Liputan6.com, Paris - Paus Leo XIV pada Senin (28/9/2026) mengatakan kekhawatiran bahwa kecerdasan buatan (AI) bisa lepas kendali bukanlah "fake news" atau berita palsu. Ia menegaskan, persoalan keselamatan yang disampaikan para pakar AI perlu dibahas dan ditindaklanjuti.
Bapa Suci, yang menjadikan AI dan perlindungan terhadap umat manusia sebagai salah satu fokus utama ensiklik pertamanya—surat resmi Paus yang membahas persoalan penting—ditanya dalam konferensi pers mengenai langkah yang seharusnya dilakukan terutama oleh Amerika Serikat (AS) dan China untuk mencegah AI menimbulkan risiko besar bagi umat manusia.
Advertisement
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyebut kekhawatiran bahwa AI dapat lepas kendali sebagai sebuah "hoaks".
"Ini adalah persoalan yang, menurut saya, perlu kita duduk bersama dan bicarakan," kata Paus Leo kepada wartawan di dalam pesawat kepausan dalam perjalanan pulang dari Prancis, seperti dikutip Associated Press. "Kita tidak bisa hanya duduk diam dan berpura-pura tidak akan terjadi apa-apa."
Trump selama ini menjadi salah satu pendukung kuat pengembangan AI. Ia kerap mengatakan AS harus tetap unggul dari China dalam persaingan teknologi tersebut. Trump menyebut upaya membatasi perkembangan AI sebagai bagian dari "konspirasi" yang dilakukan lawan-lawan politiknya.
Sejumlah perusahaan besar di bidang AI, termasuk Anthropic, telah menyerukan agar laju pengembangan teknologi tersebut diperlambat sehingga sistem pengaman memiliki waktu untuk mengejar perkembangan AI yang berlangsung sangat cepat.
CEO Anthropic Dario Amodei, misalnya, memperingatkan bahwa dalam enam hingga 12 bulan ke depan, AI bisa memiliki kemampuan mengendalikan sekumpulan agen AI yang kemudian dapat mengambil alih seluruh internet.
Trump makan malam bersama Amodei pada Minggu (27/9). Menurut Gedung Putih, keduanya membahas kekhawatiran masyarakat AS terhadap teknologi tersebut serta cara mempertahankan posisi unggul AS.
"Kalau ada yang bertanya kepada saya, 'Apakah saya sudah sampai tahap panik?' Tidak. Saya tidak panik. Saya masih bisa tidur pada malam hari," tutur Paus Leo. "Namun, saya benar-benar merasa bahwa kekhawatiran yang disampaikan banyak pakar dan ahli AI harus ditanggapi serius."
"Saya tidak menganggap itu sebagai 'berita palsu', seperti yang dikatakan sebagian orang, mungkin demi memperoleh keuntungan finansial atau keuntungan lainnya."
"Tantangan Terbesar bagi Umat Manusia"
Dalam ensikliknya "Magnificent Humanity", Paus Leo menyerukan regulasi AI yang kuat sekaligus perlambatan dalam pengembangan teknologi tersebut. Paus Leo sendiri mengikuti perkembangan terbaru di bidang AI.
Meski berada di penghujung perjalanan empat hari yang melelahkan di Prancis, Paus Leo menyinggung laporan pada Senin sore tentang Nvidia yang mulai menerapkan sejumlah pengaman dalam teknologi AI. Ia mencatat bahwa perusahaan itu sebelumnya menolak campur tangan regulator dari luar dalam pengembangan AI.
Hanya beberapa hari setelah terpilih, Paus Leo sudah menyebut AI sebagai salah satu tantangan terbesar bagi umat manusia. Ia kemudian mengambil langkah yang tidak lazim dengan meluncurkan sendiri ensikliknya bersama salah satu pendiri Anthropic, Christopher Olah, dalam sebuah acara di Vatikan pada Mei.
Langkah itu merupakan bagian dari upaya Vatikan untuk mengajak pelaku industri teknologi di Silicon Valley membahas dampak AI terhadap manusia.
"Kita perlu terus mengundang para pemimpin politik, pemimpin perusahaan AI, organisasi sosial, dan berbagai asosiasi untuk duduk bersama, melihat apa yang sudah terjadi sekarang, serta membahas apa yang mungkin terjadi ke depan," katanya pada Senin.
"Kalau kita hanya mengatakan, ‘Oh, itu tidak akan terjadi’, lalu menutup mata terhadap persoalan tersebut, menurut saya itu bukan cara yang paling bertanggung jawab untuk menyikapinya."
Paus Leo dan Trump Berbeda Pandangan
Komentar Paus Leo pada Senin mengenai pentingnya menanggapi kekhawatiran terhadap keselamatan dan perkembangan AI menambah daftar isu yang memperlihatkan perbedaan pandangannya dengan Trump.
Keduanya sebelumnya saling menanggapi pada April terkait penolakan Paus Leo terhadap perang AS-Israel di Iran. Paus Leo juga pernah mengkritik kebijakan pengetatan migrasi pemerintahan Trump.
Trump bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di Washington pekan lalu. Dalam pertemuan itu, Xi mengatakan penting untuk memastikan AI selalu berada di bawah kendali manusia.
Trump, di sisi lain, lebih menekankan penggunaan istilah "superintelligence" atau superkecerdasan untuk teknologi tersebut dan menepis seruan agar AI diatur lebih ketat.
Meski demikian, kedua pemimpin sepakat menjajaki sebuah "mekanisme pemberitahuan" baru untuk menangani insiden AI yang berdampak terhadap keamanan nasional.
AI telah menjadi salah satu isu besar pada tahun pemilu di AS. Sejumlah perusahaan terbesar di negara itu berlomba membangun jaringan pusat data berskala nasional, sementara masyarakat dari kedua kubu politik semakin menyuarakan kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap lahan pertanian, pasokan air, dan tagihan listrik.
Paus Leo Optimistis Solusi Bisa Ditemukan
Kekhawatiran terhadap AI terus meningkat, baik di dalam maupun di luar industri teknologi. Berbagai laporan terus bermunculan mengenai sistem AI yang semakin canggih, mampu menyelesaikan persoalan di luar kemampuan manusia, tetapi pada saat yang sama juga berpotensi lepas kendali dan melakukan tindakan yang membahayakan.
Kekhawatiran itu semakin besar hingga CEO OpenAI, perusahaan di balik ChatGPT, mengatakan dalam wawancara dengan Fortune bahwa perusahaannya akan menunggu hingga tahun depan sebelum mulai menjual saham kepada investor di Wall Street karena saat ini masih memusatkan perhatian pada persoalan keselamatan.
Leo mengatakan, sejak menerbitkan ensikliknya pada Mei, Vatikan menerima banyak tanggapan dari orang-orang yang tertarik terlibat dalam pembahasan lebih luas mengenai AI.
"Sebuah komisi Vatikan kini bekerja untuk mendorong dialog, kajian, dan penelitian guna menemukan cara untuk memastikan AI tidak sampai pada titik menghancurkan umat manusia atau menyingkirkan manusia dari percakapan," kata Leo.
Paus Leo cukup optimistis bahwa solusi dapat ditemukan.
"Saya pikir ada cukup banyak orang yang benar-benar serius memikirkan persoalan ini dan bersedia membahasnya di luar soal perebutan kekuasaan atau pertanyaan tentang siapa yang akan mencapainya lebih dulu," imbuhnya.