Liputan6.com, Jakarta - AiMOGA Robotics, perusahaan teknologi di bawah naungan Chery Group, tidak hanya mengembangkan robot humanoid. Perusahaan asal China ini juga mengembangkan teknologi kursi roda pintar yang memanfaatkan sinyal otak untuk menerjemahkan perintah pengguna menjadi gerakan.
Teknologi tersebut bahkan berhasil mencatatkan prestasi dalam kompetisi tingkat internasional. Kursi roda kendali sinyal otak bernama AiMOGA BCI, meraih juara pertama dalam kategori "Mind-Driven Wheelchair Challenge" pada Global Brain-Computer Interface (BCI) × Medical Insurance Innovation Scenario Competition 2026 di Hangzhou, China.
Advertisement
Dalam kompetisi tersebut, AiMOGA BCI berhasil menyelesaikan lintasan dalam waktu 2 menit 16 detik. Catatan ini unggul 17 detik dibandingkan peserta yang menempati posisi kedua.
Kompetisi mengharuskan peserta menggunakan perangkat electroencephalography (EEG) untuk merekam aktivitas listrik otak. Sinyal tersebut kemudian digunakan untuk mengendalikan kursi roda dan menyelesaikan lintasan yang telah ditentukan.
Waktu penyelesaian menjadi salah satu indikator utama dalam kategori tersebut.
Head of Brain-Computer Interface AiMOGA Robotics, Xie Yuyang, mengatakan unit yang digunakan dalam kompetisi dibawa langsung dari Wuhu, Provinsi Anhui, menuju Hangzhou.
Setelah tiba di lokasi, kursi roda tersebut disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan persyaratan kompetisi.
Menariknya, sejumlah fitur yang sebenarnya tersedia pada AiMOGA BCI tidak digunakan selama perlombaan. Fitur penghindaran rintangan berbasis LiDAR dan navigasi peta dinonaktifkan sesuai dengan aturan kompetisi.
Dengan demikian, hasil tersebut lebih menitikberatkan pada kemampuan sistem dalam menangkap sinyal EEG, mengenali perintah, dan menerjemahkannya menjadi gerakan kursi roda.
"Tujuan awal kami mengembangkan produk ini adalah untuk memberikan kemudahan dan membuka lebih banyak kemungkinan bagi penyandang paraplegia tingkat tinggi, orang yang mengalami stroke, serta orang dengan gangguan mobilitas lainnya," ujar Xie Yuyang.
AiMOGA BCI menggunakan sistem perekaman sinyal EEG non-invasif dengan delapan kanal. Pengguna cukup mengenakan perangkat EEG, kemudian memusatkan perhatian pada sejumlah perintah arah yang ditampilkan melalui layar.
Sistem selanjutnya akan mengenali sinyal EEG yang sesuai dan menerjemahkannya menjadi perintah gerakan. Perintah tersebut mencakup maju, mundur, kiri, kanan, dan berhenti.
Menurut AiMOGA, sistem ini memiliki tingkat akurasi pengenalan perintah EEG lebih dari 95 persen, dengan waktu latensi pengenalan kurang dari 3 detik.
Teknologi tersebut memungkinkan pengguna mengendalikan kursi roda tanpa harus menggunakan tangan. Hal ini menjadi salah satu opsi bagi pengguna yang mengalami keterbatasan gerak pada tangan atau anggota tubuh lainnya, tetapi masih memiliki kemampuan untuk memahami instruksi.
"Pengguna hanya perlu memusatkan perhatian pada tombol arah yang ditampilkan di layar untuk mengendalikan pergerakan kursi roda tanpa menggunakan tangan," jelas Xie.
Di luar kebutuhan kompetisi, AiMOGA BCI memiliki perangkat tambahan yang membuat sistemnya lebih fleksibel untuk digunakan dalam berbagai kondisi.
Kursi roda tersebut dilengkapi LiDAR dan depth cameras yang mendukung navigasi berbasis peta. Kedua teknologi ini dapat digunakan untuk mendeteksi rintangan sekaligus membantu sistem menghindari objek di sekitar kendaraan.
Bagian dari Pengembangan Embodied Intelligence
Selain kendali berbasis sinyal otak, AiMOGA BCI juga menyediakan sejumlah opsi kendali lain. Di antaranya melalui layar sentuh, tombol berhenti darurat, serta fungsi pengambilalihan kendali secara manual.
Kombinasi tersebut memungkinkan kursi roda memiliki beberapa metode pengoperasian sesuai kebutuhan pengguna dan skenario penggunaan.
Global Brain-Computer Interface × Medical Insurance Innovation Scenario Competition 2026 diselenggarakan oleh National Healthcare Security Administration of China bersama Pemerintah Provinsi Zhejiang.
Kompetisi tersebut diikuti 415 tim dari berbagai wilayah di China serta sejumlah negara lain, termasuk Amerika Serikat, Inggris, Jerman, dan Singapura. Dari jumlah tersebut, sebanyak 251 proyek berhasil melaju ke babak final.
Kompetisi ini tidak hanya menguji teknologi berdasarkan parameter laboratorium. Para peserta juga dihadapkan pada berbagai tantangan berbasis tugas di dunia nyata.
Kategori yang dipertandingkan mencakup teknologi drone, kursi roda elektrik, lengan robot, robot berkaki empat, sistem pengetikan berbasis kendali otak, hingga permainan balap.
Selain itu, terdapat pula proyek yang berkaitan dengan pemantauan kesehatan dan peringatan dini, rehabilitasi fungsi tubuh, serta perawatan cerdas.
Keberhasilan AiMOGA BCI meraih juara pertama menjadi bagian dari langkah AiMOGA Robotics dalam mengembangkan konsep embodied intelligence untuk berbagai kebutuhan manusia.
Sekadar informasi, AiMOGA telah mengembangkan penerapan produknya di lebih dari 100 skenario, mulai dari layanan publik, transportasi cerdas, layanan kesehatan, hingga pendampingan di rumah.
Produk-produk AiMOGA juga disebut telah terjual di lebih dari 60 negara dan wilayah di seluruh dunia.