Orang Kota Banyak Belanja Non-Pangan, Warga Desa Fokus Kebutuhan Pokok

BPS mencatat pengeluaran warga desa masih didominasi pangan, sementara orang kota lebih fleksibel.

oleh Idris Rusadi PutraDiterbitkan 11 Oktober 2026, 16:05 WIB
Ilustrasi seorang perempuan belanja di supermarket. (Odua/depositphotos.com)

Liputan6.com, Jakarta - Ketimpangan ekonomi antara kawasan perkotaan dan perdesaan di Indonesia masih menyisakan jarak yang cukup lebar. Tak hanya berbeda dari sisi nominal rupiah yang dibelanjakan, pola dan struktur konsumsi harian masyarakat di kedua wilayah ini juga menunjukkan dua realitas ekonomi yang sangat bertolak belakang.

Berdasarkan publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) bertajuk 'Pengeluaran untuk Konsumsi Penduduk Indonesia Maret 2026', rata-rata total pengeluaran per kapita sebulan penduduk yang tinggal di perkotaan mencapai Rp 1,90 juta. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata pengeluaran penduduk perdesaan yang tercatat sebesar Rp 1,28 juta per bulan.

"Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan penduduk daerah perkotaan adalah sebesar Rp 1.902.997, sedangkan untuk penduduk daerah perdesaan sebesar Rp 1.287.359," tulis BPS dalam publikasinya, dikutip Minggu (11/10/2026).

Perbedaan mendasar lainnya terletak pada struktur alokasi anggaran rumah tangga. Masyarakat perkotaan kini telah menggeser porsi terbesar belanjanya untuk kelompok bukan makanan, seperti perumahan, barang/jasa, transportasi, serta pendidikan dan kesehatan.

Di daerah perkotaan, porsi pengeluaran bukan makanan mendominasi hingga 53,61% (Rp 1.020.147), sementara alokasi untuk makanan mengambil porsi 46,39% atau Rp 882.850. Kondisi sebaliknya terjadi di perdesaan, di mana mayoritas penghasilan warga masih tersedot untuk memenuhi kebutuhan perut sehari-hari atau kebutuhan makanan.

"Di daerah perdesaan, pangsa pengeluaran untuk makanan masih mendominasi dengan persentase sebesar 57,39% dari total pengeluaran, sedangkan untuk kelompok bukan makanan hanya sebesar 42,61%," jelas BPS dalam laporan tersebut.

Nilai nominal belanja bukan makanan penduduk desa rata-rata hanya Rp 548.514 per kapita sebulan, atau kurang dari separuh alokasi belanja bukan makanan penduduk kota.

Pergeseran Konsumsi Makanan Siap Saji

Ilustrasi belanja di supermarket/Shutterstok-maroke

Dalam kelompok pangan sendiri, BPS mencatat adanya perbedaan gaya hidup yang kontras. Masyarakat perkotaan mencatatkan pengeluaran untuk makanan dan minuman jadi sebesar Rp 325.119 per kapita sebulan. Angka belanja makan di luar atau makanan praktis ini jauh melampaui warga desa yang mengalokasikan Rp 208.572 per bulan.

Namun di sisi lain, pengeluaran untuk bahan makanan mentah yang dimasak sendiri di rumah, seperti beras/padi-padian, di perdesaan terbilang tinggi, yakni sebesar Rp 114.739. Nominal ini menempel ketat angka di perkotaan yang tercatat sebesar Rp 108.971.

Lebih tingginya pangsa pengeluaran bukan makanan di perkotaan mengindikasikan tingkat kesejahteraan serta variasi kebutuhan harian yang lebih tinggi, sementara masyarakat desa masih membutuhkan penguatan daya beli agar alokasi anggarannya tidak habis melulu untuk komoditas pangan pokok.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya