober, menurut kantor berita Italia ANSA.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya