Rusia Pasok Solar ke AS, Bakal Tekan Harga BBM?

Kesepakatan pasokan solar Rusia ke AS hanya akan berdampak minim terhadap harga BBM.

oleh Thurfah Mahira AhnafDiterbitkan 10 Oktober 2026, 10:52 WIB
Ketidakpastian terkait potensi penurunan ketegangan Amerika Serikat dan Iran membuat pasar tetap waspada. Tampak dalam foto, harga bensin yang melebihi 8 delapan dolar AS per galon terlihat tertera di sebuah SPBU Chevron di Los Angeles, California, pada 28 April 2026. (Frederic J. BROWN/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Kesepakatan baru pasokan solar yang wajib ditingkatkan Rusia ke Amerika Serikat (AS) dalam beberapa bulan ke depan diperkirakan tidak banyak mengubah tingginya harga bahan bakar minyak (BBM). Para pakar kebijakan energi menyebut dampaknya minim, baik di pompa bensin maupun sektor lain.

Presiden AS Donald Trump mengumumkan pada Jumat sudah sepakat dengan Presiden Rusia Vladimir Putin agar Rusia segera memasok lebih dari 300.000 ton diesel, ditambah 500.000 ton pada November, dan 4 juta ton lagi di kemudian hari.

Kesepakatan ini menandai pembalikan tajam kebijakan AS, yang sejak awal perang Rusia dengan Ukraina telah melarang impor minyak Rusia. Langkah ini muncul di saat ekonomi dan konsumen AS tertekan kenaikan harga minyak global akibat delapan bulan perang AS-Iran.

Harga solar pecah rekor dalam beberapa pekan terakhir, mendongkrak inflasi berbagai barang konsumen. Rata-rata harga nasional per galon diesel di AS mencapai yang tertinggi US$ 6,53 atau Rp 116.858 (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah 17.900) pada 22 September, menurut klub motor AAA.

Harga rata-rata mencapai hampir US$ 6,28 atau Rp 112.384 per galon pada Jumat, naik dari hampir US$ 3,68 atau Rp 65.855 pada periode yang sama tahun lalu. Kenaikan harga diesel ini membuat biaya distribusi berbagai barang sehari-hari ikut melonjak, karena diesel dipakai banyak jaringan kargo dan pengiriman.

Sejumlah bisnis bahkan telah membebankan biaya tambahan kepada konsumen, termasuk untuk pesanan daring dan paket pos. Konsumen diperkirakan makin merasakan lonjakan harga, terutama pada bahan makanan seperti daging dan produk segar.

 

Pakar Energi: Dampaknya Hanya Lokal dan Terbatas

Situasi ini memicu lonjakan harga minyak di atas USD 100 per barel, serta mengancam stabilitas ekonomi dunia dan inflasi bahan bakar. Tampak dalam foto, para pekerja melakukan perawatan pipa di stasiun degasifikasi di ladang minyak Zubair, yang operasinya telah dikurangi karena perang Timur Tengah yang dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran, dekat Basra, Irak, Sabtu, 28 Maret 2026. (AP Photo/Leo Correa)

Kondisi ini semakin menekan Trump dan Partai Republik untuk mengatasi tingginya harga jelang pemilu sela 3 November. Tingkat persetujuan Presiden terkait ekonomi mencapai titik terendah baru, menurut AP-NORC yang dirilis pekan lalu.

“Ini semacam menggeser kursi dek di atas kapal Titanic,” kata Distinguished Fellow Energy Policy Research Foundation, Michael Lynch

Lynch menyebut, jika AS mendapat solar dari Rusia, pada dasarnya pelanggan Rusia yang sudah ada akan kehilangan pasokan tersebut dan harus mencari sumber lain. Kondisi ini membuat harga secara global pada dasarnya tetap sama seperti sekarang.

Ia menambahkan, yang terbaik bisa diharapkan hanyalah sedikit penurunan harga secara lokal di sejumlah kawasan tertentu, seperti New York-New Jersey atau Philadelphia. Minyak hanya akan bergeser lokasi tanpa benar-benar mengubah harga secara global maupun di AS.

Senior Fellow Columbia Center on Global Energy Policy, Daniel Sternoff, menyebut jika Rusia kini mampu mengekspor diesel setelah sempat melarangnya sejak Juli akibat serangan drone Ukraina, hal itu bisa membantu menstabilkan harga diesel global.

 

Untungkan Rusia

Presiden Donald Trump menyambut Presiden Rusia Vladimir Putin di Pangkalan Gabungan Elmendorf-Richardson, Alaska, Amerika Serikat, Jumat (15/8/2025). (Dok. AP/Julia Demaree Nikhinson)

Namun, harga keseluruhan diperkirakan tetap tinggi. Sebab, banyak kapasitas kilang di Timur Tengah tidak tersedia bagi pasar dunia akibat gangguan di Selat Hormuz dari perang AS-Iran yang masih berlangsung.

"Produk olahan seperti diesel masih hampir separuh dari level sebelum perang. Jadi, meski ada tindak lanjut dari Rusia untuk menambahkan sedikit diesel ke pasar dunia, itu mungkin bisa sedikit meredam harga, tetapi tidak akan menurunkannya secara substansial,” kata Sternoff.

Kesepakatan Dinilai Lebih Untungkan Rusia

Ahli Strategi Energi Center for Strategic and International Studies, Clayton Seigle, menyebut kesepakatan ini justru lebih menguntungkan Rusia dibandingkan konsumen AS. Rusia disebut tengah berupaya melepas diesel kelas musim panasnya untuk digantikan kelas musim dingin dan Arktik yang lebih dibutuhkan beberapa bulan mendatang.

“Saya rasa ini tidak akan cukup untuk secara material menurunkan harga di Amerika Serikat atau Eropa, tetapi ini jelas membebaskan Moskow dari tekanan pendapatan,” kata Seigle.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya