Peringkat Indonesia Turun di Indeks Pariwisata Global 2026, Skor Naik 2,2 Persen

Indonesia berada di peringkat ke-23 dari 110 negara dalam Indeks Pariwisata Global 2026.

oleh Nurri Indah KholillahDiterbitkan 29 September 2026, 14:00 WIB
Ilustrasi destinasi wisata Labuan Bajo, wisata Indonesia yang paling menarik perhatian. (dok. Biro Komunikasi Publik Kemenpar)

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia menempati peringkat ke-23 dari 110 negara dalam Travel & Tourism Development Index (TTDI) 2026 yang dirilis World Economic Forum (WEF). Posisi tersebut turun satu tingkat dari TTDI 2024 yang menempatkan Indonesia di peringkat ke-22.

Meski peringkatnya menurun, skor Indonesia justru meningkat 2,2 persen dibanding dua tahun lalu. Melansir situs web WEF, Senin, 28 September 2026, persaingan antarnegara tidak hanya ditentukan oleh daya tarik destinasi.

Negara-negara juga memperkuat konektivitas, infrastruktur, layanan wisata, sumber daya alam dan budaya, serta keberlanjutan sektor pariwisata. Perubahan posisi Indonesia juga berlangsung ketika sebagian besar ekonomi dalam indeks mencatat perkembangan.

Sebanyak 101 dari 110 negara mengalami peningkatan skor antara 2024 dan 2026. Artinya, kenaikan skor Indonesia terjadi bersamaan dengan perbaikan berbagai faktor pendukung pariwisata di banyak negara.

TTDI tidak secara langsung mengukur jumlah kunjungan wisatawan, pengeluaran wisatawan, maupun pendapatan pariwisata. Indeks ini menilai kondisi dan kebijakan yang menjadi fondasi bagi perkembangan sektor perjalanan dan wisata yang berkelanjutan, serta tangguh.

Dalam TTDI 2026, penilaian mencakup 17 pilar yang terbagi dalam lima dimensi. Kelima dimensi tersebut meliputi lingkungan pendukung, kebijakan dan kondisi pendukung pariwisata, infrastruktur dan layanan, sumber daya pariwisata, serta keberlanjutan pariwisata.

Indonesia termasuk dalam 10 ekonomi pariwisata berkembang utama yang menjadi perhatian dalam list TTDI 2026. Selain Indonesia, kelompok tersebut mencakup China, India, Malaysia, Thailand, Vietnam, Filipina, Türkiye, Meksiko, dan Brasil.

Masuk Jajaran Ekonomi Pariwisata Berkembang Utama

Agresifnya Filipina Tingkatkan Kunjungan Wisata dari Indonesia, dari Pantai Ramah Muslim hingga Makanan Halal (dok. Matt Boitor/Unsplash)

Secara bersama-sama, 10 negara tersebut menyumbang lebih dari 28 persen terhadap PDB langsung sektor perjalanan dan pariwisata global. Kontribusinya diproyeksikan meningkat menjadi 35 persen pada 2035, seiring dengan pertumbuhan sektor pariwisata dan peningkatan permintaan perjalanan internasional.

Menurut WEF, kelompok ekonomi pariwisata berkembang ini menunjukkan pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan keseluruhan ekonomi yang masuk dalam indeks. Sejak 2019, rata-rata skor TTDI mereka meningkat 4,7 persen.

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan rata-rata seluruh ekonomi dalam indeks yang mencapai 2,9 persen, serta 1,9 persen pada 20 ekonomi dengan skor tertinggi.

Perkembangan serupa terlihat pada periode 2024-2026. Kelompok tersebut mencatat peningkatan lebih cepat dibandingkan 100 ekonomi lainnya pada 15 dari 17 pilar yang digunakan dalam penilaian TTDI 2026.

Tantangan Pengembangan Pariwisata

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, persentase penduduk miskin di Indonesia pada September 2022 sebesar 9,57 persen atau meningkat 0,03 persen poin dibandingkan pada Maret 2022.

Meski menunjukkan kemajuan, 10 negara dengan ekonomi pariwisata berkembang masih menghadapi sejumlah kesenjangan dengan negara-negara yang menempati posisi teratas dalam TTDI.

WEF mencatat Layanan dan Infrastruktur Pariwisata sebagai salah satu kesenjangan utama, terutama terkait kebutuhan investasi pada akomodasi, layanan bagi wisatawan, dan infrastruktur pendukung.

Tantangan juga terlihat pada Lingkungan Bisnis serta Sumber Daya Manusia dan Pasar Tenaga Kerja. Aspek tersebut mencakup akses terhadap pembiayaan, hambatan regulasi, serta kapasitas tenaga kerja yang mendukung sektor pariwisata negara.

Keberlanjutan Lingkungan turut menjadi perhatian. Kekayaan sumber daya alam yang menjadi daya tarik wisata perlu dikelola secara berkelanjutan agar tetap mendukung aktivitas pariwisata dalam jangka panjang.

Pertumbuhan Pariwisata Terkuat

Bali, Indonesia masuk ke dalam destinasi wisata untuk liburan tahun baru terpopuler di Asia Pasifik

Kawasan Asia-Pasifik mencatat perkembangan paling kuat dalam kondisi pengembangan sektor pariwisata antara 2024 dan 2026. Rata-rata skor kawasan tersebut meningkat 3,6 persen, menjadi pertumbuhan tertinggi dibandingkan kawasan lain dalam indeks.

Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA) menyusul dengan kenaikan 2,5 persen. Eropa dan Eurasia tumbuh 1,8 persen, sedangkan Amerika meningkat 1,6 persen.

Perkembangan Asia-Pasifik dalam beberapa tahun terakhir juga menunjukkan percepatan. WEF mencatat pertumbuhan kawasan sejak 2024 membantu mempersempit kesenjangan dengan Eropa dan Eurasia yang masih menjadi kawasan dengan kinerja keseluruhan tertinggi.

Peningkatan tersebut terutama didorong oleh sumber daya budaya, infrastruktur transportasi udara, serta sumber daya nonwisata. Ketiga aspek itu mencerminkan penguatan konektivitas dan meningkatnya kapasitas kawasan dalam mendukung perjalanan wisatawan serta aktivitas perjalanan untuk kebutuhan lainnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya