Geo Dipa Ungkap Potensi Sumur Panas Bumi Hasilkan 30 MW

Geo Dipa menuturkan, panas bumi dapat diandalkan untuk transisi energi.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 02 Oktober 2026, 13:25 WIB
Direktur Utama PT Geo Dipa Energi (Persero) Yudistian Yunis. (Foto: Liputan6.com/Immanuel Christian).

Liputan6.com, Bogor - PT Geo Dipa Energi (Persero) mengandalkan pengembangan teknologi pengeboran untuk mengatasi tantangan eksplorasi panas bumi yang berada di kawasan gunung dan wilayah sulit dijangkau.

Direktur Utama PT Geo Dipa Energi (Persero) Yudistian Yunis mengatakan, pengembangan teknologi pengeboran ke lapisan bumi yang lebih dalam dapat meningkatkan kapasitas produksi satu sumur panas bumi hingga dua kali lipat.

"Kalau kita dapat di kedalaman yang lebih dalam dan lebih panas, maka satu sumur itu bisa 25 sampai 30 megawatt,” ujar Yudistian di Bogor, Jumat (2/10/2026).

Yudistian mengatakan, pengembangan geothermal supercritical menjadi salah satu peluang untuk meningkatkan kapasitas panas bumi karena teknologi tersebut memungkinkan pengeboran menuju sumber panas dengan temperatur lebih tinggi.

Menurut Yudistian, satu sumur panas bumi saat ini dapat menghasilkan sekitar 10–15 MW, sedangkan sumur yang mencapai lapisan lebih dalam dan lebih panas berpotensi menghasilkan 25–30 MW.

Yudistian memperkirakan biaya pengeboran sumur tersebut mencapai US$ 7–10 juta, tetapi kapasitas produksi yang lebih besar dapat meningkatkan keekonomian proyek.

"Biaya bikin sumurnya US$ 7 sampai US$ 10 juta, tapi hasilnya bisa dua kali lipat kalau kita mau ke dalam lagi,” katanya.

Yudistian mengatakan Indonesia memiliki salah satu lokasi yang dinilai dekat dengan pengembangan panas bumi supercritical melalui kawasan Dieng, meskipun teknologi pengeboran untuk kondisi tersebut masih dalam tahap pengembangan secara global.

Yudistian menilai panas bumi memiliki posisi strategis dalam transisi energi karena pembangkit panas bumi dapat memasok listrik selama 24 jam dengan kapasitas faktor hingga sekitar 95%.

“Geothermal ini kalau memang kita mau bicara soal transisi energi, dia transisi energi yang mungkin paling bisa diandalkan karena dia bisa 24 jam 7 hari seminggu,” ujar Yudistian.

 

Tantangan yang Dihadapi

Direktur Utama PT Geo Dipa Energi (Persero) Yudistian Yunis. (Foto: Liputan6.com/Immanuel Christian).

Namun, Yudistian mengatakan, keekonomian proyek masih menjadi tantangan karena beban fiskal dapat memengaruhi harga listrik panas bumi.

Yudistian mengatakan, pemerintah dan pelaku industri sedang membahas penurunan beban fiskal agar harga listrik panas bumi menjadi lebih terjangkau.

“Keekonomian ini kalau kita lihat tadi fiskal yang fiskal positif, apakah ini beban fiskalnya bisa diturunkan sehingga harga listriknya jadi affordable, nah ini yang sedang kita bahas,” katanya.

Yudistian mengatakan, pembahasan keekonomian panas bumi juga berlangsung di asosiasi industri, termasuk dalam pembahasan revisi PP 112.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya