Pemilu Bikin Ekonomi Negara Berkembang Rapuh?

Pemilu yang akan digelar dalam beberapa bulan ke depan, dinilai dapat berdampak negatif pada perekonomian nasional.

oleh Siska Amelie F Deil diperbarui 19 Feb 2014, 11:53 WIB
Memasuki 2014,  negara-negara berkembang yang dinilai mengalami kerapuhan ekonomi atau sering disebut `The Fragile Five` (Indonesia, India, Brasil, Afrika Selatan dan Turki) ternyata sama-sama akan menggelar tahun Pemilihan Umum (Pemilu).  

Saat ini para investor mulai memperhitungkan risiko politik yang mungkin memperkeruh kondisi perekonomian di negara-negara berkembang.

"Terjadi pergeseran kekhawatiran pasar mengenai negara-negara berkembang dalam sebulan terakhir," ungkap Direktur Pelaksana Spiro Sovereign Strategy, Nicholas Spiro seperti dikutip dari CNBC, Rabu (19/2/2014).

Pemilu yang akan digelar dalam beberapa bulan ke depan, dinilai dapat berdampak negatif pada perekonomian nasional. Terlebih lagi, risiko politik  internal itu muncul di tengah gencarnya program penarikan dana stimulus Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed).

"Pada Mei 2013, fase aksi jual didominasi ketakutan para investor terhadap program The Fed. Tapi sekarang, risiko ekonomi yang dihadapi negara-negara berkembang banyak dipengaruhi kredibilitas rezim pembentukan kebijakan dan iklim politik," paparnya.

Sementara itu, lewat pemilihan presiden yang baru, Indonesia diharapkan dapat menggalakkan sejumlah reformasi ekonomi nasional. Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo bahkan disebut-sebut dapat membawa pengaruh postif bagi perekonomian negara jika terpilih sebagai presiden tahun ini.

Di India, pemilu dinilai dapat menjadi titik balik perekonomian negaranya. Selain itu, pergelaran pesta rakyat itu juga dianggap dapat meningkatkan iklim investasi negara.

Berbeda dengan Indonesia dan India, Afrika Selatan terlihat akan mengalami pemilihan presiden yang ketat. Hal itu dianggap dapat memberikan pengaruh yang cukup besar bagi perekonomian domestiknya.

Sementara di Turki, pembenahan politik lewat presiden terpilih dianggap dapat secara perlahan-lahan mengakhiri gangguan ekonomi yang muncul di sana.

Sayangnya, negara dengan perekonomian terbesar di Amerika Latin, Brazil masih menghadapi ketidakpastian politik meghadapi pemilu tahun ini. Hal itu karena, bursa saham Brazil masih menderita gangguan stabilitas setelah The Fed menarik program stimulusnya.

Bahkan bank sentral Brazil tercatat secara agresif menaikkan suku bunga acuannya hingga 325 basis poin sejak April tahun lalu guna mengendalikan tingkat inflasi. (Sis/Ahm)



*Bagi Anda yang ingin mengetahui hasil ujian CPNS Honorer K2 2013 silakan klik di cpns.liputan6.com


Baca juga:

Ekonomi Negara-negara Berkembang Bakal Bangkit Tahun Ini

Hal yang Harus RI Lakukan Biar Tak Bangkrut

Pidato Janet Yellen Bikin Investor Kabur dari Negara Berkembang


POPULER

Berita Terkini Selengkapnya