Prabowo ke MSCI: Bangsa Indonesia Tidak Takut dan Tak Akan Gentar

Presiden Prabowo dan jajaran menteri menegaskan Indonesia tidak gentar hadapi wacana penurunan status pasar modal oleh MSCI.

oleh Arief Rahman HakimDiterbitkan 21 Oktober 2026, 16:40 WIB
Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Kabinet di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (21/10/2026). (Liputan6.com/Arief Rahman H)

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto mengaku tidak gentar terhadap rencana MSCI Inc. yang membuka peluang untuk menurunkan status pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Beliau menilai hal tersebut sebagai salah satu tantangan yang sedang dihadapi saat ini.

Prabowo menyampaikan, meski pemerintah telah melakukan banyak pekerjaan dengan baik, bukan berarti Indonesia terhindar dari tantangan. Bahkan, beliau menyebut ada pihak yang menghadang upaya negara.

“Kita telah bekerja dengan baik, tetapi kita tahu tantangan masih sangat besar. Rakyat kita berharap lebih banyak, kesulitan kita masih banyak, gangguan masih banyak, ya. Kita terus dihadang, iya kan. Ada apa itu? Macam-macamlah, MSCI, macam-macam, ya kan,” ungkap Prabowo dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (21/10/2026).

Beliau menegaskan tidak gentar dengan gangguan tersebut. Lebih dari itu, Kepala Negara mengirimkan pesan tegas kepada MSCI bahwa Indonesia tidak takut dan tidak akan gentar.

“Dia mau menakut-nakuti kita. Saya hanya katakan kepada MSCI, bangsa Indonesia tidak takut kepada siapa pun dan tidak akan gentar,” tegasnya.

“Saudara-saudara sekalian, kita tidak takut, kita punya kekuatan, kita punya keberanian, kita rela berkorban, dan kita tidak kenal menyerah. Saudara-saudara sekalian, kalau perlu kita adakan penghematan besar-besaran. Kita lebih hemat lagi nanti,” sambung Prabowo.

Sebagai informasi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok 11,57% dipengaruhi sentimen rencana MSCI yang membuka konsultasi terkait status pasar modal Indonesia. Reformasi pasar modal pun menjadi salah satu jurus utama yang dijalankan oleh para pemangku kepentingan.

 

Tak Bergantung pada MSCI

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat Rapat Kerja Nasional KEK Triwulan III 2026, Rabu, (21/10/2026). (Foto: Liputan6.com/Immanuel Christian)

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa Indonesia tidak bergantung hanya pada penilaian Morgan Stanley Capital International (MSCI) dalam mengukur kinerja pasar saham nasional. Pemerintah mengandalkan pembenahan tata kelola pasar modal untuk menjaga kepercayaan investor di tengah sorotan terhadap indeks saham Indonesia.

“Kita confident saja dengan tata kelola yang sedang disiapkan, dan Indonesia tidak tergantung hanya pada satu rating saja,” ujar Airlangga seusai konferensi pers Rakernas KEK Triwulan III 2026 di Gedung A.A. Maramis, Jakarta, Rabu (21/10/2026).

Airlangga menjelaskan bahwa MSCI bukanlah satu-satunya lembaga penyedia indeks global yang memberikan penilaian terhadap pasar saham Indonesia. Beliau mencontohkan lembaga penyedia indeks terkemuka lainnya seperti FTSE dan Russell yang juga menjadi acuan investor global.

“MSCI itu salah satu rating, tetapi bukan satu-satunya. Jadi, kita ada rating yang lain, apakah itu FTSE, ada Russell, dan yang lain, yang tentu hasilnya berbeda,” kata Airlangga.

 

Mantan Mendag Turut Berkomentar

Mantan Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Di sisi lain, Mantan Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi turut menanggapi langkah MSCI yang mengusulkan potensi perubahan status pasar saham Indonesia dari emerging market (pasar berkembang) menjadi standalone market (pasar mandiri).

Mengutip unggahan di akun Instagram miliknya (@m.lutfi) pada Selasa (20/10/2026), beliau menyoroti langkah MSCI yang membuka konsultasi mengenai potensi perubahan status tersebut secara mendadak.

“Tiba-tiba lembaga penyedia indeks global mengeluarkan ancaman mau menurunkan kasta pasar modal Indonesia dari emerging market langsung ke standalone market,” kata Lutfi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya