Kejar Target Lifting, SKK Migas dan PHE Siapkan Strategi Ketahanan Energi

SKK Migas bersama Pertamina Hulu Energi memperkuat sinergi investasi dan transformasi kebijakan fiskal guna menggenjot produksi dalam negeri.

oleh Cahya Alena FauzaDiterbitkan 20 Oktober 2026, 17:55 WIB
Konferensi pers FOREK Hulu Migas 2026 di Jakarta, Selasa (20/10/2026). (Liputan6.com/Cahya Alena Fauza)

Liputan6.com, Jakarta - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi  (SKK Migas), PT Pertamina Hulu Energi (PHE), serta berbagai pemangku kepentingan akan menggelar forum ekonomi hulu migas nasional. Forum ini untuk mendukung penguatan industri hulu migas di Tanah Air terutama agenda investasi dan komersialisasi.

Deputi Keuangan dan Komersialisasi SKK Migas, Desti Melanti, menyoroti target lifting minyak nasional yang terus dituntut meningkat dari tahun ke tahun.

“Target lifting nasional tentunya dari tahun ke tahun dituntut untuk terus mengalami peningkatan,” ujarnya, Selasa (20/10/2026).

Ia menjelaskan bahwa target lifting minyak nasional pada akhir tahun 2026 ditetapkan sebesar 610 ribu barel per hari. Meski dinamika dan gejolak pasar menekan pencapaian tersebut, SKK Migas tetap optimistis untuk mengupayakan target yang telah ditetapkan.

“Kami optimistis melalui beberapa skenario lifting yang baru, tentunya akan terus diupayakan untuk mendekatkan pada target lifting 2026 tersebut,” beber Desti.

Sinergi para pemangku kepentingan dalam forum ini ditujukan untuk membenahi iklim investasi hulu minyak dan gas bumi, sekaligus mewujudkan transformasi tata kelola yang berkesinambungan demi mendongkrak produksi nasional.

 

Fokus Isu Pembahasan

Konferensi pers FOREK Hulu Migas 2026 di Jakarta, Selasa (20/10/2026). (Liputan6.com/Cahya Alena Fauza)

Beberapa isu utama yang dibahas meliputi tantangan investasi, transformasi kebijakan fiskal (PBB Migas), pengelolaan investasi KSS yang akuntabel, optimalisasi komersialisasi untuk lifting, implementasi kewajiban ASR, hingga transformasi pengelolaan aset hulu migas.

Pertemuan yang berlangsung pada 28–29 Oktober 2026 di Jakarta ini diharapkan dapat menjadi wadah identifikasi masalah, konsolidasi, serta penyusunan rekomendasi konkret bagi industri.

“Di sini kita bersama-sama mengidentifikasi isu apa saja yang dibahas, kemudian mengonsolidasikannya menjadi rekomendasi. Dari rekomendasi ini, outcome yang kita harapkan adalah transformasi tata kelola untuk meningkatkan investasi dan produksi nasional,” ujar Chairperson Forum, Nyimas Fauziah Rikani.

Kegiatan ini rencananya juga dihadiri oleh sejumlah pejabat negara, seperti Menteri ESDM, Menteri Koordinator Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia, serta Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara.

 

Mendorong Produksi dan Menarik Investasi Domestik

Konferensi pers FOREK Hulu Migas 2026 di Jakarta, Selasa (20/10/2026). (Liputan6.com/Cahya Alena Fauza)

Kebutuhan minyak di dalam negeri saat ini masih jauh melebihi kapasitas produksinya. Konsumsi minyak nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sedangkan tingkat produksi baru berada di kisaran 605 ribu barel per hari.

“Sejak tahun 2003, kebutuhan energi di Indonesia sudah melampaui apa yang diproduksikan,” kata Direktur Keuangan PT Pertamina Hulu Energi (PHE), Bayu Kusuma Dewanto.

Meski demikian, potensi pengembangan industri hulu masih terbuka lebar. Nilai investasi yang masuk telah mencapai US$ 15,42 miliar atau sekitar Rp 277,3 triliun (dengan asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran Rp 17.985). Selain itu, dari 128 cekungan sedimen yang ada di Indonesia, baru 20 cekungan yang telah dikembangkan.

Oleh karena itu, kolaborasi ini diharapkan dapat menggenjot aktivitas pengeboran demi mendongkrak hasil produksi dalam negeri. Penyerapan investasi dari pemangku kepentingan dalam maupun luar negeri juga menjadi sasaran utama.

“Tentu saja ini butuh dukungan luar biasa, terutama dari SKK Migas serta pihak-pihak terkait lainnya seperti perbankan, investor, hingga pemangku kepentingan di bidang perpajakan dan SDM,” ujar Bayu.

Selain komitmen investasi, kepastian regulasi, skema fiskal yang adil, kemudahan perizinan, dan akses pembiayaan yang efisien menjadi pilar utama yang terus didorong untuk memastikan kelancaran lifting serta komersialisasi migas di masa depan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya