Liputan6.com, Jakarta - BPI Danantara berharap Indonesia menyerap 40-50% dari target investasi US$ 30 miliar atau Rp 541,35 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 18.050) yang dibidik melalui News Asia Forum. Target tersebut setara dengan US$ 12 miliar atau Rp 216,54 triliun hingga US$ 15 miliar atau Rp 270,6 triliun untuk Indonesia, seiring kontribusi ekonomi nasional yang dinilai besar di kawasan Asia Tenggara.
Managing Director Global Relations & Communications BPI Danantara Pahala Mansury mengatakan, target tersebut realistis untuk dicapai dengan mempertimbangkan kontribusi Indonesia terhadap pertumbuhan ekonomi kawasan. Danantara juga ingin menjadikan forum tersebut sebagai sarana menarik investasi dari perusahaan global maupun pelaku usaha domestik.
Advertisement
“Kalau melihat angka-angka pertumbuhan, mungkin 40-50%-nya akan ke Indonesia,” ujar Pahala dalam konferensi pers News Asia Forum di Wisma Danantara, Kamis (22/10/2026).
Pahala mengatakan, target investasi US$ 30 miliar tersebut tidak hanya mengandalkan Danantara, tetapi juga melibatkan sektor swasta, anggota Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), serta pelaku usaha lainnya. Danantara mendorong para investor memanfaatkan forum tersebut untuk menawarkan proyek yang layak dibiayai (bankable project).
“Kita juga mendorong para pihak swasta, anggota Kadin, anggota Apindo, pengusaha besar untuk bisa memanfaatkan forum ini,” kata Pahala.
Menurut Pahala, News Asia Forum juga membuka peluang bagi negara-negara Asia Tenggara lain, seperti Vietnam, Filipina, Thailand, dan Malaysia, untuk mempresentasikan proyek investasinya. Danantara berharap forum tersebut dapat mempertemukan pemilik proyek dengan investor yang memiliki kapasitas pendanaan.
Fokus Danantara
Sementara itu, Managing Director Investment Danantara Investment Management Stefanus Ade Hadiwidjaja mengatakan, Danantara berperan sebagai katalisator untuk menarik modal masuk ke Indonesia, bukan menjadi satu-satunya sumber pembiayaan investasi.
“Fokus besar dari Danantara adalah crowding in capital, membawa modal untuk diinvestasikan di Indonesia, baik dari perusahaan global maupun lokal, baik swasta maupun BUMN,” ujar Stefanus.
Stefanus menambahkan, Danantara tidak harus menjadi investor terbesar dalam setiap proyek. Menurut dia, keberhasilan investasi juga diukur dari kemampuan Danantara menarik modal tambahan sehingga total investasi yang masuk ke Indonesia dapat berlipat ganda dibandingkan modal yang ditanamkan Danantara.
"Dengan setiap dolar, setiap rupiah yang diinvestasikan oleh Danantara, investasi yang masuk balik ke Indonesia itu jauh lebih besar. Jadi itu idenya,” kata Stefanus.