26 Oktober 1955: Ngo Dinh Diem Deklarasikan Berdirinya Republik Vietnam

Banyak campur tangan AS dalam deklarasi yang dilakukan pada 16 Oktober 1955 ini.

oleh Nasywa FakhirahDiterbitkan 26 Oktober 2026, 06:00 WIB
Presiden Vietnam Ngo Dinh Diem. (Public Domain)

Liputan6.com, Hanoi - Salah satu tokoh dalam sejarah negara Vietnam, Ngo Dinh Diem, menyatakan bahwa sesuai dengan keinginan rakyat Vietnam, dan tercermin dalam referendum nasional beberapa hari sebelumnya, Republik Vietnam berdiri dan ia akan menjabat sebagai presiden negara tersebut pada 26 Oktober 1955.

Dikutip dari Sky History, Senin (26/10/2026), peristiwa ini menandai langkah penting dalam semakin dalamnya keterlibatan Amerika Serikat (AS) di Vietnam sekaligus mengungkap beberapa aspek mengkhawatirkan yang menjadi ciri khas delapan tahun masa pemerintahan Diem.

Perjanjian perdamaian antara Prancis dan kaum nasionalis Vietnam di tahun 1954 yang memperjuangkan kemerdekaan membuat Vietnam terpecah belah. Di utara, Ho Chi Minh dan para pendukung komunisnya memegang kendali, sedangkan di selatan, Prancis menempatkan pemerintahan "nasionalis" yang lemah yang dipimpin oleh Bao Dai. Pemilihan umum nasional rencananya diselenggarakan dalam dua tahun untuk menyatukan kembali negara tersebut dan memilih seorang pemimpin.

AS tidak setuju dalam perjanjian ini dan segera bertekad untuk menyelamatkan Vietnam Selatan dari kendali Ho. Dalam pandangan para pejabat AS, Diem adalah harapan terbaik sebagai pemimpin untuk Vietnam Selatan yang merdeka dan demokratis. Pada tahun 1954, Bao Dai menunjuk Diem sebagai Perdana Menteri.

Kemudian di tahun 1955, Diem memutuskan untuk menyingkirkan Bao Dai dan mengambil alih kekuasaan. Ia menggelar referendum nasional, yang didukung oleh AS. hasil pemungutan suara tersebut menjadi hal yang memalukan untuk semua pihak yang terlibat kecuali Diem. Ia memperoleh 98,2 persen suara.

Beberapa waktu sebelumnya, Presiden Eisenhower sempat mengkritik pemilu di negara-negara di balik Tirai Besi, dengan menyatakan bahwa tidak ada seorang pun yang bisa mendapat lebih dari 90 persen suara dalam pemilu yang benar-benar bebas.

Tuduhan korupsi segera dilontarkan, dan tidak lama kemudian terungkap bahwa 400 ribu pemilih di Saigon telah memberikan lebih dari 600 ribu suara. Walaupun begitu, Diem tetap berhasil. Bao Dai tersingkir, dan kekuasaan Diem menjadi semakin kokoh.

AS, walaupun memiliki beberapa keraguan tentang seberapa "demokratis" pemerintahan Diem nantinya, mengakui presiden baru tersebut. Negara Vietnam Selatan menjadi kenyataan, dan AS berkomitmen terhadap pemerintahan dan pemimpin barunya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya