AI Ancam Peluang Kerja Generasi Muda, Begini Upaya Pemerintah

Pemerintah menyiapkan peta jalan nasional AI untuk merespons perubahan tersebut.

Diterbitkan 22 Oktober 2026, 18:39 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pekerja muda menghadapi tantangan baru seiring pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Salah satu yang menjadi perhatian adalah agentic AI, yang mampu menjalankan berbagai tugas secara otonom dan berpotensi menggantikan sejumlah pekerjaan manusia.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) pun menyiapkan strategi untuk menjaga keseimbangan antara pemanfaatan AI dan perlindungan generasi mendatang agar tetap produktif.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengatakan, pemanfaatan AI berpotensi memengaruhi kebutuhan tenaga kerja karena sejumlah tugas yang sebelumnya dikerjakan manusia dapat dialihkan kepada teknologi tersebut.

"Karena sekarang muncul yang namanya agentic AI. Agentic AI ini masif sekali dipakai dan dia bisa mengerjakan cukup banyak tugas-tugas secara otonom," kata Nezar dalam rangkaian kegiatan Bali Tech Week 2026 di Denpasar, Bali, Kamis (21/10/2026).

Dia mencontohkan pekerjaan analisis keuangan perusahaan. Satu agen AI dapat digunakan untuk menelaah laporan, mengidentifikasi celah, serta memberikan masukan untuk pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan beberapa akuntan.

"Kemudian juga memberikan beberapa masukan-masukan yang mungkin untuk pekerjaan itu kita butuh 10 akuntan," lanjutnya.

Nezar menambahkan, di industri teknologi, AI juga dapat membantu mengembangkan perangkat lunak (software) hanya melalui perintah suara sesuai kebutuhan pengguna.

"Dan itu cukup saya kira menjadi dasar untuk pembuatan agent-agent AI. Dan juga ada banyak platform yang lain," tegas Nezar.

Menurut Nezar, perkembangan tersebut memunculkan tantangan bagi lulusan baru yang telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menempuh pendidikan dan mempersiapkan diri memasuki dunia profesional.

"Kita bisa bayangkan bagaimana pekerja-pekerja muda kita, anak-anak kita yang lulus dari universitas, belajar akutansi selama 4 tahun kemudian begitu lulus tugasnya digantikan oleh agentic AI. Dan agentic AI sekarang cukup dasar," ungkap Nezar.

 

 

Upaya Pemerintah

Untuk merespons perkembangan tersebut, Nezar mengatakan pemerintah telah menyusun peta jalan nasional AI. Strategi itu mencakup sejumlah aspek, mulai dari akuntabilitas, transparansi, keamanan, penelitian dan pengembangan, kolaborasi, hingga panduan etika pengembangan AI.

Pemerintah juga berupaya memastikan pengembangan teknologi selaras dengan nilai-nilai Indonesia, termasuk Pancasila.

Peta jalan tersebut dirancang hingga 2029 dengan mempertimbangkan cepatnya perkembangan teknologi. Pemerintah memilih strategi yang dapat disesuaikan seiring munculnya inovasi baru.

"Kita enggak buat yang panjang karena kita tahu sangat dinamis perkembangannya, cukup cepat. Sehingga kita khawatir kalau kita bikin sampai 2029, teknologi baru muncul lagi dan kita harus mengubah semuanya. Jadi ini semacam living strategy yang bisa kita sesuaikan per empat tahun atau per lima tahun," jelasnya.

Menurut Nezar, strategi tersebut menjadi bagian dari upaya mencapai visi Indonesia Digital 2045, yakni mewujudkan Indonesia yang berdaya dan inklusif secara teknologi pada satu abad kemerdekaan.

Untuk mendukung tujuan tersebut, pemerintah juga memiliki sejumlah perangkat regulasi, di antaranya Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) serta Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP).

Nezar turut menyebut Undang-Undang Satu Data Indonesia yang baru disahkan DPR serta regulasi terkait keamanan dan ketahanan siber sebagai bagian dari kerangka yang mendukung transformasi digital nasional.

Dia menegaskan, perjalanan menuju ekosistem digital yang berdaya saing tidak dapat berlangsung secara instan. Penguatan infrastruktur dasar dan kesiapan berbagai sektor tetap menjadi bagian penting dalam pengembangan teknologi nasional.

Dengan perkembangan AI yang semakin cepat, tantangan Indonesia bukan hanya mendorong adopsi teknologi, tetapi juga memastikan manfaatnya dapat dirasakan masyarakat tanpa mengabaikan perubahan kebutuhan tenaga kerja.

"Bapak-Ibu sekalian tentu saja jalannya tidak mudah, tidak seperti dongeng Cinderella gitu ya, semuanya secara magic bisa kita dapatkan," imbuhnya.