Liputan6.com, Jakarta - Harga emas menguat 1% pada perdagangan Selasa, 29 September 2026 (Rabu pagi Jakarta). Akan tetapi, harapan kebijakan moneter lebih ketat oleh the Federal Reserve (the Fed) yang didorong kekhawatiran inflasi menahan harga emas tetap berada di dekat level terendah dalam lebih dari tujuh minggu yang dicapai pada sesi sebelumnya.
Mengutip CNBC, Rabu (30/9/2026), harga emas spot naik 1,1% menjadi US$ 4.157,39 per ons pada pukul 09.30 pagi waktu setempat (13.30 GMT). Level terendah pada perdagangan Selasa di posisi US$ 4.112,97, hanya sedikit di atas level terendah lebih dari tujuh bulan sebesar US$ 4.110,55, yang tercatat pada Senin pekan ini.
Advertisement
Sedangkan kontrak berjangka emas AS naik 0,5% menjadi US$ 4.189,60.
"Pergerakan hari ini hanyalah koreksi dari penurunan kemarin. Saya masih berpendapat ada hambatan yang cukup signifikan bagi emas saat ini,” ujar Vice President dan Senior Metals Strategist Zaner Metals, Peter Grant.
Emas turun hampir 4% pada sesi sebelumnya dan berada di level terendah sejak 5 Agustus, tertekan oleh penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil (yield) obligasi Treasury, harga energi, serta kekhawatiran inflasi yang memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga.
"Ekspektasi yang meningkat akan adanya lebih banyak kenaikan suku bunga The Fed menjaga dolar tetap kuat, sementara imbal hasil obligasi tetap tinggi. Menurut saya, potensi kenaikan harga mungkin agak terbatas hari ini, dan pasar akan tetap fokus pada data inflasi PCE besok serta data ketenagakerjaan pada Jumat," kata Grant.
Nilai tukar dolar AS menguat dan menguji level tertinggi dalam beberapa bulan, didorong oleh volatilitas harga minyak dan kenaikan pesat imbal hasil obligasi Treasury baru-baru ini.
Dolar AS Menguat
Dolar AS yang lebih kuat membuat emas yang diperdagangkan dalam mata uang AS menjadi lebih mahal bagi pembeli luar negeri, sementara imbal hasil obligasi Treasury yang lebih tinggi meningkatkan biaya peluang (opportunity cost) untuk memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil (yield).
Di sisi lain, kenaikan harga energi dapat memicu inflasi dan memaksa bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi guna meredam tekanan harga.
Emas secara tradisional dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi, tetapi cenderung kehilangan daya tariknya dibandingkan aset-aset yang memberikan imbal hasil (seperti obligasi) di tengah lingkungan suku bunga tinggi. Menurut FedWatch Tool dari CME, pasar saat ini memperkirakan adanya probabilitas sebesar 70% untuk kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober dan peluang sebesar 95% untuk kenaikan pada Desember.
Para investor menantikan data ekonomi penting, termasuk data ketenagakerjaan ADP dan data PCE yang dijadwalkan rilis pada Rabu, serta data nonfarm payrolls pada Jumat.