Bisnis Pusat Perbelanjaan Berubah, Mal Kini Tak Cukup Andalkan Okupansi

Persaingan pusat perbelanjaan membuat pengelola mal tak cukup mengandalkan okupansi, tetapi juga harus menjaga tenant mix dan traffic.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 29 September 2026, 15:15 WIB
Keramaian aktivitas pengunjung dan tenant di Lippo Mall Kemang, Jakarta. (Ist)

Liputan6.com, Jakarta - Persaingan industri pusat perbelanjaan membuat pengelola mal harus terus beradaptasi agar tetap relevan bagi konsumen dan tenant. Tidak hanya mengejar tingkat okupansi, pengelola juga perlu memperbarui komposisi tenant, meningkatkan kualitas area, serta menghadirkan berbagai aktivitas untuk menjaga minat dan kunjungan masyarakat.

Strategi tersebut turut diterapkan Lippo Mall Kemang (LMK) yang mencatat tingkat okupansi di atas 95 persen hingga September 2026. Pertumbuhan okupansi sebesar 5 persen diperoleh melalui penambahan tenant baru, renewal, maupun ekspansi tenant. Pada periode yang sama, jumlah pengunjung Lippo Mall Kemang tumbuh 8 persen secara tahunan atau year-on-year (YoY).

Direktur Lippo Mall Kemang Dimas Kusuma mengatakan, pertumbuhan okupansi, komposisi tenant, dan jumlah pengunjung menjadi indikator penting untuk melihat relevansi sebuah pusat perbelanjaan terhadap kebutuhan konsumen dan tenant.

“Pertumbuhan occupancy, tenant mix, dan traffic menunjukkan bahwa Lippo Mall Kemang tetap relevan bagi konsumen dan tenant. Bagi kami, pertumbuhan bukan hanya soal angka, tetapi bagaimana kami terus menghadirkan tenancy mix dan pengalaman yang sesuai dengan kebutuhan konsumen,” ujar Dimas dikutip pada Selasa (29/9/2026).

Salah satu strategi yang dilakukan adalah memperbarui area mal. Renovasi pada area lantai dasar dilakukan dengan menghubungkan seluruh sisi mal untuk memperbaiki sirkulasi dan konektivitas antarkawasan. Pembaruan tersebut diharapkan membuat pengunjung dapat berpindah dari satu area ke area lainnya dengan lebih nyaman.

 

Strategi Jaga Traffic Pengunjung

Keramaian aktivitas pengunjung dan tenant di Lippo Mall Kemang, Jakarta. (Ist)

Dari sisi tenant mix, sejumlah tenant baru masuk, sementara penyewa yang sudah ada melakukan pembaruan konsep maupun ekspansi. Beberapa di antaranya adalah Uniqlo dengan tampilan baru, Harlan Coffee, Emilia Cucina Italiano, NOB, Udders Ice Cream, Blu Shaak Coffee, Terrace by Maxx Coffee, Chagee, Teazzi dengan konsep baru, dan Bluebee.

Dimas mengatakan, pembaruan tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang LMK setelah periode pascapandemi. Pengembangan tidak hanya dilakukan melalui komposisi tenant, tetapi juga renovasi dan pengembangan area mal secara bertahap.

“Selepas masa pascapandemi lalu, kami selalu melakukan pembaruan baik secara tenancy mix maupun renovasi area mal. Bahkan kami sudah akan melakukan inisiatif baru lagi yang akan dimulai akhir tahun 2026 ini, serta pada tahun 2027, hingga 2028 yang akan datang," jelas dia.

Selain pembaruan fisik dan komposisi tenant, aktivitas di dalam mal menjadi strategi lain untuk menjaga traffic pengunjung. Sepanjang 2026, Lippo Mall Kemang menggelar berbagai kegiatan, mulai dari konser dengan artis nasional dan internasional, kegiatan menonton bersama pertandingan Piala Dunia 2026, Crazy Burger Fest, final DBL 3-on-3, hingga Miners Fest bersama Danantara dan Mind.id.

Berbagai kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya Lippo Mall Kemang memperluas fungsi mal, dari sekadar tempat berbelanja menjadi ruang untuk hiburan, olahraga, kuliner, komunitas, hingga edukasi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya